Lirik Yuan, BI Sepakat Jokowi USD Tak Lagi Jadi Tolak Ukur Utama
Selasa, 06 Desember 2016 - 17:09 WIB
Lirik Yuan, BI Sepakat Jokowi USD Tak Lagi Jadi Tolak Ukur Utama
A
A
A
JAKARTA - Bank Indonesia (BI) sepakat dengan pernyataan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang menyatakan bahwa dolar Amerika Serikat (USD) tak lagi bisa jadi tolak ukur kondisi perekonomian di Tanah Air. Selama ini, BI tidak hanya membandingkan rupiah dengan USD.
Deputi Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, Juda Agung mengungkapkan, pihaknya membandingkan mata uang rupiah dengan semua negara, seperti USD, renminbi (yuan), yen, ataupun euro.
"Semua partner dagang kita dan pesaing kita masukkan menghitung apakah nilai tukar kita masih kompetitif atau tidak," ujarnya di Hotel Fairmont, Jakarta, Selasa (6/12/2016).
(Baca: Jokowi: Rupiah Versus USD Tak Lagi Relevan Ukur Ekonomi RI)
Penghitungan tersebut, lanjut Juda, disebut sebagai real efective exchange rate. Di mana semua mata uang yang memiliki bobot sesuai dengan perdagangan Indonesia dengan negara tersebut akan masuk dalam perhitungan. "In practice kita tidak bisa melihat satu mata uang, kita melihat banyak mata uang," imbuhnya.
Saat ini, BI dan pemerintah China telah memiliki perjanjian untuk menggunakan mata uang renminbi dalam setiap transaksi dengan China (Bilateral Currency Swap). "Di mana kita masing-masing pihak dan pelaku perdagangan internasional bisa menggunakan mata uang dari dua mata uang itu," tandasnya.
Deputi Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, Juda Agung mengungkapkan, pihaknya membandingkan mata uang rupiah dengan semua negara, seperti USD, renminbi (yuan), yen, ataupun euro.
"Semua partner dagang kita dan pesaing kita masukkan menghitung apakah nilai tukar kita masih kompetitif atau tidak," ujarnya di Hotel Fairmont, Jakarta, Selasa (6/12/2016).
(Baca: Jokowi: Rupiah Versus USD Tak Lagi Relevan Ukur Ekonomi RI)
Penghitungan tersebut, lanjut Juda, disebut sebagai real efective exchange rate. Di mana semua mata uang yang memiliki bobot sesuai dengan perdagangan Indonesia dengan negara tersebut akan masuk dalam perhitungan. "In practice kita tidak bisa melihat satu mata uang, kita melihat banyak mata uang," imbuhnya.
Saat ini, BI dan pemerintah China telah memiliki perjanjian untuk menggunakan mata uang renminbi dalam setiap transaksi dengan China (Bilateral Currency Swap). "Di mana kita masing-masing pihak dan pelaku perdagangan internasional bisa menggunakan mata uang dari dua mata uang itu," tandasnya.
(dmd)
Lihat Juga :