IHSG Akhir Tahun Dibuka Menguat Saat Bursa Asia Mixed
Jum'at, 30 Desember 2016 - 09:12 WIB
IHSG Akhir Tahun Dibuka Menguat Saat Bursa Asia Mixed
A
A
A
JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan akhir tahun masih bertahan di zona hijau setelah kemarin ditutup naik cukup tinggi. IHSG hari ini dibuka naik 5,71 poin atau setara dengan 0,11% ke level 5.308,27 saat bursa utama Asia dibuka mixed
Sementara pada perdagangan kemarin, pasar saham Tanah Air ditutup menguat cukup tajam hingga sebesar 1,79% atau setara dengan 93,12 poin ke level 5.302,57.
Pada sesi pembukaan pagi ini, sektor saham di dalam negeri mayoritas menguat dengan dipimpin sektor aneka industri yang naik 0,56%. Sementara, sektor yang melemah terdalam adalah pertambangan yang melemah 0,14%.
Adapun nilai transaksi pada bursa Indonesia pagi ini tercatat sebesar Rp18 miliar dengan 19 juta saham diperdagangkan dan transaksi bersih asing sebesar Rp1,26 miliar dengan aksi jual asing sebesar Rp8,72 miliar dan aksi beli asing mencapai Rp9,99 miliar. Tercatat 21 saham menguat, 7 melemah dan 17 stagnan.
Beberapa saham yang menguat di antaranya, PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA) naik Rp200 menjadi Rp5.800, PT Astra International Tbk (ASII) naik Rp50 menjadi Rp8.175, dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) naik Rp50 menjadi Rp7.900.
Sementara, beberapa saham yang tercatat melemah di awal pembukaan yaitu PT Dua Putra Utama Makmur Tbk (DPUM) melemah Rp70 menjadi Rp655, PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (BJBR) turun Rp50 menjadi Rp3.300, dan PT Bumi Teknokultura Unggul Tbk (BTEK) turun Rp50 menjadi Rp950.
Seperti dilansir dari CNBC, Jumat (30/12/2016), bursa saham Asia dibuka mixed (variatif) pada perdagangan hari terakhir tahun ini, karena USD melemah pada imbal hasil obligasi AS yang lebih rendah dan Wall Street ditutup lebih rendah.
Di Jepang, Indeks Nikkei 225 dibuka lebih rendah atau turun 0,6% karena yen menguat. Penguatan yen membuat ekspor Jepang melemah karena barang-barang lokal akhirnya lebih mahal bagi pembeli luar negeri.
Pada hari ini, Indeks Nikkei N225 turun 256 poin ke level 19,145, jatuh terbesar pertama sejak 9 November ketika jajak pendapat menunjukkan bahwa Donald Trump memenangkan Pemilu AS. Nikkei telah naik 17% sejak 9 November didorong oleh kelemahan yen karena USD menguat.
Saham Toshiba naik 5,88% ke level 273,8 yen, setelah merosot lebih dari 38% pekan ini pada pengumuman dari biaya goodwill dari beberapa miliar dolar untuk Westinghouse, anak perusahaan AS dari Toshiba.
Di Australia, Indeks ASX 200 turun 0,43% diseret oleh sektor keuangan yang jatuh 0,86% dan sektor energi yang turun 0,63%. Sektor gold All Ordinaries melawan tren secara keseluruhan untuk melakukan trading naik 5,86% karena imbal hasil obligasi AS menurun dan mengangkat daya tarik emas. Sementara, di Korea Selatan, indeks Kospi tercatat menguat 0,1%.
Sementara pada perdagangan kemarin, pasar saham Tanah Air ditutup menguat cukup tajam hingga sebesar 1,79% atau setara dengan 93,12 poin ke level 5.302,57.
Pada sesi pembukaan pagi ini, sektor saham di dalam negeri mayoritas menguat dengan dipimpin sektor aneka industri yang naik 0,56%. Sementara, sektor yang melemah terdalam adalah pertambangan yang melemah 0,14%.
Adapun nilai transaksi pada bursa Indonesia pagi ini tercatat sebesar Rp18 miliar dengan 19 juta saham diperdagangkan dan transaksi bersih asing sebesar Rp1,26 miliar dengan aksi jual asing sebesar Rp8,72 miliar dan aksi beli asing mencapai Rp9,99 miliar. Tercatat 21 saham menguat, 7 melemah dan 17 stagnan.
Beberapa saham yang menguat di antaranya, PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA) naik Rp200 menjadi Rp5.800, PT Astra International Tbk (ASII) naik Rp50 menjadi Rp8.175, dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) naik Rp50 menjadi Rp7.900.
Sementara, beberapa saham yang tercatat melemah di awal pembukaan yaitu PT Dua Putra Utama Makmur Tbk (DPUM) melemah Rp70 menjadi Rp655, PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (BJBR) turun Rp50 menjadi Rp3.300, dan PT Bumi Teknokultura Unggul Tbk (BTEK) turun Rp50 menjadi Rp950.
Seperti dilansir dari CNBC, Jumat (30/12/2016), bursa saham Asia dibuka mixed (variatif) pada perdagangan hari terakhir tahun ini, karena USD melemah pada imbal hasil obligasi AS yang lebih rendah dan Wall Street ditutup lebih rendah.
Di Jepang, Indeks Nikkei 225 dibuka lebih rendah atau turun 0,6% karena yen menguat. Penguatan yen membuat ekspor Jepang melemah karena barang-barang lokal akhirnya lebih mahal bagi pembeli luar negeri.
Pada hari ini, Indeks Nikkei N225 turun 256 poin ke level 19,145, jatuh terbesar pertama sejak 9 November ketika jajak pendapat menunjukkan bahwa Donald Trump memenangkan Pemilu AS. Nikkei telah naik 17% sejak 9 November didorong oleh kelemahan yen karena USD menguat.
Saham Toshiba naik 5,88% ke level 273,8 yen, setelah merosot lebih dari 38% pekan ini pada pengumuman dari biaya goodwill dari beberapa miliar dolar untuk Westinghouse, anak perusahaan AS dari Toshiba.
Di Australia, Indeks ASX 200 turun 0,43% diseret oleh sektor keuangan yang jatuh 0,86% dan sektor energi yang turun 0,63%. Sektor gold All Ordinaries melawan tren secara keseluruhan untuk melakukan trading naik 5,86% karena imbal hasil obligasi AS menurun dan mengangkat daya tarik emas. Sementara, di Korea Selatan, indeks Kospi tercatat menguat 0,1%.
(izz)
Lihat Juga :