Ringgit Malaysia Diprediksi Terus Melemah hingga Kuartal I 2017

Selasa, 03 Januari 2017 - 15:23 WIB
Ringgit Malaysia Diprediksi...
Ringgit Malaysia Diprediksi Terus Melemah hingga Kuartal I 2017
A A A
KUALA LUMPUR - Mata uang Malaysia, ringgit, diperkirakan terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) hingga kuartal I 2017. Hal ini sebagai kombinasi dari isu eksternal dan isu domestik yang menekan kurs ringgit.

Melansir dari CNBC, Selasa (3/1/2017), ringgit pada hari ini diperdagangkan di level 4,48 per USD. Dan bulan lalu, ringgit telah jatuh ke level terendah sejak 1998 saat krisis keuangan Asia. Sepanjang 2016, ringgit kehilangan 4,24% terhadap dolar AS.

Robert Rennie, kepala strategi pasar global di Westpac, mengatakan kepada CNBC, bahwa perlambatan ekonomi China yang diprediksi berlanjut hingga 2017 akan menambah beban bagi Malaysia. Karena selama ini, ekspor terbesar Malaysia adalah China. “Selain itu, di dalam negeri, kami memiliki masalah politik,” ujarnya di Kuala Lumpur.

Rennie memperkirakan ringgit akan melemah hingga ke level 4,55 terhadap USD pada akhir kuartal pertama 2017. Sementara itu, Mizuho Bank memprediksi ringgit akan berada di kisaran 4,30-4,7 per USD pada periode yang sama.

Co-head of Asian economic research, Frederic Neumann mengatakan neraca perdagangan Malaysia yang menyusut saat ini, akan membuat ringgit lebih rentan pada 2017. “Ini sudah terlihat dari melemahnya ringgit dalam setahun terakhir dan tren yang dapat terus berlangsung”.

Di dalam negeri, skandal dana 1Malaysia Development Berhad (1MDB) telah mengguncang kepercayaan investor, di tengah serangkaian penyelidikan global yang sedang berlangsung atas tudingan korupsi yang dilakukan Perdana Menteri Najib Razak.

Skandal ini sejatinya telah tercium sejak 2015 lalu, dimana ada tuduhan bahwa dana investasi tersebut telah dialirkan ke rekening bank pribadi Najib Razak dan anak tirinya, Riza Aziz bersama perusahaannya Red Granite Pictures. Skandal ini disebut-sebut mirip dengan film The Wolf of Wall Street.

Sedangkan faktor eksternal, kata Rennie, kenaikan yield Amerika Serikat pada tahun ini, bisa memberi tekanan kepada negara-negara berkembang di Asia, termasuk Malaysia. “Jika hasil yield AS bisa meningkat hingga tiga persen, maka kita akan melihat tanda-tanda pelarian modal (capital outflow) dari Asia,” ujarnya.
(ven)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Sejarah Mata Uang Ringgit...
Sejarah Mata Uang Ringgit Malaysia, Awalnya Sempat Mengusung Nama Dolar
Mata Uang Digital Makin...
Mata Uang Digital Makin Mengkilap Ikut Pulihkan Ekonomi
Bitcoin Bisa Jadi Opsi...
Bitcoin Bisa Jadi Opsi Fleksibilitas saat Ekonomi Tidak Stabil
Didukung Token Anak...
Didukung Token Anak Bangsa, Blockchain Dihelat di Malaysia Juni 2022
Yuan China Ambruk ke...
Yuan China Ambruk ke Level Terendah 2007, Salah Satu Mata Uang Asia dengan Kinerja Terburuk
Israel Bakal Punya Mata...
Israel Bakal Punya Mata Uang Digital, Begini Rencana Bank Sentral
Berita Terkini
Harga Emas Antam dan...
Harga Emas Antam dan Buyback Kompak Turun Rp20.000 per Gram, Ini Rinciannya
24 menit yang lalu
Perkuat Tata Kelola...
Perkuat Tata Kelola Keamanan Informasi, MNC Sekuritas Perpanjang Sertifikasi ISO/IEC 27001:2022
33 menit yang lalu
IHSG Hari Ini Dibuka...
IHSG Hari Ini Dibuka Menguat 0,17% ke 5.934
1 jam yang lalu
MSIG Life Kolaborasi...
MSIG Life Kolaborasi dengan Bank Sinarmas Meluncurkan Smile Critical Prime
2 jam yang lalu
Takeda Investasi Rp542...
Takeda Investasi Rp542 Miliar Bangun Ekosistem Plasma di Indonesia
3 jam yang lalu
AS-Iran Kembali Saling...
AS-Iran Kembali Saling Serang, Harga Minyak Dunia Melesat Lebih 3%
3 jam yang lalu
Infografis
4 Pemicu PM Inggris...
4 Pemicu PM Inggris Mundur, dari Pemberontakan Internal hingga Terlalu Banyak Janji
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved