Rupiah Dibuka Loyo Saat Kekuatan USD Mereda Lawan Yen
Kamis, 29 Desember 2016 - 10:21 WIB
Rupiah Dibuka Loyo Saat Kekuatan USD Mereda Lawan Yen
A
A
A
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan hari ini masih melemah di kisaran level Rp13.470/USD. Mata uang Garuda -julukan rupiah- gagal memanfaatkan meredanya kekuatan USD terhadap beberapa mata uang utama.
Berdasarkan data dari kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI, rupiah dibuka pada level Rp13.473/USD. Posisi ini menyusut dibanding posisi sebelumnya di level Rp13.447/USD.
Posisi rupiah menurut Yahoo Finance pada perdagangan pagi ini berada di level Rp13.438/USD atau sedikit membaik dari posisi penutupan kemarin Rp13.440/USD. Pergerakan rupiah tengah pekan ini berada di kisaran Rp13.438-Rp13.528/USD.
Data SINDOnews bersumber dari Limas menunjukkan rupiah masih sulit menguat dengan berada di level Rp13.508/USD. Kondisi ini memperlihatkan rupiah semakin memburuk dari posisi penutupan kemarin di level Rp13.465/USD.
Sementara data Bloomberg pagi ini rupiah dibuka Rp13.479/USD atau tidak lebih baik dari penutupan kemarin di level Rp13.460/USD. Kisaran pergerakan rupiah pada hari ini berada pada level Rp13.455-Rp13.490/USD.
Di sisi lain kekuatan USD mulai mengendur saat melawan yen, sedangkan euro dan poundsterling terlihat stabil seperti dilansir Reuters, Kamis (29/12/2016). USD tercatat turun 0,2% di level 117.070 terhadap yen, setelah pada sesi sebelumnya sempat menyentuh posisi 117.815.
Pelemahan USD diyakini terimbas data perumahan AS yang melemah, sedangkan euro mengalami sedikit perubahan pada posisi 1.0420 setelah kehilangan 0,4% pada hari sebelumnya terhadap USD. "USD terlihat berlari terhadap yen untuk kondisi saat ini. Tapi melawan euro, USD masih mempunyai ruang untuk memperlebar ruang," ucap Direktur forex strategi di Mizuho Securities Masafumi Yamamoto.
Poundsterling mendatar pada level 1.2229 terahadap USD, di tengah ketidakpastian seputar negosiasi Brexit. Indeks USD juga turun 0,15% di level 103.150, tetapi masih dalam jangkauan tertinggi dalam 14 tahun. Indeks telah meningkat ke level tertinggi seiring meningkatnya harapan Donald Trump sebagai Presiden AS akan mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi terbesar di dunia tersebut melalui stimulus fiskal, yang bisa disertai dengan pengetatan moneter.
Berdasarkan data dari kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI, rupiah dibuka pada level Rp13.473/USD. Posisi ini menyusut dibanding posisi sebelumnya di level Rp13.447/USD.
Posisi rupiah menurut Yahoo Finance pada perdagangan pagi ini berada di level Rp13.438/USD atau sedikit membaik dari posisi penutupan kemarin Rp13.440/USD. Pergerakan rupiah tengah pekan ini berada di kisaran Rp13.438-Rp13.528/USD.
Data SINDOnews bersumber dari Limas menunjukkan rupiah masih sulit menguat dengan berada di level Rp13.508/USD. Kondisi ini memperlihatkan rupiah semakin memburuk dari posisi penutupan kemarin di level Rp13.465/USD.
Sementara data Bloomberg pagi ini rupiah dibuka Rp13.479/USD atau tidak lebih baik dari penutupan kemarin di level Rp13.460/USD. Kisaran pergerakan rupiah pada hari ini berada pada level Rp13.455-Rp13.490/USD.
Di sisi lain kekuatan USD mulai mengendur saat melawan yen, sedangkan euro dan poundsterling terlihat stabil seperti dilansir Reuters, Kamis (29/12/2016). USD tercatat turun 0,2% di level 117.070 terhadap yen, setelah pada sesi sebelumnya sempat menyentuh posisi 117.815.
Pelemahan USD diyakini terimbas data perumahan AS yang melemah, sedangkan euro mengalami sedikit perubahan pada posisi 1.0420 setelah kehilangan 0,4% pada hari sebelumnya terhadap USD. "USD terlihat berlari terhadap yen untuk kondisi saat ini. Tapi melawan euro, USD masih mempunyai ruang untuk memperlebar ruang," ucap Direktur forex strategi di Mizuho Securities Masafumi Yamamoto.
Poundsterling mendatar pada level 1.2229 terahadap USD, di tengah ketidakpastian seputar negosiasi Brexit. Indeks USD juga turun 0,15% di level 103.150, tetapi masih dalam jangkauan tertinggi dalam 14 tahun. Indeks telah meningkat ke level tertinggi seiring meningkatnya harapan Donald Trump sebagai Presiden AS akan mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi terbesar di dunia tersebut melalui stimulus fiskal, yang bisa disertai dengan pengetatan moneter.
(akr)