Penguatan Rupiah Diramal Tak Bisa Dihentikan The Fed
Senin, 23 Januari 2017 - 08:52 WIB
Penguatan Rupiah Diramal Tak Bisa Dihentikan The Fed
A
A
A
JAKARTA - Pergerakan nilai tukar rupiah masih dipengaruhi penilaian akan gejolak terkait siklus repatriasi pendapatan dari investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI) dan juga investasi portfolio oleh asing di Indonesia.
Selain itu juga dipengaruhi kondisi ekonomi Amerika Serikat (AS), di mana suku bunga acuan oleh The Fed diperkirakan akan naik 25-75 bps.
"Namun, tidak membuat kenaikan rupiah kali ini terhenti," ujar Analis Senior Binaartha Sekuritas Reza Priyambada di Jakarta, Senin (23/1/2017).
Dia menjelaskan, justru dengan ketiadajelasan arah ekonomi AS jelang pelantikan Presiden Trump dan imbas pernyataannya bahwa mata uang USD terlalu kuat membuat pergerakan USD terdepresiasi.
Di lain sisi, estimasi akan masih tetapnya tingkat suku bunga acuan di level 4,75% kurang kuat membuat laju rupiah dapat bertahan di zona hijaunya karena telah diantisipasi lebih dulu.
Belum lagi, imbas pidato Yellen sebelumnya yang mensinyalirkan akan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan sehingga dimungkinkan untuk menaikan suku bunga acuan turut menopang USD yang menguat.
"Penguatan ini juga turut dipengaruhi penantian pidato Trump pasca dilantik. Data positif di AS berupa kenaikan housing starts dan penurunan klaim pengangguran mingguan memberikan tambahan sentimen positif pada laju USD, sehingga berimbas pada pelemahan rupiah," pungkasnya.
Selain itu juga dipengaruhi kondisi ekonomi Amerika Serikat (AS), di mana suku bunga acuan oleh The Fed diperkirakan akan naik 25-75 bps.
"Namun, tidak membuat kenaikan rupiah kali ini terhenti," ujar Analis Senior Binaartha Sekuritas Reza Priyambada di Jakarta, Senin (23/1/2017).
Dia menjelaskan, justru dengan ketiadajelasan arah ekonomi AS jelang pelantikan Presiden Trump dan imbas pernyataannya bahwa mata uang USD terlalu kuat membuat pergerakan USD terdepresiasi.
Di lain sisi, estimasi akan masih tetapnya tingkat suku bunga acuan di level 4,75% kurang kuat membuat laju rupiah dapat bertahan di zona hijaunya karena telah diantisipasi lebih dulu.
Belum lagi, imbas pidato Yellen sebelumnya yang mensinyalirkan akan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan sehingga dimungkinkan untuk menaikan suku bunga acuan turut menopang USD yang menguat.
"Penguatan ini juga turut dipengaruhi penantian pidato Trump pasca dilantik. Data positif di AS berupa kenaikan housing starts dan penurunan klaim pengangguran mingguan memberikan tambahan sentimen positif pada laju USD, sehingga berimbas pada pelemahan rupiah," pungkasnya.
(ven)