Indonesia Butuh NPG untuk Selaraskan Transaksi Pembayaran

Kamis, 08 Desember 2016 - 07:33 WIB
Indonesia Butuh NPG...
Indonesia Butuh NPG untuk Selaraskan Transaksi Pembayaran
A A A
JAKARTA - Di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, peran regulator dalam mengakomodasi kebutuhan masyarakat menjadi penting. Terutama, dalam penggunaan fasilitas perbankan yang lebih efisien dan mencakup seluruh elemen.

Kebutuhan infrastruktur yang mampu mengintegrasikan berbagai saluran pembayaran untuk memfasilitasi transaksi pembayaran secara elektronik pun jadi tuntutan kedepan. Hal ini seiring pola transaksi elektronik yang semakin berkembang.

Anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Destry Damayanti mengapresiasi langkah Bank Indonesia yang berencana untuk menerapkan sistem pembayaran National Payment Gateway (NPG) pada 2017 mendatang.

"Saya rasa dengan transaksi yang makin lama makin meningkat, ada baiknya kita punya NPG. Banyak negara lain memiliki gateway sistem seperti itu," jelas Destry dalam keterangan yang diterima SINDOnews, Jakarta, Kamis (8/12/2016).

Destry memandang, kebutuhan masyarakat kedepan terhadap sistem pembayaran semakin meningkat pesat. Masyarakat, kata dia, membutuhkan suatu sistem pembayaran yang lebih efisien dan menjangkau keseluruhan.

"Kedepan, yang namanya transaksi tidak hanya dari bank ke bank, tapi bisa dari operator ke bank. Apalagi makin lama pengguna internet semakin meningkat, transaksi juga akan meningkat," katanya.

Meski begitu, Destry menggarisbawahi, bahwa siapapun yang nantinya ditunjuk sebagai gateway, maka diharuskan perbankan lokal. Menurutnya, ini akan semakin memberikan keuntungan bagi para regulator terkait.

"Bagusnya, payment sistem itu lokal. Kita bisa tahu gambaran transaksi domestik seperti apa. Selain itu, tidak akan ada dana yang keluar, karena dia masuknya juga ke kita," ungkapnya.

Menteri Badan Usaha Milik Negara Rini Soemarno belum lama ini menjelaskan mengapa Indonesia perlu memiliki payment gateway. Menurutnya, yang utama adalah kedaulatan sistem pembayaran. Dengan adanya NPG, kontrol transaksi domestik khususnya Alat Pembayaran Menggunakan Kartu (APMK) domestik.

"Pengguna kartu domestik debit dan kredit dapat dilaksanakan di dalam negeri," ujar Rini beberapa waktu lalu.

Kedua, pengurangan ketergantungan terhadap pihak principal asing. Sampai hari ini, proses switching khususnya belanja masih menggunakan pembayaran yang masih dikuasai principal asing. Dengan NPG, bisa menghemat devisa negara karena atas fee transaksi domestik akan dapat diperoleh dan dinikmati oleh pihak-pihak domestik.

Selain itu, Rini menjelaskan alasan berikutnya Indonesia membutuhkan NPG adalah adanya peningkatan efisiensi dalam pembayaran nasional. Karena akan ada pelaksanaan sharing antara para pihak terkait dengan sistem pembayaran di dalamnya.

"Dengan inisiatif ini diharapkan terbentuk nasional principal sebagai bagian dari ekosistem NPG dalam rangka meningkatkan efisiensi transaksi perbankan. Dan adanya kedaulatan sistem pembayaran nasional," terangnya.

Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia 2016 kemarin mengungkapkan pihaknya siap segera mengakselerasi NPG. "Di mana yang saat ini sudah melalui uji konsep dan dalam proses engagement dengan pelaku utama di industri," katanya.

Agus menambahkan, BI akan mewajibkan penyelenggara jasa sistem pembayaran untuk melakukan pemrosesan transaksi keuangan di domestik, menempatkan data di domestik, menyimpan dana di perbankan nasional, menggunakan central bank money, dan mematuhi kewajiban penggunaan Rupiah di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
(ven)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Dana Pemerintah Rp30...
Dana Pemerintah Rp30 Triliun di 4 Bank BUMN Tetap Kena Premi LPS
LPS Peringatkan Rentannya...
LPS Peringatkan Rentannya Risiko Likuiditas Bank-Bank Kecil
Jangan Ragu Nabung di...
Jangan Ragu Nabung di Bank, LPS Ingatkan Jangan Tergiur Bunga Tinggi
Bank Bangkrut di Indonesia...
Bank Bangkrut di Indonesia Tambah Banyak, Cek 21 Daftar Terbaru
LPS Optimis Perekonomian...
LPS Optimis Perekonomian Indonesia Membaik pada 2022
BPRS Gotong Royong Ditutup,...
BPRS Gotong Royong Ditutup, LPS Siap Bayar Klaim Nasabah
Berita Terkini
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga Integrasikan Penanganan Stunting dan Pemberdayaan UMKM
26 menit yang lalu
Heboh Surat Dinas ke...
Heboh Surat Dinas ke AS dengan Keluarga Bocor, Menteri PU: Saya Nggak Jadi Berangkat
35 menit yang lalu
Pupuk Kaltim Dukung...
Pupuk Kaltim Dukung Pengembangan SDM melalui Olahraga
59 menit yang lalu
Pimpin BGN, Sudaryono...
Pimpin BGN, Sudaryono Lepas Jabatan Wakil Menteri Pertanian
1 jam yang lalu
Gejolak Global Meningkat,...
Gejolak Global Meningkat, Gubernur BI Prediksi Ekonomi Indonesia 2026 Tumbuh 4,9-5,7%
1 jam yang lalu
Prudential Indonesia...
Prudential Indonesia Catat 10 Tahun Beruntun dengan Jumlah MDRT Terbanyak di RI
2 jam yang lalu
Infografis
Ranking FIFA Terbaru:...
Ranking FIFA Terbaru: Argentina Gusur Spanyol di Puncak, Indonesia Meroket 4 Tingkat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved