Bisnis Hotel di Yogyakarta Dinilai Alami Kejenuhan
Rabu, 23 November 2016 - 03:13 WIB
Bisnis Hotel di Yogyakarta Dinilai Alami Kejenuhan
A
A
A
YOGYAKARTA - Bisnis perhotelan di Yogyakarta saat ini dianggap sedang mengalami kejenuhan. Lantaran bermunculannya hotel-hotel baru sementara kunjungan wisatawan ke DIY peningkatannya tidak terlalu signifikan. Tingkat hunian yang terus menyusut mengakibatkan investor mulai berpikir ulang untuk menanamkan investasinya.
Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) DIY Fauzi Nugroho mengungkapkan, kemungkinan industri perhotelan mengalami kejenuhan tersebut dapat terlihat dari aliran dana yang dikeluarkan oleh perbankan dalam bisnis ini. Selama ini perhotelan memang menjadi salah favorit kalangan perbankan untuk menanamkan modalnya.
“Biasanya bank sangat tertarik melakukan sindikasi untuk mendirikan hotel,” paparnya
Hanya saja dia menerangkan, dalam kurun waktu dua tahun terakhir sindikasi di bidang perhotelan yang dilakukan oleh kalangan perbankan nampaknya mengalami penurunan. Bisnis perhotelan saat ini sudah dianggap sedang mengalami masa stagnan bahkan cenderung menurun.
Akibatnya, perbankan lebih memilih melakukan sindikasi dalam bentuk investasi ke sektor lain. Menurut Fauzi, dalam menanamkan modalnya di sektor tertentu, perbankan tentunya selalu memperhatikan aspek bisnis dalam usaha tertentu tersebut. Jika dinilai tidak memberikan efek yang signifikan terhadap pemasukan mereka, tentunya perbankan enggan menanamkan modalnya dalam bisnis tersebut.
Penurunan sindikasi tersebut diduga menjadi salah satu penyebab melambatnya aliran dana dalam kredit disbanding dengan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) dalam setahun terakhir. Ia mencatat, pertumbuhan kredit yang dilakukan oleh perbankan selama tahun 2016 di semester pertama dibanding tahun sebelumnya hanya sekitar 7,6%.
“Padahal, pertumbuhan DPK selama setahun terakhir mencapai 10,44%,” terangnya.
Dia mengaku maklum jika perbankan mulai mengerem sindikasi perhotelan. Perbankan tentu akan lebih memilih bisnis yang menjanjikan dibanding dengan bisnis perbankan. Salah satu contohnya yakni Bank BPD DIY tengah melakukan sindikasi dari beberapa usaha yang ada di luar daerah. Di antaranya adalah menanamkan modalnya dalam bisnis produksi semen.
Kendati di satu sisi sindikasi di dunia perhotelan yang dilakukan oleh perbankan mengalami penurunan, tetapi Fauzi berharap agar perbankan mengurangi sindikasi yang mereka lakukan di luar daerah. Dia mendorong agar perbankan di DIY lebih mengedepankan untuk menanamkan sindikasinya terhadap usaha-usaha yang ada di DIY.
“Jika ditanamkan di DIY, tentu peran mereka dalam pembangunan akan lebih besar,” tandasnya.
Sebelumnya, Ketua Perhimpunan Hotel dan restoran Indonesia (PHRI) Yogyakarta Istijab Danunegoro mengakui jika tingkat hunian hotel di Yogyakarta mengalami penurunan. Oversupply dari kamar-kamar hotel yang saat ini terjadi ia tengarai menjadi penyebab menurunnya tingkat hunian hotel yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir. “Jumlah kamar saat ini sudah melebihi jumlah tamu yang datang ke DIY,” terangnya.
Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) DIY Fauzi Nugroho mengungkapkan, kemungkinan industri perhotelan mengalami kejenuhan tersebut dapat terlihat dari aliran dana yang dikeluarkan oleh perbankan dalam bisnis ini. Selama ini perhotelan memang menjadi salah favorit kalangan perbankan untuk menanamkan modalnya.
“Biasanya bank sangat tertarik melakukan sindikasi untuk mendirikan hotel,” paparnya
Hanya saja dia menerangkan, dalam kurun waktu dua tahun terakhir sindikasi di bidang perhotelan yang dilakukan oleh kalangan perbankan nampaknya mengalami penurunan. Bisnis perhotelan saat ini sudah dianggap sedang mengalami masa stagnan bahkan cenderung menurun.
Akibatnya, perbankan lebih memilih melakukan sindikasi dalam bentuk investasi ke sektor lain. Menurut Fauzi, dalam menanamkan modalnya di sektor tertentu, perbankan tentunya selalu memperhatikan aspek bisnis dalam usaha tertentu tersebut. Jika dinilai tidak memberikan efek yang signifikan terhadap pemasukan mereka, tentunya perbankan enggan menanamkan modalnya dalam bisnis tersebut.
Penurunan sindikasi tersebut diduga menjadi salah satu penyebab melambatnya aliran dana dalam kredit disbanding dengan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) dalam setahun terakhir. Ia mencatat, pertumbuhan kredit yang dilakukan oleh perbankan selama tahun 2016 di semester pertama dibanding tahun sebelumnya hanya sekitar 7,6%.
“Padahal, pertumbuhan DPK selama setahun terakhir mencapai 10,44%,” terangnya.
Dia mengaku maklum jika perbankan mulai mengerem sindikasi perhotelan. Perbankan tentu akan lebih memilih bisnis yang menjanjikan dibanding dengan bisnis perbankan. Salah satu contohnya yakni Bank BPD DIY tengah melakukan sindikasi dari beberapa usaha yang ada di luar daerah. Di antaranya adalah menanamkan modalnya dalam bisnis produksi semen.
Kendati di satu sisi sindikasi di dunia perhotelan yang dilakukan oleh perbankan mengalami penurunan, tetapi Fauzi berharap agar perbankan mengurangi sindikasi yang mereka lakukan di luar daerah. Dia mendorong agar perbankan di DIY lebih mengedepankan untuk menanamkan sindikasinya terhadap usaha-usaha yang ada di DIY.
“Jika ditanamkan di DIY, tentu peran mereka dalam pembangunan akan lebih besar,” tandasnya.
Sebelumnya, Ketua Perhimpunan Hotel dan restoran Indonesia (PHRI) Yogyakarta Istijab Danunegoro mengakui jika tingkat hunian hotel di Yogyakarta mengalami penurunan. Oversupply dari kamar-kamar hotel yang saat ini terjadi ia tengarai menjadi penyebab menurunnya tingkat hunian hotel yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir. “Jumlah kamar saat ini sudah melebihi jumlah tamu yang datang ke DIY,” terangnya.
(akr)
Lihat Juga :