Rupiah Dibuka Menyusut di Tengah Kebangkitan USD

Rabu, 22 Juni 2016 - 10:42 WIB
Rupiah Dibuka Menyusut...
Rupiah Dibuka Menyusut di Tengah Kebangkitan USD
A A A
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan hari ini dibuka tidak berdaya, meski masih berada pada kisaran level Rp13.200/USD. Penyusutan mata uang Garuda terjadi di tengah kebangkitan USD terdorong komentar Gubernur Bank Sentral Amerika Serikat atau The Fed Janet Yellen di depan kongres.

Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI, rupiah dibuka pada level Rp13.298/USD. Posisi ini tercatat semakin melemah atau berkurang 12 poin dari posisi sebelumnya Rp13.286/USD.

Posisi rupiah terhadap USD berdasarkan data Yahoo Finance justru dibuka menguat pada posisi Rp13.273/USD dengan kisaran Rp13.273-Rp13.305/USD. Mata uang Garuda terlihat membaik dibanding penutupan kemarin di level Rp13.280/USD.

Berdasarkan data Sindonews bersumber dari Limas, rupiah pada pukul 10.00 WIB ada pada level Rp13.297/USD atau semakin tidak berdaya dibanding penutupan sebelumnya di posisi Rp13.277/USD.

Menurut data Bloomberg, rupiah pagi ini dibuka di posisi Rp13.279/USD dengan kisaran harian Rp13.274-Rp13.308/USD. Selanjutnya pada pukul 10.13 WIB rupiah bergerak stagnan ke level Rp13.283/USD dibanding kemarin di level Rp13.283/USD.

Dilansir Reuters hari ini, USD mencetak keuntungan pada awal perdagangan hari ini setelah Gubernur The Fed Janet Yellen membicarakan peluang peningkatan secara bertahap suku bunga AS atau Fed rate. Di sisi lain poundsterling tercatat reli setelah kehilangan momentum jelang referendum Brexit alias rencana Inggris keluar dari Uni Eropa (UE).

Greenback sempat melesat terhadap yen pada level 105.00, ini pertama kalinya dalam hampir satu pekan dan pada berakhir di posisi 104.79. Euro tercatat melemah terhadap USD menjadi 1.1255. Indeks USD kembali di atas 94.000, mencetak rebound dibandingkan dua pekan lalu.

Pada pidato di depan kongres, Yellen menyatakan optimis tentang ekonomi AS dan kembali memberikan sinyal secara bertahap soal kenaikan Fed rate. "Yellen tampaknya sedikit lebih berhati-hati daripada sebelumnya, tapi secara keseluruhan penilaian kami the Fed tetap tidak berubah," ucap Strategi Mata Uang National Australia Bank Rodrigo Catril.

"Kami masih mengharapkan fed rate akan dua kali naik tahun ini, meskipun risikonya jelas kami tidak akan mendapatkan lebih dari satu," tutupnya.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Rupiah Ditutup Melemah...
Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.409 per Dolar AS
Rupiah Terlemah Sepanjang...
Rupiah Terlemah Sepanjang Sejarah
Rupiah Ditutup Melemah...
Rupiah Ditutup Melemah ke Level Rp15.526
Wacana Lama Hidup Lagi,...
Wacana Lama Hidup Lagi, Ini Dua Sisi Pentingnya Redenominasi Rupiah
Bikin Gaduh Karena Keliru...
Bikin Gaduh Karena Keliru Tampilkan Kurs Rupiah, Pengamat: Google Harus Tanggung Jawab!
Google Keliru Tampilkan...
Google Keliru Tampilkan Kurs Rupiah, Pengamat: Timbulkan Kegaduhan!
Berita Terkini
HUT ke-54, Petrokimia...
HUT ke-54, Petrokimia Gresik Fokus Transformasi dan Keberlanjutan
46 menit yang lalu
Pemerintah Bakal Bangun...
Pemerintah Bakal Bangun Pusat Finansial di Bali, PP Ditargetkan Rampung Agustus
58 menit yang lalu
RANS Resmi Jadi Perusahaan...
RANS Resmi Jadi Perusahaan Terbuka, Investor Sambut Positif Debut di Bursa
3 jam yang lalu
Harga Emas Antam Hari...
Harga Emas Antam Hari Ini Naik Rp5.000 per Gram, Buyback Jadi Berapa?
5 jam yang lalu
Easycash, OJK dan AFTECH...
Easycash, OJK dan AFTECH Perkuat Literasi Keuangan Generasi Muda di Bali
6 jam yang lalu
IHSG Sepekan Naik 0,83%,...
IHSG Sepekan Naik 0,83%, Kapitalisasi Pasar Tembus Rp10.340 Triliun
6 jam yang lalu
Infografis
10 Negara dengan Harga...
10 Negara dengan Harga Bensin Termurah di Dunia, Libya Cuma Rp427 per Liter
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved