Tak Direkomendasi KPK, Calon DK OJK Gagal Melaju
Senin, 13 Maret 2017 - 17:39 WIB
Tak Direkomendasi KPK, Calon DK OJK Gagal Melaju
A
A
A
JAKARTA - Anggota Tim Panitia Seleksi (pansel) Calon Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (DK OJK) Ariyanti Suliyanto menuturkan, terdapat perbedaan untuk proses seleksi calon DK OJK periode sekarang dengan sebelumnya. Meskipun secara umum tidak ada perbedaan signifikan, namun ada dua hal yang dianggap sebagai pembeda dalam seleksi tersebut.
(Baca: Air Mata dan Keringat Dingin Warnai Seleksi Calon DK OJK )
Seperti diketahui, OJK baru berdiri sekitar 2012 dan pada waktu itu, ketua dewan komisioner dijabat Muliaman D Hadad. Di periode ini, Muliaman kembali mencalonkan, namun tidak lolos ke tahap seleksi berikutnya.
"Secara umum tidak ada perbedaan, namun mungkin perbedaannya dua hal. Yakni, kalau dulu OJK itu lembaganya sendiri baru berdiri, jadi yang ditanyakan untuk ke depannya, kalau sekarang otomatis ada unsur evaluasi kinerja. Kedua, respons dari yang memberi masukan, jauh lebih banyak dibanding periode sebelumnya," ujar dia di Kantor Kemenken, Jakarta, Senin (13/3/2017).
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati yang juga sebagai Ketua Pansel Calon DK OJK menceritakan, yang membedakan proses seleksi periode sekarang dengan dulu yakni, saat itu OJK belum terbentuk dan sekarang sudah lima tahun bekerja.
(Baca: 21 Nama Calon DK OJK Diserahkan ke Jokowi )
"Kerana itu pertanyaannya kali ini, terkait apa masalah dan apa yang sudah terjadi, apa yang belum tapi tidak dilakukan, dan bagaimana ke depan," imbuhnya.
Dari sisi masukan institusi-institusi, dia mengakui ini luar biasa detail dan sangat membantu yakni dari PPPATK, KPK, Ditjen Pajak dan lembaga lainnya. Sehingga, tim pansel bisa mengetahui, menanyakan dan mengecek informasi seputar calon DK OJK.
Sebab, ada beberapa nama yang di drop out karena data dari KPK mengatakan bahwa orang tersebut tidak direkomendasikan. Kemudian ada juga dari PPATK yang menyebutkan calon tersebut sangat tidak usual karena ada masalah hukum.
"Ada juga yang di drop karena mereka tidak lulus fit and proper test di OJK dan BI, ada juga nama yang kami drop karena SPT dan LHKPN-nya akan masih kita tanya hingga tahap terkahir," kata Sri Mulyani.
(Baca: Sri Mulyani Gerah Dinilai Dominasi Seleksi Calon DK OJK )
Seleksi yang sedemikian ketatnya, diakui Sri Mulyani sangat membantu pansel dalam mencari calon yang memiliki totalitas dan integritas terhadap jabatan di OJK nantinya. Lewat rekam jejak itulah, pansel mencari orang-orang yang benar-benar pantas.
"Untuk integritas kami mengalokasikan waktu yang sangat banyak untuk melihat rekam jejak bahkan waktu dulu saat mereka menjalani profesinya. Kami sangat mengapresiasi data itu karena sangat membantu pansel," terang dia.
(Baca: Air Mata dan Keringat Dingin Warnai Seleksi Calon DK OJK )
Seperti diketahui, OJK baru berdiri sekitar 2012 dan pada waktu itu, ketua dewan komisioner dijabat Muliaman D Hadad. Di periode ini, Muliaman kembali mencalonkan, namun tidak lolos ke tahap seleksi berikutnya.
"Secara umum tidak ada perbedaan, namun mungkin perbedaannya dua hal. Yakni, kalau dulu OJK itu lembaganya sendiri baru berdiri, jadi yang ditanyakan untuk ke depannya, kalau sekarang otomatis ada unsur evaluasi kinerja. Kedua, respons dari yang memberi masukan, jauh lebih banyak dibanding periode sebelumnya," ujar dia di Kantor Kemenken, Jakarta, Senin (13/3/2017).
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati yang juga sebagai Ketua Pansel Calon DK OJK menceritakan, yang membedakan proses seleksi periode sekarang dengan dulu yakni, saat itu OJK belum terbentuk dan sekarang sudah lima tahun bekerja.
(Baca: 21 Nama Calon DK OJK Diserahkan ke Jokowi )
"Kerana itu pertanyaannya kali ini, terkait apa masalah dan apa yang sudah terjadi, apa yang belum tapi tidak dilakukan, dan bagaimana ke depan," imbuhnya.
Dari sisi masukan institusi-institusi, dia mengakui ini luar biasa detail dan sangat membantu yakni dari PPPATK, KPK, Ditjen Pajak dan lembaga lainnya. Sehingga, tim pansel bisa mengetahui, menanyakan dan mengecek informasi seputar calon DK OJK.
Sebab, ada beberapa nama yang di drop out karena data dari KPK mengatakan bahwa orang tersebut tidak direkomendasikan. Kemudian ada juga dari PPATK yang menyebutkan calon tersebut sangat tidak usual karena ada masalah hukum.
"Ada juga yang di drop karena mereka tidak lulus fit and proper test di OJK dan BI, ada juga nama yang kami drop karena SPT dan LHKPN-nya akan masih kita tanya hingga tahap terkahir," kata Sri Mulyani.
(Baca: Sri Mulyani Gerah Dinilai Dominasi Seleksi Calon DK OJK )
Seleksi yang sedemikian ketatnya, diakui Sri Mulyani sangat membantu pansel dalam mencari calon yang memiliki totalitas dan integritas terhadap jabatan di OJK nantinya. Lewat rekam jejak itulah, pansel mencari orang-orang yang benar-benar pantas.
"Untuk integritas kami mengalokasikan waktu yang sangat banyak untuk melihat rekam jejak bahkan waktu dulu saat mereka menjalani profesinya. Kami sangat mengapresiasi data itu karena sangat membantu pansel," terang dia.
(izz)