Rupiah Hari Ini Diramal Lanjutkan Penguatan
Rabu, 28 September 2016 - 08:23 WIB
Rupiah Hari Ini Diramal Lanjutkan Penguatan
A
A
A
JAKARTA - Kepala Riset PT NH Korindo Securities Indonesia Reza Priyambada meramal pergerakan rupiah hari ini akan terus menguat. Rupiah sepertinya masih akan memanfaatkan sentimen yang ada di Amerika Serikat (AS).
Kini, lanjut Reza, rupiah mencoba untuk bergerak menembus resisten kami di level Rp13.057/USD. "Apabila mampu break resistance, rupiah kembali mempunyai peluang untuk kali kedua di tahun ini untuk mencoba area Rp13.000/USD dengan support Rp13.057/USD dan Resisten Rp13.000/USD," kata dia di Jakarta, Rabu (28/9/2016).
Laju mata uang dunia cenderung bergerak variatif pada perdagangan kemarin, setelah para pelaku pasar cenderung skeptis jelang pertemuan OPEC dan nonOPEC.
Nourreddine Bouterfa selaku Menteri Perminyakan Aljazair mengatakan masih ada peluang terjadinya kesepakatan meski dapat menghasilkan unsur-unsur perjanjian.
Akibatnya laju USD sendiri cenderung bergerak variatif dan sempat melemah terhadap sejumlah mata uang utama dunia, termasuk Rupiah menjelang debat calon presiden AS.
"Pelaku pasar lebih cenderung hati-hati di tengah kondisi politik Amerika Serikat yang belum menentu," kata dia.
Kini, lanjut Reza, rupiah mencoba untuk bergerak menembus resisten kami di level Rp13.057/USD. "Apabila mampu break resistance, rupiah kembali mempunyai peluang untuk kali kedua di tahun ini untuk mencoba area Rp13.000/USD dengan support Rp13.057/USD dan Resisten Rp13.000/USD," kata dia di Jakarta, Rabu (28/9/2016).
Laju mata uang dunia cenderung bergerak variatif pada perdagangan kemarin, setelah para pelaku pasar cenderung skeptis jelang pertemuan OPEC dan nonOPEC.
Nourreddine Bouterfa selaku Menteri Perminyakan Aljazair mengatakan masih ada peluang terjadinya kesepakatan meski dapat menghasilkan unsur-unsur perjanjian.
Akibatnya laju USD sendiri cenderung bergerak variatif dan sempat melemah terhadap sejumlah mata uang utama dunia, termasuk Rupiah menjelang debat calon presiden AS.
"Pelaku pasar lebih cenderung hati-hati di tengah kondisi politik Amerika Serikat yang belum menentu," kata dia.
(izz)