USD Defensif, Rupiah Dibuka Makin Bersinar
Kamis, 16 Juni 2016 - 10:17 WIB
USD Defensif, Rupiah Dibuka Makin Bersinar
A
A
A
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan hari ini dibuka menguat di tengah desenfisnya USD terhadap beberapa mata uang dunia lainnya.
Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI, rupiah dibuka di level Rp13.327/USD. Posisi ini tercatat semakin menguat atau naik 71 poin dari posisi sebelumnya di level Rp13.398/USD.
Posisi rupiah terhadap USD berdasarkan data Yahoo Finance dibuka di level Rp13.333/USD dengan kisaran Rp13.320-Rp13.345/USD atau menguat dibanding penutupan kemarin di level Rp13.360/USD. Namun, pada pukul 10.00 WIB bergerak ke level Rp13.340/USD.
Berdasarkan data Sindonews bersumber dari Limas, rupiah pada pukul 10.00 WIB ada pada level Rp13.342/USD atau semakin menguat dibanding penutupan sebelumnya di level Rp13.362/USD.
Menurut data Bloomberg, rupiah dibuka di posisi Rp13.314/USD pagi ini dengan kisaran harian Rp13.310-Rp13.359/USD. Namun, pada pukul 10.00 WIB rupiah bergerak ke level Rp13.334/USD atau masih lebih baik dibanding penutupan kemarin di level Rp13.355/USD.
Dilansir Reuters, Kamis (16/6/2016), USD tercatat defensif setelah Bank Sentral AS (Federal Reserve/The Fed) menurunkan perkiraan pertumbuhan ekonomi dan menurunkan proyeksi kenaikan suku bunga.
Euro terhadap USD menguat ke level 1,12635 dari posisi terendah pekan ini di bawah 1,1200. Yen terhaap USD juga menguat tertinggi dalam 20 bulan ke level 105,41 sebelum kembali melangkah ke posisi stabil sekitar level 105,84.
Indeks USD terhadap enam mata uang utama bergeser ke level 94,583 dari posisi tinggi 95,043 sebelum pengumuman kebijakan The Fed. Di mana, The Fed mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat akan mengganggu laju pengetatan kebijakan moneter pada tahun-tahun mendatang.
Poundsterling terhadap USD kembali naik ke level 1,4198, atau sekitar 1% di atas dari posisi terendah dalam dua bulan di lebel 1,4091. Dolar Australia terhadap USD tercatat mendatar di level 0,7458.
Selain itu, dolar Selandia Baru terhadap USD naik 0,5% menjadi 0,7076 mendekati posisi tertinggi dalam satu tahun di level 0,7148.
Proyeksi anggota The Fed menunjukkan mayoritas dari mereka masih melihat dua kenaikan suku bunga tahun ini. Namun, enam dari mereka sekarang hanya melihat satu kenaikan suku bunga, dibanding dengan hanya satu anggota pada Maret.
Ketua The Fed Janet Yellen tidak jelas apakah kenaikan suku bunga bisa terjadi pada pertemuan kebijakan berikutnya pada akhir Juli, namun investor memutuskan kurangnya petunjuk yang jelas berarti ada kenaikan bulan depan, dengan tingkat bunga berjangka efektif naik bulan depan.
"Meskipun proyeksi The Fed akan terjadi kenaikan suku bunga dua kali, namun kenaikan suku bunga pada Juli sangat tidak mungkin, yang membuatnya dipertanyakan apakah Fed dapat menaikkan suku dua kali dalam pertemuan kebijakan yang tinggal tiga kali lagi hingga akhir tahun," kata Daisuke Uno, kepala strategi di Sumitomo Mitsui Bank.
Sementara, menyoroti pertumbuhan ekonomi AS yang lesu, produksi manufaktur AS secara tidak terduga turun 0,4% pada Mei karena kendaraan bermotor dan suku cadang produksi mencatat penurunan terbesar dalam hampir 2,5 tahun.
Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI, rupiah dibuka di level Rp13.327/USD. Posisi ini tercatat semakin menguat atau naik 71 poin dari posisi sebelumnya di level Rp13.398/USD.
Posisi rupiah terhadap USD berdasarkan data Yahoo Finance dibuka di level Rp13.333/USD dengan kisaran Rp13.320-Rp13.345/USD atau menguat dibanding penutupan kemarin di level Rp13.360/USD. Namun, pada pukul 10.00 WIB bergerak ke level Rp13.340/USD.
Berdasarkan data Sindonews bersumber dari Limas, rupiah pada pukul 10.00 WIB ada pada level Rp13.342/USD atau semakin menguat dibanding penutupan sebelumnya di level Rp13.362/USD.
Menurut data Bloomberg, rupiah dibuka di posisi Rp13.314/USD pagi ini dengan kisaran harian Rp13.310-Rp13.359/USD. Namun, pada pukul 10.00 WIB rupiah bergerak ke level Rp13.334/USD atau masih lebih baik dibanding penutupan kemarin di level Rp13.355/USD.
Dilansir Reuters, Kamis (16/6/2016), USD tercatat defensif setelah Bank Sentral AS (Federal Reserve/The Fed) menurunkan perkiraan pertumbuhan ekonomi dan menurunkan proyeksi kenaikan suku bunga.
Euro terhadap USD menguat ke level 1,12635 dari posisi terendah pekan ini di bawah 1,1200. Yen terhaap USD juga menguat tertinggi dalam 20 bulan ke level 105,41 sebelum kembali melangkah ke posisi stabil sekitar level 105,84.
Indeks USD terhadap enam mata uang utama bergeser ke level 94,583 dari posisi tinggi 95,043 sebelum pengumuman kebijakan The Fed. Di mana, The Fed mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat akan mengganggu laju pengetatan kebijakan moneter pada tahun-tahun mendatang.
Poundsterling terhadap USD kembali naik ke level 1,4198, atau sekitar 1% di atas dari posisi terendah dalam dua bulan di lebel 1,4091. Dolar Australia terhadap USD tercatat mendatar di level 0,7458.
Selain itu, dolar Selandia Baru terhadap USD naik 0,5% menjadi 0,7076 mendekati posisi tertinggi dalam satu tahun di level 0,7148.
Proyeksi anggota The Fed menunjukkan mayoritas dari mereka masih melihat dua kenaikan suku bunga tahun ini. Namun, enam dari mereka sekarang hanya melihat satu kenaikan suku bunga, dibanding dengan hanya satu anggota pada Maret.
Ketua The Fed Janet Yellen tidak jelas apakah kenaikan suku bunga bisa terjadi pada pertemuan kebijakan berikutnya pada akhir Juli, namun investor memutuskan kurangnya petunjuk yang jelas berarti ada kenaikan bulan depan, dengan tingkat bunga berjangka efektif naik bulan depan.
"Meskipun proyeksi The Fed akan terjadi kenaikan suku bunga dua kali, namun kenaikan suku bunga pada Juli sangat tidak mungkin, yang membuatnya dipertanyakan apakah Fed dapat menaikkan suku dua kali dalam pertemuan kebijakan yang tinggal tiga kali lagi hingga akhir tahun," kata Daisuke Uno, kepala strategi di Sumitomo Mitsui Bank.
Sementara, menyoroti pertumbuhan ekonomi AS yang lesu, produksi manufaktur AS secara tidak terduga turun 0,4% pada Mei karena kendaraan bermotor dan suku cadang produksi mencatat penurunan terbesar dalam hampir 2,5 tahun.
(izz)