Pasar Bebas Tak Cocok untuk Indonesia

Rabu, 11 Mei 2016 - 08:28 WIB
Pasar Bebas Tak Cocok...
Pasar Bebas Tak Cocok untuk Indonesia
A A A
SURABAYA - Ketua Umum Partai Perindo Hary Tanoesoedibjo (HT) mengatakan seharusnya Indonesia menerapkan ekonomi kerakyatan, dimana ada perlakukan khusus bagi masyarakat ekonomi lemah yang mendorong mereka untuk bertumbuh. Dia juga menilai pasar bebas bebas tidak cocok dengan Indonesia, lantaran mayoritas masyarakat masih belum mapan.

“Untuk yang belum mapan kita harus bantu supaya bisa tumbuh lebih cepat. Sehingga mereka cepat naik kelas. Ini perjuangan Partai Perindo yang paling utama,” katanya saat melantik 163 pengurus DPRt Partai Perindo se-Kota Surabaya di Surabaya, Jawa Timur.

HT menerangkan bila tidak segera mengganti strategi, maka kesenjangan di Tanah Air akan makin lebar dan negara tidak akan mengalami kemajuan. Menurutnya dalam pasar bebas hanya satu aturan berlaku untuk semua. Artinya yang lemah akan langsung berhadapan dengan yang kuat dalam hal finansial, pengalaman dan lain sebagainya.

Akibatnya yang lemah akan semakin tertinggal serta kesenjangan kian melebar. HT mencontohkan bagaimana China menerapkan aturan yang berbeda untuk masyarakat yang belum mapan. Selama 30 tahun China menerapkan hal itu, dan hasilnua kini Negeri Panda -julukan China- itu menjadi negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia.

Bahkan orang yang memiliki kekayaan sebesar USD1 juta ke atas paling banyak di China. Sebaliknya di India yang sebelumnya dijajah Inggris dan menerapkan pasar bebas menyebabkan distribusi ekonomi di India tidak merata. Dimana yang kaya menjadi sangat kaya, tapi yang miskin sangat banyak jumlahnya dan kesenjangan sosial sangat lebar.

(Baca Juga: HT: Ekonomi Kerakyatan Solusi Tepat Bangun Indonesia)

Pria asal Jawa Timur ini juga menuturkan Indonesia harus maju, karena dengan begitu negara mampu membantu masyarakat yang tidak mampu. Sehingga masyarakat yang lemah secara financial juga tetap bisa mendapatkan pendidikan yang bagus tanpa biaya yang mahal atau juga bisa gratis hingga perguruan tinggi, begitu juga kesehatan yang layak, tempat tinggal dan kebutuhan lainnya.

“Pendidikan itu penting, Indonesia dengan penduduk 250 juta jiwa, seharusnya produktivitasnya tinggi. Namun Indonesia produktivitasnya rendah. Kalau ekonomi kerakyatan di lakukan akan mempercepat Indonesia menjadi negara maju,” pungkasnya.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
HT Tegaskan Sulsel dan...
HT Tegaskan Sulsel dan Sumut Harus Jadi Lumbung Suara Partai Perindo
Apresiasi Natal Nasional...
Apresiasi Natal Nasional 2023 di Surabaya Sukses, HT: Ramai Sekali
Hary Tanoesoedibjo:...
Hary Tanoesoedibjo: Ekonomi RI Akan Segera Pulih
Harapan Hary Tanoe di...
Harapan Hary Tanoe di HUT Soulyu
Bangkitkan Ekonomi Masyarakat,...
Bangkitkan Ekonomi Masyarakat, HT Serahkan Bantuan Gerobak Perindo di Pontianak
Hary Tanoesoedibjo:...
Hary Tanoesoedibjo: MNC Group Dukung Pemulihan Ekonomi RI
Berita Terkini
Tren Mobilitas Ramah...
Tren Mobilitas Ramah Lingkungan Meningkat, Pembiayaan Kendaraan Listrik MUF Melesat
5 jam yang lalu
Rupiah Amburadul Rp18...
Rupiah Amburadul Rp18 Ribu, Produk Rumah Tangga Unilever Bakal Naik Harga di Kuartal II 2026
6 jam yang lalu
Rupiah Terkapar, Dampaknya...
Rupiah Terkapar, Dampaknya Mulai Terasa ke Sektor Industri Nasional
6 jam yang lalu
PLN EPI, PLN Puslitbang...
PLN EPI, PLN Puslitbang dan ITERA Kolaborasi Kembangkan Tanaman Energi
7 jam yang lalu
Pelindo Sinergi Lokaseva...
Pelindo Sinergi Lokaseva Catat Kinerja Operasional Positif di Awal 2026
7 jam yang lalu
BRI Life Ungkap Peran...
BRI Life Ungkap Peran Mitra Stategis Selama 4 Dekade
8 jam yang lalu
Infografis
Skuad Timnas Spanyol...
Skuad Timnas Spanyol di Piala Dunia 2026, Tak Ada Pemain Real Madrid
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved