Harga Minyak Merosot Karena Pasokan Masih Membengkak
Senin, 13 Februari 2017 - 10:22 WIB
Harga Minyak Merosot Karena Pasokan Masih Membengkak
A
A
A
SINGAPURA - Harga minyak dunia merosot pada perdagangan Senin (13/2/2017), setelah pasokan global tetap membengkak meski OPEC berhasil memotong produksi si emas hitam dari yang diharapkan.
Mengutip dari Reuters, Senin ini, harga minyak mentah berjangka Brent International diperdagangkan turun 15 sen ke level USD56,55 per barel pada pukul 00:35 GMT.
Harga minyak mentah berjangka AS, West Texas Intermediate (WTI) melemah 12 sen menjadi USD53,74 per barel.
Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan produsen non-OPEC yaitu Rusia memang telah sepakat memangkas produksi hampir 1,8 juta barel per hari selama semester pertama 2017 dalam upaya mengendalikan overhang pasokan bahan bakar global.
Namun Amerika Serikat melakukan upaya peningkatan kegiatan pengeboran demi mendorong produksi. Alhasil ini mengganggu upaya OPEC mengurangi produksi demi meningkatkan harga.
Perusahaan energi Baker Hughes menyatakan pengebor telah menambah delapan rig minyak dalam seminggu sampai 10 Februari. Sehingga total mencapai 591, tertinggi sejak Oktober 2015. Ketika harga si emas hitam berkisar USD30 per barel pada tahun lalu, hanya ada 439 rig minyak aktif.
Mengingat tren ini, analis mengatakan bahwa OPEC mungkin harus memperpanjang pemotongan untuk jangka waktu lebih lama daripada saat ini direncanakan paruh pertama 2017.
ANZ Bank lantas mengatakan pedagang akan menunggu rilis laporan bulanan dari OPEC. “Jika pengurangan produksi terjadi seperti yang disarankan, maka harga minyak akan mendorong lebih tinggi,” tulis mereka, Senin ini.
Mengutip dari Reuters, Senin ini, harga minyak mentah berjangka Brent International diperdagangkan turun 15 sen ke level USD56,55 per barel pada pukul 00:35 GMT.
Harga minyak mentah berjangka AS, West Texas Intermediate (WTI) melemah 12 sen menjadi USD53,74 per barel.
Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan produsen non-OPEC yaitu Rusia memang telah sepakat memangkas produksi hampir 1,8 juta barel per hari selama semester pertama 2017 dalam upaya mengendalikan overhang pasokan bahan bakar global.
Namun Amerika Serikat melakukan upaya peningkatan kegiatan pengeboran demi mendorong produksi. Alhasil ini mengganggu upaya OPEC mengurangi produksi demi meningkatkan harga.
Perusahaan energi Baker Hughes menyatakan pengebor telah menambah delapan rig minyak dalam seminggu sampai 10 Februari. Sehingga total mencapai 591, tertinggi sejak Oktober 2015. Ketika harga si emas hitam berkisar USD30 per barel pada tahun lalu, hanya ada 439 rig minyak aktif.
Mengingat tren ini, analis mengatakan bahwa OPEC mungkin harus memperpanjang pemotongan untuk jangka waktu lebih lama daripada saat ini direncanakan paruh pertama 2017.
ANZ Bank lantas mengatakan pedagang akan menunggu rilis laporan bulanan dari OPEC. “Jika pengurangan produksi terjadi seperti yang disarankan, maka harga minyak akan mendorong lebih tinggi,” tulis mereka, Senin ini.
(ven)
Lihat Juga :