Gencar Jajaki FTA, Pemerintah Tak Takut Pemain Lokal Tergerus
Rabu, 01 Juni 2016 - 14:54 WIB
Gencar Jajaki FTA, Pemerintah Tak Takut Pemain Lokal Tergerus
A
A
A
JAKARTA - Pemerintah dalam hal ini Kementerian Perdagangan (Kemendag) sedang gencar menjajaki kerja sama perdagangan bebas (free trade agreement/FTA) dengan negara lain. Meski demikian, pemerintah tak khawatir pemain dan pengusaha lokal akan tergerus dengan masuknya banyak pengusaha asing di Tanah Air.
Menteri Perdagangan (Mendag) Thomas Trikasih Lembong mengakui, jika Indonesia membuka diri dengan negara lain maka persaingan akan masuk. Namun, hal tersebut justru akan memacu pemain lokal meningkatkan kualitas, produktivitas dan efisiensi.
"Dengan membuka diri, maka akan ada kompetisi. Itu akan mendongkrak utilitas, produksi, dan pelayanan," katanya di Hotel Mandarin Oriental, Jakarta, Rabu (1/6/2016).
Dia mencontohkan, beberapa tahun lalu Indonesia hanya memiliki tiga maskapai penerbangan (airlines), di antaranya dua milik pemerintah dan satu milik swasta. Kala itu, harga tiket pesawat sangat tinggi dan masyarakat tidak memiliki banyak pilihan untuk menggunakan pesawat terbang.
Pemerintah akhirnya melunak dan membuka kesempatan swasta masuk di industri penerbangan di Tanah Air. Akhirnya, 70 maskapai penerbangan berkompetisi di Indonesia, harga tiket pesawat pun semakin turun dan rute perjalanan semakin banyak. "Kompetisi sangat sengit. Bahkan, Garuda bangkrut dua kali," imbuh dia.
Namun setelah itu, sambung dia, Garuda melakukan pembenahan dan perbaikan di internal perseroan. Garuda dipaksa bersaing dan melakukan efisiensi. "Sekarang lihat, Garuda menjadi salah satu dari tujuh airlines terbaik dunia," tandasnya.
Menteri Perdagangan (Mendag) Thomas Trikasih Lembong mengakui, jika Indonesia membuka diri dengan negara lain maka persaingan akan masuk. Namun, hal tersebut justru akan memacu pemain lokal meningkatkan kualitas, produktivitas dan efisiensi.
"Dengan membuka diri, maka akan ada kompetisi. Itu akan mendongkrak utilitas, produksi, dan pelayanan," katanya di Hotel Mandarin Oriental, Jakarta, Rabu (1/6/2016).
Dia mencontohkan, beberapa tahun lalu Indonesia hanya memiliki tiga maskapai penerbangan (airlines), di antaranya dua milik pemerintah dan satu milik swasta. Kala itu, harga tiket pesawat sangat tinggi dan masyarakat tidak memiliki banyak pilihan untuk menggunakan pesawat terbang.
Pemerintah akhirnya melunak dan membuka kesempatan swasta masuk di industri penerbangan di Tanah Air. Akhirnya, 70 maskapai penerbangan berkompetisi di Indonesia, harga tiket pesawat pun semakin turun dan rute perjalanan semakin banyak. "Kompetisi sangat sengit. Bahkan, Garuda bangkrut dua kali," imbuh dia.
Namun setelah itu, sambung dia, Garuda melakukan pembenahan dan perbaikan di internal perseroan. Garuda dipaksa bersaing dan melakukan efisiensi. "Sekarang lihat, Garuda menjadi salah satu dari tujuh airlines terbaik dunia," tandasnya.
(izz)
Lihat Juga :