Ini Strategi Pemerintah Capai Target Pertumbuhan 5,3%
Selasa, 16 Agustus 2016 - 19:51 WIB
Ini Strategi Pemerintah Capai Target Pertumbuhan 5,3%
A
A
A
JAKARTA - Menteri Perencanaan dan Pembangunan Nasional (PPN/Kepala Bappenas) Bambang Brodjonegoro mengakui bahwa target pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan sebesar 5,3%, cukup tinggi. Pemerintah pun harus melawan arus ekonomi global yang masih menurun dengan menargetkan pertumbuhan di angka tersebut.
Dia mengatakan, target pertumbuhan ekonomi tahun depan lebih tinggi dari target pertumbuhan tahun ini. Karena itu, pemerintah perlu mengeluarkan tenaga ekstra untuk dapat merealisasikan target tersebut.
"Pertumbuhan ekonomi 5,3% artinya perkiraannya lebih tinggi dari tahun ini. Padahal tren ekonomi global menurun. Karena banyak negara yang sulit mendorong pertumbuhan ekonomi. Artinya jika ingin 5,3% harus ada extra effort," katanya dalam Konferensi Pers Pemerintah tentang Nota Keuangan dan RUU APBN 2017 di Gedung Ditjen Pajak Kemenkeu, ‎Jakarta, Selasa (16/8/2016).
Mantan Menteri Keuangan ini menjelaskan, karena pemerintah melawan arus ekonomi global yang melempem maka yang harus didorong adalah pertumbuhan ekonomi di dalam negeri. Salah satu yang menjadi penopang pertumbuhan ekonomi tahun depan adalah investasi.
"12 Paket Kebijakan itu utamanya untuk perbaiki iklim investasi. Targetnya bukan hanya izin lebih mudah tapi investasi masuk, baik dalam atau luar negeri. Maka 2017, mau tak mau investasi baik swasta atau pemerintah harus terus didorong," imbuh dia. (Baca: Ini Asumsi Dasar Ekonomi Makro RAPBN 2017)
Selain itu, sambung Bambang, pemerintah juga harus menjaga inflasi di bawah 4% agar daya beli masyarakat tetap terjaga. Jika pasokan pangan dan daya beli masyarakat terjaga, maka konsumsi rumah tangga juga dapat menjadi salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi.
"Pengeluaran pemerintah tetap penting hingga tahun depan yang dari global. Karena ekspor dan investasi masih terbatas maka belanja pemerintah tetap akan berkontribusi pada perekonomian," tuturnya.
Terlepas dari hal tersebut, mantan Wamenkeu ini memberikan catatan bahwa pemerintah tidak hanya ingin mendorong pertumbuhan ekonomi dari segi makro saja. Namun, pertumbuhan ekonomi diharapkan bisa lebih berkualitas dan membantu memperbaiki kesejahteraan masyarakat.
"Jadi selain bicara bagaimana mencapai dan kendalanya, juga akan dibahas mengenai pengangguran, ketimpangan, dan kemiskinan," tandasnya.
Dia mengatakan, target pertumbuhan ekonomi tahun depan lebih tinggi dari target pertumbuhan tahun ini. Karena itu, pemerintah perlu mengeluarkan tenaga ekstra untuk dapat merealisasikan target tersebut.
"Pertumbuhan ekonomi 5,3% artinya perkiraannya lebih tinggi dari tahun ini. Padahal tren ekonomi global menurun. Karena banyak negara yang sulit mendorong pertumbuhan ekonomi. Artinya jika ingin 5,3% harus ada extra effort," katanya dalam Konferensi Pers Pemerintah tentang Nota Keuangan dan RUU APBN 2017 di Gedung Ditjen Pajak Kemenkeu, ‎Jakarta, Selasa (16/8/2016).
Mantan Menteri Keuangan ini menjelaskan, karena pemerintah melawan arus ekonomi global yang melempem maka yang harus didorong adalah pertumbuhan ekonomi di dalam negeri. Salah satu yang menjadi penopang pertumbuhan ekonomi tahun depan adalah investasi.
"12 Paket Kebijakan itu utamanya untuk perbaiki iklim investasi. Targetnya bukan hanya izin lebih mudah tapi investasi masuk, baik dalam atau luar negeri. Maka 2017, mau tak mau investasi baik swasta atau pemerintah harus terus didorong," imbuh dia. (Baca: Ini Asumsi Dasar Ekonomi Makro RAPBN 2017)
Selain itu, sambung Bambang, pemerintah juga harus menjaga inflasi di bawah 4% agar daya beli masyarakat tetap terjaga. Jika pasokan pangan dan daya beli masyarakat terjaga, maka konsumsi rumah tangga juga dapat menjadi salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi.
"Pengeluaran pemerintah tetap penting hingga tahun depan yang dari global. Karena ekspor dan investasi masih terbatas maka belanja pemerintah tetap akan berkontribusi pada perekonomian," tuturnya.
Terlepas dari hal tersebut, mantan Wamenkeu ini memberikan catatan bahwa pemerintah tidak hanya ingin mendorong pertumbuhan ekonomi dari segi makro saja. Namun, pertumbuhan ekonomi diharapkan bisa lebih berkualitas dan membantu memperbaiki kesejahteraan masyarakat.
"Jadi selain bicara bagaimana mencapai dan kendalanya, juga akan dibahas mengenai pengangguran, ketimpangan, dan kemiskinan," tandasnya.
(ven)
Lihat Juga :