Freeport Disebut Punya Kepentingan terkait Menteri ESDM Baru
Selasa, 04 Oktober 2016 - 18:42 WIB
Freeport Disebut Punya Kepentingan terkait Menteri ESDM Baru
A
A
A
JAKARTA - Staf Ahli Pusat Studi Energi dan Dosen Universitas Gajah Mada (UGM) Fahmy Radhi menilai, PT Freeport Indonesia memiliki kepentingan terkait penunjukan menteri ESDM baru. Alasannya tak lain karena adanya tarik-menarik dalam keputusan strategis yang akan ditujukan ke perusahaan tambang asal Amerika Serikat ini.
Menurutnya, Freeport menginginkan sosok menteri ESDM yang pro terhadap pihaknya. Apalagi, deadline divestasi saham sudah dekat dan mereka juga baru kembali mendapat relaksasi ekspor konsentrat.
"Selain tarik menarik masalah kepentingan, berkaitan dengan keputusan strategis itu tadi ya. Nah masalahnya kan, perusahaan asing itu berkepentingan, siapa yang akan menjadi menteri, apakah pro dia atau tidak, begitu loh," ujarnya di Jakarta, Selasa (4/10/2016).
Tarik-menarik itu, kata lanjut Fahmy, juga menjadi penyebab molornya penunjukan menteri ESDM yang baru. Seperti diketahui, jabatan tersebut terakhir diemban Arcandra Tahar dan diganti oleh Luhut Binsar Pandjaitan sebagai Plt Menteri ESDM.
"Saya melihat mundurnya penunjukan menteri definitif menunjukkan adanya tarik menarik kepentingan. Taruhlah Luhut ngotot ingin Arcandra, tapi Jokowi tidak setuju karena sudah terlanjur menorehkan stigma yang tidak baik dan yang lain juga memang ada semacam tarik menarik," tutur dia.
Fahmy mengatakan, pemerintah tidak memiliki waktu lebih lama lagi dalam menentukan menteri ESDM definitif. Bahkan, seharusnya paling lambat jabatan itu sudah terisi akhir pekan ini.
"Harusnya ini secepatnya karena kemarin saya mendengar tanggal 5 (Oktober). Paling tidak mestinya akhir minggu ini itu harus dilantik," pungkasnya.
Menurutnya, Freeport menginginkan sosok menteri ESDM yang pro terhadap pihaknya. Apalagi, deadline divestasi saham sudah dekat dan mereka juga baru kembali mendapat relaksasi ekspor konsentrat.
"Selain tarik menarik masalah kepentingan, berkaitan dengan keputusan strategis itu tadi ya. Nah masalahnya kan, perusahaan asing itu berkepentingan, siapa yang akan menjadi menteri, apakah pro dia atau tidak, begitu loh," ujarnya di Jakarta, Selasa (4/10/2016).
Tarik-menarik itu, kata lanjut Fahmy, juga menjadi penyebab molornya penunjukan menteri ESDM yang baru. Seperti diketahui, jabatan tersebut terakhir diemban Arcandra Tahar dan diganti oleh Luhut Binsar Pandjaitan sebagai Plt Menteri ESDM.
"Saya melihat mundurnya penunjukan menteri definitif menunjukkan adanya tarik menarik kepentingan. Taruhlah Luhut ngotot ingin Arcandra, tapi Jokowi tidak setuju karena sudah terlanjur menorehkan stigma yang tidak baik dan yang lain juga memang ada semacam tarik menarik," tutur dia.
Fahmy mengatakan, pemerintah tidak memiliki waktu lebih lama lagi dalam menentukan menteri ESDM definitif. Bahkan, seharusnya paling lambat jabatan itu sudah terisi akhir pekan ini.
"Harusnya ini secepatnya karena kemarin saya mendengar tanggal 5 (Oktober). Paling tidak mestinya akhir minggu ini itu harus dilantik," pungkasnya.
(izz)
Lihat Juga :