Ini Efek dari Kenaikan Suku Bunga The Fed
Kamis, 16 Maret 2017 - 23:03 WIB
Ini Efek dari Kenaikan Suku Bunga The Fed
A
A
A
JAKARTA - Chief Economist PT Bank CIMB Niaga Tbk Adrian Panggabean memaparkan, naiknya suku bunga acuan Amerika Serikat sebesar 25 basis point (bps) sudah diantisipasi oleh pelaku pasar.
Sejak dua pekan lalu, pasar sudah melihat kemungkinan besar naiknya Fed funds rate sebagai keniscayaan. Sebagai bagian dari antisipasi pasar, USD Libor telah bergerak naik secara gradual.
"Yang menarik, walaupun USD Libor bergerak naik, indeks dolar (dikenal dengan kode DXY) tetap berkisar dikisaran 101-103," ujar dia kepada KORAN SINDO di Jakarta, Kamis, (16/3/2017).
Akibatnya, pasar tidak mengantisipasi adanya perubahan ekstrim dalam nilai mata uang. Hal yang sama terjadi dalam mata uang euro. Euro Libor terus bergerak turun namun indeks mata uang Euro tetap berkisar di kisaran 1,04-1,07.
Menurut dia, ini mengindikasikan bahwa pasca kenaikan Fed funds rate, kurs rupiah nampaknya berpotensi relatif stabil dengan pola pergerakan granular yang lebih ditentukan oleh fundamental.
"Maknanya, mungkin rupiah akan tetap berada di kisaran yang kita lihat selama dua bulan terakhir," ungkapnya.
Yang juga menarik, kenaikan Fed funds rate tadi malam ternyata diikuti oleh turunnya yield dari US Treasury dan naiknya indeks komoditas. Turunnya yield di US Treasury menyebabkan yield obligasi Indonesia menjadi relatif stabil pada kisaran 7,2%-7,4%.
Naiknya indeks komoditas, disisi lain, jelas menguntungkan ekspor Indonesia dan menguntungkan mata uang negara-negara penghasil komoditas (termasuk didalamnya Indonesia).
Kedepannya, Adrian memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp13.300-Rp13.600 per USD. Yield obligasi 10 tahun juga akan tetap berada di rentang 7,3%-7,6% dengan kemungkinan turun ke arah 7,1% bila pada bulan Mei 2017 Indonesia dianugerahi dengan investment grade rating oleh S&P.
Sejak dua pekan lalu, pasar sudah melihat kemungkinan besar naiknya Fed funds rate sebagai keniscayaan. Sebagai bagian dari antisipasi pasar, USD Libor telah bergerak naik secara gradual.
"Yang menarik, walaupun USD Libor bergerak naik, indeks dolar (dikenal dengan kode DXY) tetap berkisar dikisaran 101-103," ujar dia kepada KORAN SINDO di Jakarta, Kamis, (16/3/2017).
Akibatnya, pasar tidak mengantisipasi adanya perubahan ekstrim dalam nilai mata uang. Hal yang sama terjadi dalam mata uang euro. Euro Libor terus bergerak turun namun indeks mata uang Euro tetap berkisar di kisaran 1,04-1,07.
Menurut dia, ini mengindikasikan bahwa pasca kenaikan Fed funds rate, kurs rupiah nampaknya berpotensi relatif stabil dengan pola pergerakan granular yang lebih ditentukan oleh fundamental.
"Maknanya, mungkin rupiah akan tetap berada di kisaran yang kita lihat selama dua bulan terakhir," ungkapnya.
Yang juga menarik, kenaikan Fed funds rate tadi malam ternyata diikuti oleh turunnya yield dari US Treasury dan naiknya indeks komoditas. Turunnya yield di US Treasury menyebabkan yield obligasi Indonesia menjadi relatif stabil pada kisaran 7,2%-7,4%.
Naiknya indeks komoditas, disisi lain, jelas menguntungkan ekspor Indonesia dan menguntungkan mata uang negara-negara penghasil komoditas (termasuk didalamnya Indonesia).
Kedepannya, Adrian memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp13.300-Rp13.600 per USD. Yield obligasi 10 tahun juga akan tetap berada di rentang 7,3%-7,6% dengan kemungkinan turun ke arah 7,1% bila pada bulan Mei 2017 Indonesia dianugerahi dengan investment grade rating oleh S&P.
(ven)
Lihat Juga :