IHSG Ditutup Ambruk Saat Bursa Utama Asia Mixed
Selasa, 13 September 2016 - 16:31 WIB
IHSG Ditutup Ambruk Saat Bursa Utama Asia Mixed
A
A
A
JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada akhir perdagangan hari ini ditutup terjun bebas alias tambah melemah. Pasar saham Tanah Air hari ini ditutup ambruk dengan kehilangan 66,35 poin atau 1,26% ke level 5.215,57 di tengah pergerakan variatif mayoritas bursa saham Asia.
Sementara, IHSG sesi I berkurang 40,10 poin atau 0,76%% ke level 5.241,81 dan pada pembukaan tadi pagi dibuka melemah 39,57 poin atau 0,75% ke level 5.242,34. Dan pada perdagangan sebelumnya, IHSG ditutup kehilangan 89,16 poin atau 1,66% ke level 5.281,92.
Dilansir CNBC, Selasa (13/9/2016) pasar saham Asia berakhir mixed saat data ekonomi China di luar prediksi untuk memberikan keuntungan dan dovish pidato dari Pejabat The Fed Lael Brainard. Pasar saham Australia ditutup turun 0,23% atau setara dengan 11,808 poin ke level 5.207,8 ketika sempat bertambah lebih dari 1% di awal perdagangan.
Penyusutan sektor energi sebesar 0,69% dan kejatuhan sektor keuangan 0,69% memimpin pelemahan bursa Australia. Di sisi lain indeks Nikkei Jepang justru meningkat pada perdagangan sore ini sebesar 0,34% atau 56,12 poin ke posisi 16.729,04 mengiringi kenaikan indeks Kospi Korea Selatan yang bertambah 0,4% atau 7,88 poin ke level 1.999,36.
Bursa saham di daratan China juga bergerak variatif saat indeks Shanghai ditutup naik 0,05% atau 1,53 ke posisi 3.023,51 dan komposit Shenzhen berakhir naik 0,621%, atau 12.277 poin ke level 1.989,334. Kebalikannya di Hong Kong, index Hang Seng tercatat mengalami penurunan 0,32% menjadi 23.215,76.
Pergerakan mixed bursa Asia terjadi di tengah rilis data ekonomi China yang menunjukkan perbaikan lebih dari yang diharapan. Pertumbuhan investasi langsung China tetap stabil pada 8,1%, output industri Agustus juga meningkat 6,3% tahun ini ditambah penjualan ritel yang meningkat 10,6%.
"Data aktivitas China di Agustus sedikit di depan prakiraan, memberikan konfirmasi nada positif. Namun hasilnya belum cukup dengan harapan besar pasar keuangan," ucap Ahli Strategi CIBC Capital Markets Patrick Bennett.
Sektor saham dalam negeri pada hari ini setelah libur panjang berada di jalur negatif secara keseluruhan. Pertambangan menjadi yang peling melemah dengan penurunan sebesar 3,66% diikuti aneka industri menyusut 2,70%.
Adapun nilai transaksi di bursa Indonesia tercatat sebesar Rp6,40 triliun dengan 6,07 miliar saham diperdagangkan dan transaksi bersih asing minus Rp355,5 miliar dengan aksi jual asing mencapai Rp3,01 triliun, sedangkan aksi beli asing mencapai sebesar Rp2,65 triliun. Tercatat 66 saham menguat, 267 saham melemah dan 64 saham stagnan.
Saham-saham yang menguat di antaranya PT Danasupra Erapacific Tbk (DEFI) naik Rp150 menjadi Rp775, PT Matahari Department Store Tbk. (LPPF) bertambah Rp125 menjadi Rp18.200 serta PT Pudjiadi & Sons Tbk. (PNSE) meningkat Rp110 menjadi Rp895.
Sementara, saham-saham yang melemah di antaranya, PT Gudang Garam Tbk (GGRM) turun Rp1.125 menjadi Rp60.000, PT Bali Topwerindo Sentra Tbk (BALI) menyusut Rp95 menjadi Rp885 dan PT Astra International Tbk. (ASII) berkurang Rp275 menjadi Rp7.950.
Sementara, IHSG sesi I berkurang 40,10 poin atau 0,76%% ke level 5.241,81 dan pada pembukaan tadi pagi dibuka melemah 39,57 poin atau 0,75% ke level 5.242,34. Dan pada perdagangan sebelumnya, IHSG ditutup kehilangan 89,16 poin atau 1,66% ke level 5.281,92.
Dilansir CNBC, Selasa (13/9/2016) pasar saham Asia berakhir mixed saat data ekonomi China di luar prediksi untuk memberikan keuntungan dan dovish pidato dari Pejabat The Fed Lael Brainard. Pasar saham Australia ditutup turun 0,23% atau setara dengan 11,808 poin ke level 5.207,8 ketika sempat bertambah lebih dari 1% di awal perdagangan.
Penyusutan sektor energi sebesar 0,69% dan kejatuhan sektor keuangan 0,69% memimpin pelemahan bursa Australia. Di sisi lain indeks Nikkei Jepang justru meningkat pada perdagangan sore ini sebesar 0,34% atau 56,12 poin ke posisi 16.729,04 mengiringi kenaikan indeks Kospi Korea Selatan yang bertambah 0,4% atau 7,88 poin ke level 1.999,36.
Bursa saham di daratan China juga bergerak variatif saat indeks Shanghai ditutup naik 0,05% atau 1,53 ke posisi 3.023,51 dan komposit Shenzhen berakhir naik 0,621%, atau 12.277 poin ke level 1.989,334. Kebalikannya di Hong Kong, index Hang Seng tercatat mengalami penurunan 0,32% menjadi 23.215,76.
Pergerakan mixed bursa Asia terjadi di tengah rilis data ekonomi China yang menunjukkan perbaikan lebih dari yang diharapan. Pertumbuhan investasi langsung China tetap stabil pada 8,1%, output industri Agustus juga meningkat 6,3% tahun ini ditambah penjualan ritel yang meningkat 10,6%.
"Data aktivitas China di Agustus sedikit di depan prakiraan, memberikan konfirmasi nada positif. Namun hasilnya belum cukup dengan harapan besar pasar keuangan," ucap Ahli Strategi CIBC Capital Markets Patrick Bennett.
Sektor saham dalam negeri pada hari ini setelah libur panjang berada di jalur negatif secara keseluruhan. Pertambangan menjadi yang peling melemah dengan penurunan sebesar 3,66% diikuti aneka industri menyusut 2,70%.
Adapun nilai transaksi di bursa Indonesia tercatat sebesar Rp6,40 triliun dengan 6,07 miliar saham diperdagangkan dan transaksi bersih asing minus Rp355,5 miliar dengan aksi jual asing mencapai Rp3,01 triliun, sedangkan aksi beli asing mencapai sebesar Rp2,65 triliun. Tercatat 66 saham menguat, 267 saham melemah dan 64 saham stagnan.
Saham-saham yang menguat di antaranya PT Danasupra Erapacific Tbk (DEFI) naik Rp150 menjadi Rp775, PT Matahari Department Store Tbk. (LPPF) bertambah Rp125 menjadi Rp18.200 serta PT Pudjiadi & Sons Tbk. (PNSE) meningkat Rp110 menjadi Rp895.
Sementara, saham-saham yang melemah di antaranya, PT Gudang Garam Tbk (GGRM) turun Rp1.125 menjadi Rp60.000, PT Bali Topwerindo Sentra Tbk (BALI) menyusut Rp95 menjadi Rp885 dan PT Astra International Tbk. (ASII) berkurang Rp275 menjadi Rp7.950.
(akr)
Lihat Juga :