Candu Pokemon

Senin, 18 Juli 2016 - 06:06 WIB
Candu Pokemon
Candu Pokemon
A A A
YUSWOHADY
Managing Partner, Inventure www.yuswohady.com @yuswohady

POKEMON
Go menjadi hits di seluruh dunia hanya beberapa hari sejak diluncurkan. Viralnya begitu hebat menyebar sehingga siapa pun dari anak-anak hingga kakek-kakek mengenalnya dan sontak berburu mencobanya.

Dalam beberapa minggu ke depan kita akan menyaksikan fenomena kecanduan Pokemon Go di berbagai pelosok dunia. Seluruh dunia akan berpacu mengoleksi sebanyak mungkin Pokemon seperti bunyi slogannya: Gotta Catch Gotta Catch Em All.

Pokemon Go memiliki pengalaman unik dan baru tak seperti game-game sebelumnya. Pada game-game terdahulu, si pengguna bisa tamat berlevel-level hanya dengan berdiam diri selama berjam-jam.

Di Pokemon Go si pengguna diharuskan bertualang dan berjalan-jalan di dunia nyata untuk mencari Pokemon. Lokasi keberadaan Pokemon pun bergantung pada bentuk asli lingkungan pengguna. Ada Pokemon jenis air, api, angin, pohon, hantu, dan sebagainya. Inilah sensasi yang menjadi daya tarik utama Pokemon Go. Kenapa Pokemon Go demikian hype dan memicu kecanduan seluruh penduduk bumi? Berikut ini analisis saya.

Brand New AR Experience

Elemen utama kehebohan Pokemon Go adalah penggunaan augmented reality (AR) untuk menghasilkan pengalaman bermain yang tak ada tandingannya. AR memungkinkan realitas virtual (dalam hal ini karakter digital Pokemon) disisipkan (superimpose) ke dalam realitas sesungguhnya di sekitar kita.

Dengan imbuhan teknologi geolokasi kita bisa menikmati sensasi berburu dan mengoleksi karakter digital yang bisa kita dapat di tempat-tempat nyata di sekitar kita seperti kuburan, masjid, atau taman kota (Pokestops). Kehebohan berburu dan mengoleksi Pokemon ini akan menghasilkan pengalaman yang kian dalam (deeper experience) ketika kita bisa membagi pengalaman tersebut ke teman dan komunitas melalui Twitter, Facebook, Instagram, atau blog.

Studi yang dilakukan oleh gabungan psikolog dan pakar komputer tahun 2013 lalu menghasilkan simpulan menarik bahwa ke depan AR akan menjadi highly addictive alias menimbulkan efek kecanduan bagi penggunanya. ”This effect can cause a high degree of surprise and curiosity in users,” simpul studi itu.

The Power of Gamification

Seperti umumnya game lain, Pokemon Go diciptakan untuk mengeksploitasi bagian otak kita yang sensitif dengan kenikmatan. Membunuh monster, mendapatkan poin, menaiki level capaian, mengoleksi barang langka, memenangi pertarungan, atau menyalip lawan dalam balapan menghasilkan kepuasan yang tak ada habisnya.

Inilah esensi dari gamification yang sering kali mengarahkan penggunanya terperosok pada kondisi kecanduan. Dalam kasus Pokemon Go, keberhasilan berburu, mengoleksi, melatih Pokemaon dan kemampuan naik level, misalnya, bisa menciptakan sensasi pencapaian (sense of accomplishment), kebanggaan (sense of pride), kemajuan (progression), dan aktualisasi diri (self actualization ) yang menjadikan si pengguna ingin melakukannya berulang-ulang.

New Sosial Cool

Seluruh atribut Pokemon Go mulai dari permainannya, karakter monsternya, istilah-istilahnya kini telah menjadi symbol of coolness baru. ”Berburu Pakemon di jalan, mal, atau taman tengah kota itu keren,” begitu ungkapan yang tepat menggambarkan fenomena ini. Karena itu siapa pun berlomba-lomba mengadopsinya.

Dan sudah bisa diduga para selebritas (Ellen De- Generes, Jo Jonas, Chrissy Teigen, Jimmy Fallon, dll) menjadi role model yang menjadikan wabah Pokemon kian menghebat. Karena menjadi symbol of coolness, ia menjadi ajang narsis untuk menunjukkan siapa kita. Berburu Pokemon pun kini menjadi ajang untuk mendapatkan social acceptance dan social reward dari teman dan peers.

Kalau sudah begini, sensasi bermain Pokemon Go tak hanya sebatas saat kita berburu dan mengoleksi Pokemon, tapi juga saat kita bisa menunjukkan kepada teman-teman dan kolega di kantor bahwa kita sedang berburu dan mengoleksi Pokemon. Di era media sosial di mana apa pun bisa menyebar demikian hebat dan cepat, kehebohan Pokemon Go mendapatkan medium yang luar biasa melalui jalur peer-to-peer.

Kecanduan video game umumnya membuat orang tua resah karena dampak negatif yang ditimbulkannya seperti kemalasan, kesehatan, pemborosan waktu, dan sebagainya. Namun Pokemon Go agak lain. Kalangan profesional medis di Amerika justru mengapresiasi Pokemon Go karena bagus untuk kesehatan. ”It potentially improving the mental and physical health of players,” ujar mereka.

Ya, karena dengan banyak berburu Pokemon di taman-taman atau jalan-jalan, badan menjadi lebih sehat, lemak banyak terbakar, dan kolesterol turun tajam. Saya hanya berharap mudah-mudahan kecanduan ini betul-betul membawa berkah.
(dmd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Kedepankan Kolaborasi,...
Kedepankan Kolaborasi, 13 Brand Raih Penghargaan Indonesia Brand Forum 2022
Pakar: Brand yang Cool...
Pakar: Brand yang Cool dan Agile jadi Gambaran Merek Masa Depan
3 Strategi Kolaborasi...
3 Strategi Kolaborasi Gaet Pasar di Tengah Kondisi Bisnis yang Menantang
Kondisi Bisnis Kian...
Kondisi Bisnis Kian Menantang, Pakar: Kalau Nggak Kolab, Bakal Kolaps!
Konsumen Takut ke Rumah...
Konsumen Takut ke Rumah Sakit, Telemedicine Kian Diminati Masyarakat
Pandemi Belum Usai,...
Pandemi Belum Usai, Bisnis Apa yang Tepat dan Bisa Bertahan?
Berita Terkini
Dirut BRI Hery Gunardi:...
Dirut BRI Hery Gunardi: Adopsi AI Jadi Kunci Perbankan Pertahankan Nasabah
23 menit yang lalu
Kebijakan Tambang RI...
Kebijakan Tambang RI Berubah-ubah, Investor China Mulai Alihkan Investasi Nikel ke Afrika
1 jam yang lalu
Saatnya Bayar Tagihan...
Saatnya Bayar Tagihan PBB-P2, Ada Diskon 7,5% hingga 31 Juli 2026
1 jam yang lalu
Barat Remehkan Blokade...
Barat Remehkan Blokade Selat Hormuz, Pasokan Minyak Dunia di Titik Kritis
2 jam yang lalu
MDLA Luncurkan Armada...
MDLA Luncurkan Armada Mobil Listrik, Dorong Transformasi Distribusi Rendah Emisi
5 jam yang lalu
Cargo Murah Kian Dibutuhkan...
Cargo Murah Kian Dibutuhkan di Tengah Meningkatnya Aktivitas Pengiriman Barang
11 jam yang lalu
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved