15 Tahun Berjaya, Industri Manufaktur RI Kini Kalah dari Vietnam

loading...
15 Tahun Berjaya, Industri Manufaktur RI Kini Kalah dari Vietnam
15 Tahun Berjaya, Industri Manufaktur RI Kini Kalah dari Vietnam
JAKARTA - World Bank (Bank Dunia) mengungkapkan, sejak 15 tahun lalu atau sekitar era 1990-an, Indonesia pada dasarnya memiliki keunggulan di sektor manufaktur. Bahkan, kejayaan Indonesia dalam sektor tersebut menjadikan Indonesia bisa menguasai 4,6% industri manufaktur dunia.

(Baca Juga: Bank Dunia Beri Saran RI Cara Capai Pertumbuhan Ekonomi 5%)

Kepala Perwakilan Bank Dunia di Indonesia Rodrigo Chaves mengatakan, ‎industri manufaktur Indonesia kala itu tumbuh 11% per tahun. Sayangnya, kejayaan tersebut tidak dijaga dengan baik hingga kini perlahan kejayaan tersebut mulai menurun dan industri manufaktur di Tanah Air hanya tummbuh 4% per tahun.

"‎Sektor manufaktur serta jasa di negara ini dapat memberikan pekerjaan yang mebutuhkan keterampilan dan berupah tinggi. Indonesia sendiri pada 1990-an saat itu kuat dalam manufaktur. Saat itu Indonesia melihat manufaktur mereka tumbuh 11% per tahun. Sayangnya, saat ini sektor manufaktur jauh lebih kecil sekitar 4% per tahun," katanya di Gedung Kemendag, Jakarta, Senin (20/6/2016).



(Baca Juga: Menperin Redam Ketakutan Deindustrialisasi di Tanah Air)

Alih-alih mengalami pertumbuhan, sambung dia industri manufaktur di Indonesia justru semakin tertinggal dibanding negara lain. Bahkan, negara seperti Vietnam yang sebelumnya tidak memiliki industri manufaktur sekarang justru mengalami pertumbuhan yang lebih tinggi dalam sektor manufaktur.

"‎Negara ini (Indonesia) alih-alih tumbuh di manufaktur, justru tertinggal dibanding negara lain yang belum punya manufaktur seperti Vietnam. Saat ini sektor manufaktur Vietnam jauh lebih besar dari Indonesia," imbuh dia.



Menurutnya, di tengah kondisi perekonomian global yang belum membaik, Indonesia sebaiknya tidak lagi mengandalkan kekayaan sumber daya alam (SDA) untuk meningkatkan pertumbuhan ekonominya. Indonesia perlu melakukan diversifikasi terhadap ekonominya, dengan tidak mengandalkan sektor komoditas yang harganya kian hari semakin menurun.

Salah satu yang bisa dipertimbangkan, tambahnya, adalah dengan membangkitkan kembali kejayaan sektor manufaktur Indonesia. Tanah Air membutuhkan aksi untuk merevitalisasi sektor manufaktur untuk bertahan di tengah gejolak perekonomian global.

"‎Indo lebih baik memilih diversifikasi terhadap ekonomi mereka dan tidak tergantung pada komoditas. Negara ini memiliki pilihan dan ada kesempatan. Kita bisa memberikan saran bagaimana negara ini bisa revitalisasi sektor (manufaktur) tersebut dengan meningkatkan produktivitas sumber daya alam (SDM), dan mengurangi biaya logistik," tandasnya.
(akr)
TULIS KOMENTAR ANDA!
preload video
Top