Rupiah Berakhir Melemah 23 Poin
Rabu, 20 Juli 2016 - 16:57 WIB
Rupiah Berakhir Melemah 23 Poin
A
A
A
JAKARTA - Nilai tukar rupiah di pasar spot pada perdagangan Rabu (20/7/2016), ditutup lunglai 23 poin atau 0,18% ke Rp13.112/USD.
Pada awal perdagangan Rabu (20/7/2016), rupiah dibuka terpukul 18 poin atau 0,14% ke level Rp13.107/USD. Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah diperdagangkan pada kisaran Rp13.067-Rp13.137/USD.
Lesunya rupiah pada hari ini sudah kentara sejak pagi hari, akibat menguatnya indeks dolar setelah ciamiknya data properti Abang Sam yang dirilis Selasa (19/7) kemarin.
Berdasarkan data Yahoo Finance, Rabu (20/7), rupiah berakhir melemah 22 poin atau 0,17% ke Rp13.110/USD, dimana pagi tadi dibuka Rp13.088/USD. Pada hari ini, rupiah diperdagangkan pada range Rp13.060-Rp13.114/USD.
Sementara data Sindonews yang bersumber dari Limas, Rabu ini, mata uang Garuda ditutup ke melemah level Rp13.120/USD, dimana pagi tadi dibuka pada Rp13.095/USD. Kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia pada Rabu (20/7/2016), rupiah dipatok sebesar Rp13.100/USD.
Di pasar mata uang, USD diperdagangkan lebih tinggi pada penutupan Rabu (20/7/2016). Melansir CNBC, hari ini, greenback melayang di atas sekeranjang mata uang yaitu 97,251, dimana awal hari ini, indeks USD dibuka 97,097.
“Performa ekonomi Amerika Serikat dan kebijakan moneter yang stabil membuat investasi Amerika menarik dan membuat permintaan terhadap dolar,” analisa Direktur Strategi Valuta Asing di BK Asset Management, Kathy Lien seperti dikutip CNBC, Rabu (20/7/2016).
Sementara itu, yen Jepang diperdagangkan pada 106,09 melawan greenback, dimana sebelumnya sempat menguat 106,29. Yen telah melemah dari level mendekati 100, pada dua pekan sebelumnya, sehingga pasar mengantisipasi stimulus fiskal dan moneter yang akan datang dari Jepang.
Dolar Australia diperdagangkan pada 0,7476/USD, turun dari tingkat hari Senin yaitu 0,76/USD, kemungkinan karena kekhawatiran baru atas China.
“Detail data produk domestik bruto China, dimana banyak stimulus dan kredit ke sektor industri dan konstruksi mereka, untuk menyelematkan melemahnya ekonomi China merupakan bukan kabar baik bagi dolar Aussie,” kata analis pasar di IG Group, Angus Nicholson. Pasalnya China merupakan mitra dagang utama bagi Negeri Kanguru.
Pada awal perdagangan Rabu (20/7/2016), rupiah dibuka terpukul 18 poin atau 0,14% ke level Rp13.107/USD. Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah diperdagangkan pada kisaran Rp13.067-Rp13.137/USD.
Lesunya rupiah pada hari ini sudah kentara sejak pagi hari, akibat menguatnya indeks dolar setelah ciamiknya data properti Abang Sam yang dirilis Selasa (19/7) kemarin.
Berdasarkan data Yahoo Finance, Rabu (20/7), rupiah berakhir melemah 22 poin atau 0,17% ke Rp13.110/USD, dimana pagi tadi dibuka Rp13.088/USD. Pada hari ini, rupiah diperdagangkan pada range Rp13.060-Rp13.114/USD.
Sementara data Sindonews yang bersumber dari Limas, Rabu ini, mata uang Garuda ditutup ke melemah level Rp13.120/USD, dimana pagi tadi dibuka pada Rp13.095/USD. Kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia pada Rabu (20/7/2016), rupiah dipatok sebesar Rp13.100/USD.
Di pasar mata uang, USD diperdagangkan lebih tinggi pada penutupan Rabu (20/7/2016). Melansir CNBC, hari ini, greenback melayang di atas sekeranjang mata uang yaitu 97,251, dimana awal hari ini, indeks USD dibuka 97,097.
“Performa ekonomi Amerika Serikat dan kebijakan moneter yang stabil membuat investasi Amerika menarik dan membuat permintaan terhadap dolar,” analisa Direktur Strategi Valuta Asing di BK Asset Management, Kathy Lien seperti dikutip CNBC, Rabu (20/7/2016).
Sementara itu, yen Jepang diperdagangkan pada 106,09 melawan greenback, dimana sebelumnya sempat menguat 106,29. Yen telah melemah dari level mendekati 100, pada dua pekan sebelumnya, sehingga pasar mengantisipasi stimulus fiskal dan moneter yang akan datang dari Jepang.
Dolar Australia diperdagangkan pada 0,7476/USD, turun dari tingkat hari Senin yaitu 0,76/USD, kemungkinan karena kekhawatiran baru atas China.
“Detail data produk domestik bruto China, dimana banyak stimulus dan kredit ke sektor industri dan konstruksi mereka, untuk menyelematkan melemahnya ekonomi China merupakan bukan kabar baik bagi dolar Aussie,” kata analis pasar di IG Group, Angus Nicholson. Pasalnya China merupakan mitra dagang utama bagi Negeri Kanguru.
(ven)