Rizal Ramli: Terlalu Cetek Blok Masela Hanya Soal Darat-Laut

Rabu, 11 Mei 2016 - 17:32 WIB
Rizal Ramli: Terlalu...
Rizal Ramli: Terlalu Cetek Blok Masela Hanya Soal Darat-Laut
A A A
JAKARTA - Menteri Koordinator (Menko) bidang Kemaritiman Rizal Ramli mengungkapkan, perdebatan antara dirinya dengan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said terkait skema pengembangan kilang di Blok Masela, Maluku, sejatinya bukan karena ingin mempertahankan pendapatnya agar kilang di Blok Masela dibangun di darat.

Dia mengatakan, keteguhannya agar kilang di Blok Masela bisa dibangun di darat, dalam rangka mengubah paradigma pengelolaan sumber daya alam (SDA) di Tanah Air. Pasalnya, selama ini Indonesia hanya memanfaatkan SDA yang berlimpah di Indonesia untuk ekspor produk mentah semata.

"‎Jadi, yang kita inginkan dari awal adalah perubahan paradigma pengelolaan SDA. Jadi jangan disederhanakan oleh teman-teman media seolah hanya debat darat dan laut. Cetek amat. Inilah esensinya‎," katanya di Gedung BPPT, Jakarta, Rabu (11/5/2016).

Mantan Menko bidang Perekonomian ini menuturkan, ‎selama ini banyak yang salah kaprah bahwa persoalan Lapangan Abadi tersebut hanya soal perbedaan darat dan laut semata. Padahal, dirinya hanya ingin memperbaiki taraf hidup masyarakat Indonesia yang belum banyak berubah sejak 70 tahun merdeka.

Pada 1960-an akhir, kata Rizal, pendapatan per kapita masyarakat di Asia hanya USD100 per kapita. Bahkan, China hanya USD50 per kapita. Namun, dalam waktu 50 tahun negara-negara tersebut melesat pendapatan per kapitanya.

‎"Korea melesat ke USD35.000 per kapita, yang lain melesat USD15.000 per kapita. Kita terakhir hanya USD3.500 per kapita. Lho Kok bisa. Dalam waktu 50 tahun ada negara yang terbang masuk kategori negara maju, ada negara yang masih tetap. Kayak kita, lumayan tapi tidak luar biasa," imbuh dia.

Sebab itu,‎ dia ingin mengubah paradigma masyarakat Indonesia dalam mengelola sumber daya alam di Tanah Air dengan membangun industri turunannya. Sehingga, Indonesia akan mendapatkan nilai tambah dan pendapatan masyarakat bisa terkerek.

‎"Saya minta teman-teman media tolong diajarkan, masyarakat itu tahunya gas saja. Padahal, kalau ada petrokimia itu besar sekali. Thailand jadi maju, jadi makmur itu sepertiga GDP-nya dari petrokimia. Inilah arah kemana kita ingin pergi," tandasnya.
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Minim Pengalaman, Kemampuan...
Minim Pengalaman, Kemampuan Inpex Kembangkan Blok Masela Diragukan
Proses Akuisisi Rampung,...
Proses Akuisisi Rampung, Pertamina dan Petronas Siap Sedot Gas di Blok Masela
Shell Akhirnya Lepas...
Shell Akhirnya Lepas Blok Masela ke Pertamina Jauh di Bawah Rp14,8 Triliun
Shell Cabut dari Proyek...
Shell Cabut dari Proyek Blok Masela, Inpex Resmi Cari Mitra Baru
Proyek Blok Masela Ikut...
Proyek Blok Masela Ikut Terganggu Imbas Covid-19
Shell Belum Mundur dari...
Shell Belum Mundur dari Blok Masella, Masih Hitung-hitungan
Berita Terkini
Tunggu Penerbitan PP,...
Tunggu Penerbitan PP, Pemerintah Godok Aturan Enam KEK Baru
7 menit yang lalu
Di Bawah Naungan Danantara,...
Di Bawah Naungan Danantara, Pegadaian Siap Akselerasi Ekosistem Bank Emas ke Kancah Internasional
42 menit yang lalu
JPMorgan Peringatkan...
JPMorgan Peringatkan Risiko Baru MicroStrategy
47 menit yang lalu
BPJT dan Roatex Matangkan...
BPJT dan Roatex Matangkan Pra Uji Coba Sistem Tol Tanpa Setop
1 jam yang lalu
UU P2SK Momentum Penting...
UU P2SK Momentum Penting Perkuat Kedaulatan Ekosistem Kripto Indonesia
1 jam yang lalu
Tips MotionTrade: Strategi...
Tips MotionTrade: Strategi Trading Waran Terstruktur
1 jam yang lalu
Infografis
Kim Jong-un Perintahkan...
Kim Jong-un Perintahkan Angkatan Laut Korut Dipersenjatai Nuklir
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved