Fed Rate Naik, BI Dinilai Tak Punya Ruang untuk Agresif

Kamis, 29 Desember 2016 - 14:51 WIB
Fed Rate Naik, BI Dinilai...
Fed Rate Naik, BI Dinilai Tak Punya Ruang untuk Agresif
A A A
JAKARTA - Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai Bank Indonesia (BI) tidak mempunyai ruang untuk kembali agresif. Ekonom Indef Bhima Yudhistira Adhinegara menilai BI seven days repo rate tidak bisa lagi diturunkan karena Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) sudah mulai menaikkan suku bunga secara bertahap.

(Baca Juga: Ketagihan Ngutang, Cara Pemerintah Kelola Fiskal Dipertanyakan)

Dia menambahkan Amerika akan mendorong infrastruktur dengan menambah utang. Sehingga inflasi meningkat dan Fed rate naik secara bertahap tahun depan. "Dorong infrastruktur didapat dari penambahan utang, jadikan inflasi meningkat dan naikan Fed rate di Desember kemarin," terang dia di Jakarta, Kamis (29/12/2016).

"Implikasinya 2016 era akhir agresivitas moneter BI, dari Januari sampai November BI jor-joran turunkan suku bunga, ini harus diakhiri karena berpotensi capital outflow akibat Trump dan suku bunga The Fed," sambungnya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, jika BI tidak lagi agresif dalam melonggarkan kebijakan moneter maka suku bunga kredit makin sulit mencapai single digit. Mahalnya bunga kredit ini bisa menghambat pertumbuhan ekonomi Indonesia.

"Bagaimana mungkin suku bunga bank single digit? Suku bunga The Fed naik dan BI seven days repo rate 4,75%. Kondisi mahalnya suku bunga kredit dan BI sudah tak turunkan suku bunga," jelas Bhima.

Menurut dia, perbankan di Indonesia masih belum efisien. Margin yang dihasilkan dari bunga bersih masih berada di atas 5,5% dan Biaya Operasional Pendapatan Operasional (BOPO) juga tinggi. "Perbankan masih sangat tidak efisien masih sangat gemuk, margin bunga bersih masih di atas 5,5%, 5,65% berdasarkan data OJK. BOPO masih di atas 81%," paparnya.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
KPK: Ruangan Gubernur...
KPK: Ruangan Gubernur BI Turut Digeledah, Ada 2 Tersangka Dugaan Korupsi Dana CSR
Layanan BI-Fast Error,...
Layanan BI-Fast Error, Nasabah CIMB Niaga, BSI, BCA, hingga BNI Mengeluh di Media Sosial
Dugaan Korupsi Dana...
Dugaan Korupsi Dana CSR Bank Indonesia, BI Kooperatif dengan KPK
Bank Indonesia Sebut...
Bank Indonesia Sebut Pemilihan Deputi Gubernur BI Melalui Sistem Meritokrasi
Perry Warjiyo Kembali...
Perry Warjiyo Kembali Terpilih jadi Gubernur BI Periode 2023-2028
Tiga Kandidat Bersaing...
Tiga Kandidat Bersaing Uji Kelayakan Deputi Gubernur BI Hari Ini
Berita Terkini
Implementasi PP TUNAS...
Implementasi PP TUNAS Harus Bisa Jaga Daya Saing Generasi Muda di Ekonomi Digital
5 jam yang lalu
Bank Sentral China Borong...
Bank Sentral China Borong Emas 19 Bulan Berturut-turut, Ada Apa?
5 jam yang lalu
BKI dan ASDP Perkuat...
BKI dan ASDP Perkuat Sinergi Keselamatan Kerja Melalui Audit SMK3
5 jam yang lalu
Silmy Karim Dicopot...
Silmy Karim Dicopot dari Komisaris Telkom usai Tersangka KPK
5 jam yang lalu
DPR Ingatkan Potensi...
DPR Ingatkan Potensi Moral Hazard Penambahan Layer Rokok Ilegal
6 jam yang lalu
Merger BUMN Karya Mundur...
Merger BUMN Karya Mundur ke Kuartal IV-2026, BP BUMN Ungkap Alasannya
6 jam yang lalu
Infografis
5 Buah Rendah Gula yang...
5 Buah Rendah Gula yang Aman untuk Diet, Tetap Manis dan Menyegarkan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved