Pertumbuhan Industri Manufaktur DIY Melambat di Kuartal III/2016

Jum'at, 25 November 2016 - 23:03 WIB
Pertumbuhan Industri...
Pertumbuhan Industri Manufaktur DIY Melambat di Kuartal III/2016
A A A
YOGYAKARTA - Pertumbuhan produksi triwulanan (q-to-q) Industri Mikro dan Kecil (IMK) di D.I. Yogyakarta (DIY) pada triwulan III tahun 2016 mencetak hasil negatif -0,96% dibandingkan triwulan II tahun 2016. Menurunnya pertumbuhan produksi triwulan III disebabkan karena lemahnya produksi pada beberapa jenis industri IMK yang mempunyai pengaruh besar terhadap pembentukan output produksi secara keseluruhan.

(Baca Juga: Industri Manufaktur Kunci Indonesia Hadapi Dunia)

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) DIY Bambang Kristiyanto mengatakan, IMK merupakan salah satu komponen sektor industri pengolahan yang mempunyai sumbangan cukup besar dalam menciptakan lapangan pekerjaan dan pemerataan pendapatan di Indonesia. Industri Mikro dan Kecil merupakan kekuatan strategis untuk mempercepat pembangunan daerah.

“Pembinaan usaha IMK harus terus dilakukan agar kendala-kendala yang dihadapi berupa masalah permodalan, pemasaran, serta pengelolaan dapat segera teratasi,” ujarnya, Jumat (25/11/2016).

Lebih lanju diterangkan jenis industri yang mengalami pertumbuhan negatif di antaranya industri furnitur -8,55%, industri minuman juga mengalami pertumbuhan negatif -8,08 dan industri karet, barang dari karet dan plastik -7,79 %. Jika dibandingkan dengan pertumbuhan produksi industri manufaktur mikro dan kecil Indonesia yang mengalami pertumbuhan sebesar -2,06 %, maka pertumbuhan produksi industri manufaktur mikro dan kecil di D.I. Yogyakarta pada triwulan III tahun 2016 lebih rendah sebesar 1,10 poin.

Sementara sektor industri yang mengalami pertumbuhan cukup tinggi yakni industri pakaian jadi yang mengalami pertumbuhan sebesar 10,48 %. Disusul oleh pertumbuhan industri farmasi, produk obat kimia, dan obat tradisional sebesar 8,14 %, dan industri barang galian bukan logam sebesar 5,09 %.

Di sisi lain pertumbuhan produksi industri mikro dan kecil di D.I. Yogyakarta pada triwulan III tahun 2016 dibandingkan dengan pertumbuhan pada triwulan III tahun 2015 (y-on-y) mengalami pertumbuhan positif sebesar 5,19 %. Pertumbuhan produksi industri mikro dan kecil triwulan III tahun 2016 (y-on-y) mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi karena terjadi peningkatan produksi yang cukup signifikan dibandingkan produksi pada periode tahun sebelumnya.

Sebanyak 5 jenis dari 16 jenis industri IMK mengalami pertumbuhan negatif di mana ada 2 jenis usaha IMK mengalami pertumbuhan produksi negatif di atas 10 %. Jenis industri yang pertumbuhannya negatif terbesar adalah industri karet, barang dari karet, dan plastik yang mengalami kontraksi sebesar -33,87 %.

Sedangkan jenis industri pengolahan lainnya, industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia tuun -7,54%. Industri kayu, barang dari kayu dan gabus serta barang anyaman dari bambu, rotan dan sejenisnya turun -3,89 %. Serta industri kertas dan barang dari kertas tumbuh negatif sebesar-0,11 %.

“Jenis-jenis industri manufaktur mikro dan kecil yang mengalami kenaikan pertumbuhan positif pada triwulan III Tahun 2016 dibandingkan triwulan III Tahun 2015 di antaranya industri minuman mengalami kenaikan sebesar 18,79 %,” terangnya.

Dia juga mencatat, industri pakaian jadi naik sebesar 18,07 %, industri percetakan dan reproduksi media rekaman tumbuh 15,24 %, Industri farmasi, produk obat kimia dan obat tradisional mengalami kenaikan 14,16 % serta industri logam dasar naik 12,77%.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Yogyakarta Arief Budi Santosa mengatakan, sektor industri tidak saja berpotensi memberikan kontribusi ekonomi yang besar melalui nilai tambah, lapangan kerja dan devisa, tetapi juga mampu memberikan kontribusi menuju transformasi kultural masyarakat ke arah modernisasi yang menunjang daya saing suatu wilayah.

Pembangunan sektor industri merupakan bagian integral dari pembangunan daerah yang harus dilaksanakan secara terpadu dan berkelanjutan, sehingga pembangunan bidang industri dapat memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat. Angka pertumbuhan produksi industri mempunyai peran strategis dan dapat digunakan sebagai indikator dini terhadap perkembangan produksi dari industri khususnya manufaktur, baik skala besar, sedang, maupun mikro kecil.

“Angka indeks yang dihasilkan dapat menggambarkan perkembangan produksi sektor industri pengolahan. Di DIY tidak ada industri besar, kalau besar biasanya makanan, seperti bakpia,” paparnya.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Menperin: Industri Manufaktur...
Menperin: Industri Manufaktur tumbuh Positif 4,88 Persen
Kemenperin dan Bosch...
Kemenperin dan Bosch Tandai Pembangunan Fasilitas Manufaktur Baru di Bekasi
Kinerja Industri Manufaktur...
Kinerja Industri Manufaktur di Tahun 2024
PMI Manufaktur Ekspansif...
PMI Manufaktur Ekspansif Jadi Momentum Keluarkan Kebijakan Pro Industri
PPKM Lebih Longgar,...
PPKM Lebih Longgar, PMI Manufaktur September Naik ke Posisi 52,2
Industri Manufaktur...
Industri Manufaktur China Terkontraksi 5 Bulan Beruntun
Berita Terkini
IHSG Kembali ke Level...
IHSG Kembali ke Level 6 Ribuan usai Melesat 4,24%, Kapitalisasi Pasar Jadi Rp10.749 Triliun
45 menit yang lalu
S&P Tahan RI Masih Investment...
S&P Tahan RI Masih Investment Grade, Fuad Bawazier Prediksi Ekonomi Bangkit 6 Bulan Lagi!
9 jam yang lalu
Transaksi Serba Digital,...
Transaksi Serba Digital, Pembelian Token Listrik Semakin Praktis
10 jam yang lalu
BI Injeksi Likuiditas...
BI Injeksi Likuiditas Rp837,11 Triliun, Tekanan di Pasar Uang Mulai Reda
10 jam yang lalu
Mantan Menkeu Ungkap...
Mantan Menkeu Ungkap 3 Gol Besar Sistem Ekspor Satu Pintu yang Dipuji S&P
11 jam yang lalu
MAMI Kelola Aset Rp125...
MAMI Kelola Aset Rp125 Triliun hingga Juni 2026, Catat Lebih 2,6 Juta Investor
11 jam yang lalu
Infografis
10 Negara dengan Harga...
10 Negara dengan Harga Bensin Termurah di Dunia, Libya Cuma Rp427 per Liter
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved