Harga Serba Naik, Pertumbuhan Ekonomi 5,1% Sulit Tercapai

Kamis, 05 Januari 2017 - 17:30 WIB
Harga Serba Naik, Pertumbuhan...
Harga Serba Naik, Pertumbuhan Ekonomi 5,1% Sulit Tercapai
A A A
JAKARTA - Target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,1% pada tahun ini diperkirakan Institute Development of Economic and Finance (Indef) akan sulit tercapai. Pasalnya ada kado pahit yang diberikan pemerintah di awal tahun 2017 dengan berbagai kenaikan seperti tarif listrik, harga Bahan Bakar Minyak (BBM), sembako hingga lonjakan biaya pengurusan Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) dan Buku Pemilik Kendaraan Bermotor (BPKB).

(Baca Juga: Pencabutan Subsidi Bikin Daya Beli Masyarakat Tergerus)

Ekonom Indef Bhima Yudhistira Adhinegara mengungkapkan, pemeirntah seharusnya paham bahwa saat ini kondisi masyarakat sedang sulit. Pencabutan subsidi listrik untuk pelanggan golongan 900 voltampere (VA) saja sudah berpotensi menaikkan inflasi, apalagi ditambah dengan kenaikan sejumlah barang kebutuhan pokok lainnya.

"Ini (kenaikan tarif listrik) sudah mulai berlangsung sampai Mei nanti secara bertahap. Ini akan ber-impact langsung pada inflasi. Apabila ini dilakukan bersamaan dengan penyesuaian harga BBM, maka mengakibatkan juga daya beli masyarakat terutama menengah ke bawah langsung terkoreksi," katanya kepada SINDOnews di Jakarta, Kamis (5/1/2017).

Menurutnya, pemerintah perlu mempertimbangkan kembali keinginan untuk menaikkan biaya pengurusan STNK. Terlebih, kenaikannya cukup drastis hingga mencapai 300%. "Itu saya kira memang harus dikaji ulang. Karena ini memang memberatkan daya beli kita," imbuh dia.

Lebih lanjut dia menjelaskan, tahun ini pertumbuhan ekonomi Indonesia mayoritas didorong oleh konsumsi rumah tangga. Jika di awal tahun saja sudah digoyang dengan kenaikan sejumlah barang kebutuhan pokok, maka target pertumbuhan ekonomi 5,1% akan sulit tercapai, dan inflasi nasional pun akan tembus 4%.

"Kalau di 2017 semua dinaikkan, pajak dinaikkan, maka dikhawatirkan pertumbuhan ekonomi 5,1% yang ditargetkan pemerintah sangat sulit tercapai," tuturnya.

Menurutnya, harga minyak dunia yang mulai terkerek memang akan meningkatkan penerimaan negara dari sektor migas (minyak dan gas bumi). Namun di sisi lain, kenaikan yang terlalu tinggi akan membengkakkan biaya logistik dan transportasi di Tanah Air.

"Sehingga swasta yang daya beli masyarakat sedang lesu, otomatis penjualannya menurun dan di sisi lain dibebankan dengan biaya logistik yang cukup tinggi. Ini akan mengganggu penerimaan di 2017. Jadi pemerintah sebenarnya punya kendali, karena inflasi di 2017 banyak yang sifatnya harga diatur oleh pemerintah. Ini momentumnya diatur," paparnya.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Pertumbuhan Ekonomi...
Pertumbuhan Ekonomi Sulawesi Selatan Kuartal I Tahun 2024
Dorong Industri Event...
Dorong Industri Event untuk Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Proyeksi Pertumbuhan...
Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi RI Kembali Dipangkas
BI Proyeksikan Ekonomi...
BI Proyeksikan Ekonomi RI Tumbuh 4,7 Persen hingga 5,5 Persen di 2025
Prospek Bisnis Seiring...
Prospek Bisnis Seiring Pertumbuhan Ekonomi RI
Membaca Ketahanan Ekonomi...
Membaca Ketahanan Ekonomi RI dalam Dinamika Global Kuartal III 2025
Berita Terkini
Pertamina Akselerasi...
Pertamina Akselerasi Transisi Energi Melalui Program Dekarbonisasi dan Bisnis Rendah Karbon
18 menit yang lalu
IFG Life Beri Proteksi...
IFG Life Beri Proteksi 10 Ribu Pelari di Ajang Yellow Run 2026
20 menit yang lalu
Purbaya Kembali Tepis...
Purbaya Kembali Tepis Rumor Reshuffle dan Resign: Saya Sukanya Maju, Bukan Mundur
24 menit yang lalu
Bukan Sekadar Bisnis,...
Bukan Sekadar Bisnis, Sektor Keuangan Mikro Integrasikan Kelestarian Alam ke Dalam Ekosistem UMKM
25 menit yang lalu
IHSG Makin Parah, Hari...
IHSG Makin Parah, Hari Ini Ditutup Ambles 4,20 Persen ke 5.594
1 jam yang lalu
AHY Jadi Ketua Komite...
AHY Jadi Ketua Komite Kereta Cepat Jakarta-Bandung Geser Luhut, Perpres Baru Diteken Prabowo
2 jam yang lalu
Infografis
7 Dosa Kebijakan Nicolas...
7 Dosa Kebijakan Nicolas Maduro: Akar Kehancuran Ekonomi dan Sosial Venezuela
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved