Yusril Nilai Menaker Gagal Beri Penjelasan soal Pekerja asal China

Selasa, 19 Juli 2016 - 20:41 WIB
Yusril Nilai Menaker...
Yusril Nilai Menaker Gagal Beri Penjelasan soal Pekerja asal China
A A A
JAKARTA - Pakar Hukum Tata Negara Yusril Ihza Mahendra memandang Menteri Tenaga Kerja (Menaker) Hanif Dhakiri gagal memberikan penjelasan yang memuaskan atas membanjirnya tenaga kerja asal China. Pihak Menaker membantah rumor serbuan 10 juta pekerja China yang disebutnya sebagai kebohongan.

"Angka 10 juta bisa diperdebatkan. Tapi, jumlah itu bisa saja terjadi dalam beberapa tahun ke depan sejalan dengan kian membesarnya pinjaman proyek dan investasi China di negeri ini," ujarnya, Selasa (19/7/2016).

Yusril menjelaskan, persoalannya bukan pada jumlah angka 10 juta, tetapi masalah kesempatan kerja rakyat Indonesia yang dirampas pekerja dari Negeri Tirai Bambu dengan semakin besarnya pinjaman dan investasi China di sini. Pinjaman dan investasi China akhirnya hanya untuk menciptakan lapangan kerja buat rakyat mereka, sementara masyarakat Indonesia tidak mendapat manfaat apa-apa.

"Menaker dan para pendukungnya juga gagal membandingkan dengan jumlah TKI di Hong Kong yang sebagian besar adalah TKW pembantu rumah tangga yang jumlahnya lebih besar dari tenaga kerja China di negeri kita. Perbandingan ini sangat tidak relevan. Para TKI itu diikat dengan kontrak kerja dan dapat dipulangkan kapan saja. Sementara pekerja China di sini kebanyakan ilegal," bebernya.

Dia menyebutkan mengontrol TKI di Metropolitan Hong Kong jauh lebih mudah dibandingkan mengontrol pekerja China yang hadir mengerjakan proyek-proyek pinjaman atau investasi China. Menaker Hanif perlu merazia pekerja China sampai ke hutan di Kalimantan Selatan, suatu hal yang tak pernah dilakukan pejabat setingkat menteri di China dalam mengawasi para TKI.

"Masalah pekerja China di negara kita ini terkait dengan kebijakan bebas visa bagi warga China, sehingga kedatangan mereka tidak bisa dibendung. Sementara warga kita harus dapat visa untuk datang ke China, kecuali Hong Kong dan Macau," kata calon Gubernur DKI Jakarta ini.

Manipulasi data kependudukan yang dilakukan warga China dengan mudah terjadi. Fenomena serupa juga terjadi di Malaysia. "Karena itu implikasi kehadiran pekerja China, tidak bisa dipandang sederhana, karena bersentuhan langsung dengan keamanan negara, sosial serta ekonomi negara kita sekarang dan masa depan," tegas Yusril.

Menanggapi upah pekerja di China lebih mahal daripada di Indonesia, bagi Yusril ini menjadi pertanyaan. Sebab, biasanya orang mau bekerja di luar negeri kalau upahnya lebih mahal dari di negaranya sendiri.

"Kalau memang upah di negara kita lebih murah dari China, dan mereka mau ramai-ramai datang bekerja di sini, kita pun patut bertanya apa maksud sesungguhnya kedatangan mereka ramai-ramai ke negara kita?" tandasnya.
(dmd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Usai Bentrok TKA China...
Usai Bentrok TKA China dengan Pekerja Lokal di PT GNI Morut, 70 Terduga Pelaku Ditahan Polisi
Jumlah TKA di Indonesia...
Jumlah TKA di Indonesia Tahun 2022 Sebanyak 96,57 Ribu Pekerja
Bentrokan di PT GNI,...
Bentrokan di PT GNI, Fungsionaris PB HMI Imbau Semua Pihak Menahan Diri
Kedatangan 500 TKA China...
Kedatangan 500 TKA China ke RI Ditegaskan Sesuai Prosedur
Alasan di Balik Perekrutan...
Alasan di Balik Perekrutan 2.500 Pekerja China di Proyek Smelter
34 Pekerja China Masuk...
34 Pekerja China Masuk Indonesia, Ditjen Imigrasi Nyatakan Sesuai Permenkumham
Berita Terkini
Kilau Emas Antam Meredup,...
Kilau Emas Antam Meredup, Hari Ini Turun Lagi Rp20.000 per Gram
38 menit yang lalu
TikTok Tingkatkan Transparansi...
TikTok Tingkatkan Transparansi AI, Alokasikan USD4 Juta untuk Program Edukasi
1 jam yang lalu
Dibuka Menguat 0,33%,...
Dibuka Menguat 0,33%, IHSG Berbalik Melemah di Menit Pertama
1 jam yang lalu
Cara Mengajukan Pembetulan...
Cara Mengajukan Pembetulan Data PBB-P2 secara Online, Simak Syarat dan Tahapannya
1 jam yang lalu
AS Terapkan Blokade...
AS Terapkan Blokade Baru di Selat Hormuz, Harga Minyak Dunia Melonjak 9%
1 jam yang lalu
Trump Raih Cuan Jumbo...
Trump Raih Cuan Jumbo dari Kripto, Mayoritas Dialihkan ke Saham dan Obligasi
3 jam yang lalu
Infografis
AS Ketir-Ketir Disalip...
AS Ketir-Ketir Disalip China Soal Jumlah ICBM Nuklir
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved