Rupiah Diprediksi Akan Sulit Tinggalkan Level Rp13.000/USD
Senin, 03 Oktober 2016 - 08:21 WIB
Rupiah Diprediksi Akan Sulit Tinggalkan Level Rp13.000/USD
A
A
A
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) diprediksi akan bergerak di kisaran level support Rp13.056/USD dan resisten Rp13.000/USD. Kepala Riset PT NH Korindo Securities Indonesia Reza Priyambada menerangkan, mata uang Garuda maupun mata uang lainnya cenderung bergerak konsolidasi setelah pelaku pasar mulai kehabisan sentiment positif.
"Terbatasnya pergerakan rupiah pun juga dipengaruhi antisipasi pelaku pasar jelang rilis PDB (Produk Domestik Bruto) AS dan klaim pengangguran yang diperkirakan akan membaik. Pada kuartal pertama, PDB riil AS meningkat 0,8%," papar Reza di Jakarta, Senin (3/10/2016).
(Baca Juga: Daya Tahan Rupiah di Tengah Gejolak Global)
Sementara, laju USD pada akhir pekan kemarin cenderung bergerak flat pada perdagangan, menyusul adanya kesepakatan yang terjadi dalam pertemuan OPEC (Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak). Khususnya terhadap negara Iran yang selama ini enggan untuk membatasi produksinya.
Meski begitu pada perdagangan awal pekan ini, mata uang Negeri Paman Sam -julukan AS- diperkirakan masih dalam kondisi baik. Di sisi lain sebelumnya rupiah balik melemah di akhir pekan seiring berakhirnya masa pengampunan pajak atau tax amnesty periode I. Pelaku pasar terlihat cenderung mem priced in keadaan rupiah.
"Sehingga adanya penguatan dijadikan momentum untuk merealisasikan keuntungannya. Kini rupiah berbalik melemah di area Rp13.000/USD," ungkapnya.
"Terbatasnya pergerakan rupiah pun juga dipengaruhi antisipasi pelaku pasar jelang rilis PDB (Produk Domestik Bruto) AS dan klaim pengangguran yang diperkirakan akan membaik. Pada kuartal pertama, PDB riil AS meningkat 0,8%," papar Reza di Jakarta, Senin (3/10/2016).
(Baca Juga: Daya Tahan Rupiah di Tengah Gejolak Global)
Sementara, laju USD pada akhir pekan kemarin cenderung bergerak flat pada perdagangan, menyusul adanya kesepakatan yang terjadi dalam pertemuan OPEC (Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak). Khususnya terhadap negara Iran yang selama ini enggan untuk membatasi produksinya.
Meski begitu pada perdagangan awal pekan ini, mata uang Negeri Paman Sam -julukan AS- diperkirakan masih dalam kondisi baik. Di sisi lain sebelumnya rupiah balik melemah di akhir pekan seiring berakhirnya masa pengampunan pajak atau tax amnesty periode I. Pelaku pasar terlihat cenderung mem priced in keadaan rupiah.
"Sehingga adanya penguatan dijadikan momentum untuk merealisasikan keuntungannya. Kini rupiah berbalik melemah di area Rp13.000/USD," ungkapnya.
(akr)