Rupiah Akhir Tahun 2016 Ditutup Variatif, Yuan Terburuk di Asia
Jum'at, 30 Desember 2016 - 17:13 WIB
Rupiah Akhir Tahun 2016 Ditutup Variatif, Yuan Terburuk di Asia
A
A
A
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada akhir perdagangan tahun 2016 ditutup variatif, ketika euro melonjak ke posisi tertinggi. Sedangkan Yuan China diperkirakan mengakhiri tahun ini dengan turun hampir 7% terhadap USD, sehingga menjadi kinerja terburuk mata uang Asia tahun 2016.
Menurut data dari kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI, rupiah tahun 2016 berakhir pada level Rp13.436/USD. Posisi ini menguat dibanding posisi sebelumnya di level Rp13.473/USD.
Posisi rupiah hingga sesi perdagangan sore berdasarkan data SINDOnews dari Limas, menguat ke level Rp13.451/USD. Rupiah akhir tahun memperlihatkan kebangkitan dibanding posisi penutupan kemarin di level Rp13.492/USD.
Pada data Bloomberg sore ini, rupiah berakhir di posisi Rp13.473/USD atau tidak lebih baik dibanding penutupan kemarin di level Rp13.471/USD. Hari ini rupiah bergerak pada kisaran harian Rp13.410-Rp13.473/USD.
Data Yahoo Finance menunjukkan rupiah penghujung tahun 2016 ditutup pada level Rp13.470/USD atau menyusut dari posisi penutupan sebelumnya Rp13.460/USD dengan kisaran harian Rp13.396-Rp13.470/USD.
Dilansir Reuters, Jumat (30/12/2016) euro melonjak ke level tertinggi dalam tiga pekan dalam perdagangan tipis Asia hari ini, meski tetap berada dalam jalur negatif saat kebijakan Presiden AS Donald Trump diyakini bakal mendongkrak inflasi dan membuat The Fed menaikkan suku bunga acuan alias Fed rate lebih sering. Pada perdagangan terakhir tahun 2016, indeks USD yang melacak greenback terhadap enam mata uang utama merosot 0,3% ke level 102.40.
Di sisi lain euro berakhir naik sebesar 0,4% ke level 1.0527 saat melawan USD, ketika sempat menyentuh posisi tertinggi 1.0700 sejak 8 Desember. Meski begitu euro sepanjang tahun ini masih tidak berdaya melawan USD dengan penurunan 3%. Sedangkan terhadap mata uang Jepang, euro tercatat melompat 0,6% di level 122.99, tertinggi sejak 15 Desember tetapi tetap dijalur negatif dengan kehilangan 5,8% untuk tahun ini.
"Perdagangan hari ini benar-benar tipis, dan tiba-tiba penawaran berkurang dan jangka pendek didorong euro yang lebih tinggi," ucap Direktur Perusahaan Riset Valuta Global-info CoAsing Kaneo Ogino di Tokyo.
Sementara itu USD balik melawan yen, meski masih kehilangan di posisi 116.77, setelah sebelumnya menyentuh level 116.05 atau menjadi yang terendah sejak 14 Desember. Sepanjang tahun ini USD menyusut 2,9% terhadap yen, tapu masih jauh dari kerugian setelah Pemilihan Presiden tanggal 8 November, lalu. Catatan positif diraih Poundsterling yang meningkat 0,1% menjadi 1.2278, bergerak menjauhi posisi terendah terhadap USD di level 1.2201.
Yuan China tercatat sepanjang tahun ini menyusut sebesar sekitar 7% terhadap kebangkitan USD, untuk jadi mata uang Asia dengan performa terburuk di 2016. Dikabarkan China akan mengubah cara penghitungan indeks Yuan di tahun baru, mendatang.
Menurut data dari kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI, rupiah tahun 2016 berakhir pada level Rp13.436/USD. Posisi ini menguat dibanding posisi sebelumnya di level Rp13.473/USD.
Posisi rupiah hingga sesi perdagangan sore berdasarkan data SINDOnews dari Limas, menguat ke level Rp13.451/USD. Rupiah akhir tahun memperlihatkan kebangkitan dibanding posisi penutupan kemarin di level Rp13.492/USD.
Pada data Bloomberg sore ini, rupiah berakhir di posisi Rp13.473/USD atau tidak lebih baik dibanding penutupan kemarin di level Rp13.471/USD. Hari ini rupiah bergerak pada kisaran harian Rp13.410-Rp13.473/USD.
Data Yahoo Finance menunjukkan rupiah penghujung tahun 2016 ditutup pada level Rp13.470/USD atau menyusut dari posisi penutupan sebelumnya Rp13.460/USD dengan kisaran harian Rp13.396-Rp13.470/USD.
Dilansir Reuters, Jumat (30/12/2016) euro melonjak ke level tertinggi dalam tiga pekan dalam perdagangan tipis Asia hari ini, meski tetap berada dalam jalur negatif saat kebijakan Presiden AS Donald Trump diyakini bakal mendongkrak inflasi dan membuat The Fed menaikkan suku bunga acuan alias Fed rate lebih sering. Pada perdagangan terakhir tahun 2016, indeks USD yang melacak greenback terhadap enam mata uang utama merosot 0,3% ke level 102.40.
Di sisi lain euro berakhir naik sebesar 0,4% ke level 1.0527 saat melawan USD, ketika sempat menyentuh posisi tertinggi 1.0700 sejak 8 Desember. Meski begitu euro sepanjang tahun ini masih tidak berdaya melawan USD dengan penurunan 3%. Sedangkan terhadap mata uang Jepang, euro tercatat melompat 0,6% di level 122.99, tertinggi sejak 15 Desember tetapi tetap dijalur negatif dengan kehilangan 5,8% untuk tahun ini.
"Perdagangan hari ini benar-benar tipis, dan tiba-tiba penawaran berkurang dan jangka pendek didorong euro yang lebih tinggi," ucap Direktur Perusahaan Riset Valuta Global-info CoAsing Kaneo Ogino di Tokyo.
Sementara itu USD balik melawan yen, meski masih kehilangan di posisi 116.77, setelah sebelumnya menyentuh level 116.05 atau menjadi yang terendah sejak 14 Desember. Sepanjang tahun ini USD menyusut 2,9% terhadap yen, tapu masih jauh dari kerugian setelah Pemilihan Presiden tanggal 8 November, lalu. Catatan positif diraih Poundsterling yang meningkat 0,1% menjadi 1.2278, bergerak menjauhi posisi terendah terhadap USD di level 1.2201.
Yuan China tercatat sepanjang tahun ini menyusut sebesar sekitar 7% terhadap kebangkitan USD, untuk jadi mata uang Asia dengan performa terburuk di 2016. Dikabarkan China akan mengubah cara penghitungan indeks Yuan di tahun baru, mendatang.
(akr)