Ekonomi Tumbuh 5,18%, HT Minta Pemerintah Tidak Terbuai
Jum'at, 05 Agustus 2016 - 12:56 WIB
Ekonomi Tumbuh 5,18%, HT Minta Pemerintah Tidak Terbuai
A
A
A
JAKARTA - Chief Executive Officer (CEO) MNC Group Hary Tanoesoedibjo (HT) meminta pemerintah tidak terlalu terlena dengan capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II/2016 yang mencapai 5,18%. Angka ini meningkat dibanding pertumbuhan ekonomi pada kuartal I/2016 yang berada pada angka 4,91%.
Dia mengatakan, meningkatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia pada periode ini ditopang oleh bulan Ramadhan beberapa waktu lalu. Pada bulan puasa, pengeluaran dan belanja pemerintah tentu jauh lebih besar.
"Jadi kalau saya lihat ini (pertumbuhan ekonomi 5,19%) akibat dari Ramadhan. Kita bersyukur naiknya 5% lebih year on year," katanya di Main Hall BEI, Jakarta, Jumat (5/8/2016).
(Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Triwulan II 2016 Capai 5,18%)
Kendati demikian, sambung Ketua Umum Partai Perindo ini, pemerintah tetap tidak boleh terbuai. Pasalnya, saat ini pengeluaran masyarakat justru terlihat mulai menurun pasca Ramadhan dan Lebaran.
"Kita tidak boleh terbuai. Karena kuartal ketiga kan sudah tidak ada Ramadhan lagi. Malah kalau saya lihat consumer spending sekarang agak melemah. Jadi sekarang kita harus kerja keras untuk memastikan pertuimbuhan bisa tetap membaik," tandasnya.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi di triwulan II 2016 sebesar 5,18%. Angka ini jelas meningkat jika dibandingkan triwulan I 2016 yang sebesar 4,91%. Sedangkan untuk triwulan II 2015 sebesar 4,66%. Sehingga, jika dijumlah secara kumulatif di semester I 2016 yakni 5,04%.
Kepala BPS Suryamin mengatakan banyak peristiwa yang terjadi sehingga menyebabkan pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih tinggi dari periode sebelumnya. "Pertama, harga komoditas non migas di pasar internasional secara umum sudah mengalami peningkatan. Kemudian harga rata-rata minyak mentah Indonesia naik. Naik 39,49% secara qtoq," jelas Suryamin.
Dia mengatakan, meningkatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia pada periode ini ditopang oleh bulan Ramadhan beberapa waktu lalu. Pada bulan puasa, pengeluaran dan belanja pemerintah tentu jauh lebih besar.
"Jadi kalau saya lihat ini (pertumbuhan ekonomi 5,19%) akibat dari Ramadhan. Kita bersyukur naiknya 5% lebih year on year," katanya di Main Hall BEI, Jakarta, Jumat (5/8/2016).
(Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Triwulan II 2016 Capai 5,18%)
Kendati demikian, sambung Ketua Umum Partai Perindo ini, pemerintah tetap tidak boleh terbuai. Pasalnya, saat ini pengeluaran masyarakat justru terlihat mulai menurun pasca Ramadhan dan Lebaran.
"Kita tidak boleh terbuai. Karena kuartal ketiga kan sudah tidak ada Ramadhan lagi. Malah kalau saya lihat consumer spending sekarang agak melemah. Jadi sekarang kita harus kerja keras untuk memastikan pertuimbuhan bisa tetap membaik," tandasnya.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi di triwulan II 2016 sebesar 5,18%. Angka ini jelas meningkat jika dibandingkan triwulan I 2016 yang sebesar 4,91%. Sedangkan untuk triwulan II 2015 sebesar 4,66%. Sehingga, jika dijumlah secara kumulatif di semester I 2016 yakni 5,04%.
Kepala BPS Suryamin mengatakan banyak peristiwa yang terjadi sehingga menyebabkan pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih tinggi dari periode sebelumnya. "Pertama, harga komoditas non migas di pasar internasional secara umum sudah mengalami peningkatan. Kemudian harga rata-rata minyak mentah Indonesia naik. Naik 39,49% secara qtoq," jelas Suryamin.
(akr)
Lihat Juga :