Ekonomi Jateng Kuartal II Diprediksi Tumbuh 5,5%-5,9%
Rabu, 22 Maret 2017 - 21:25 WIB
Ekonomi Jateng Kuartal II Diprediksi Tumbuh 5,5%-5,9%
A
A
A
SEMARANG - Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah (Jateng) pada triwulan II/2017 mencapai 5,5%-5,9%. Adanya hari besar keagamaan pada masa tersebut diperkirakan menjadi pemicu kenaikan pertumbuhan ekonomi tersebut.
Kepala Perwakilan BI Provinsi Jateng Hamid Ponco Wibowo mengatakan, adanya hari keagamaan akan meningkatkan konsumsi masyarakat. Sepanjang 2016 pertumbuhan ekonomi Jateng mengalami perlambatan dibanding tahun sebelumnya.
Perlambatan tersebut terjadi pada sisi konsumsi rumah tangga. "Kemudian ekspor juga melambat," ucapnya di Semarang, Rabu (22/3/2017).
Selain kenaikan pertumbuhan ekonomi, BI juga memperkirakan peningkatan inflasi triwulan II/2017. Adanya hari-hari besar keagamaan disebutnya juga menjadi salah satu pemicu terjadinya inflasi.
BI, lanjut dia, mencatat selama dua bulan pertama 2017 akumulasi tingkat inflasi mencapai 1,56%. Dia mengatakan, inflasi mengalami kecenderungan penurunan dari Januari ke Februari.
Bahkan dia memperkirakan pada Maret 2017 justru akan terjadi deflasi. BI juga memperkirakan tingkat inflasi pada 2017 akan lebih tinggi dibanding 2016 akibat pengaruh berbagai faktor, termasuk adanya rencana kenaikan tarif listrik.
"Tantangan bagi TPID untuk bekerja lebih baik agar target 4 plus minus 1 bisa tercapai," katanya.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jateng Margo Yuwono mengatakan, pertumbuhan ekonomi provinsi ini mencapai 5,28% lebih rendah dari tahun sebelumnya mencapai 5,4%. Pertumbuhan ekonomi tergolong bagus karena di atas angka nasional 5,02%, bisa disebut performa Jateng masih bagus.
"Belum banyak provinsi mencapai angka ini. Pertumbuhan ekonomi terjadi pada seluruh lapangan usaha seperti pertambangan dan penggalian merupakan lapangan usaha yang mengalami pertumbuhan tertinggi," katanya.
Kepala Perwakilan BI Provinsi Jateng Hamid Ponco Wibowo mengatakan, adanya hari keagamaan akan meningkatkan konsumsi masyarakat. Sepanjang 2016 pertumbuhan ekonomi Jateng mengalami perlambatan dibanding tahun sebelumnya.
Perlambatan tersebut terjadi pada sisi konsumsi rumah tangga. "Kemudian ekspor juga melambat," ucapnya di Semarang, Rabu (22/3/2017).
Selain kenaikan pertumbuhan ekonomi, BI juga memperkirakan peningkatan inflasi triwulan II/2017. Adanya hari-hari besar keagamaan disebutnya juga menjadi salah satu pemicu terjadinya inflasi.
BI, lanjut dia, mencatat selama dua bulan pertama 2017 akumulasi tingkat inflasi mencapai 1,56%. Dia mengatakan, inflasi mengalami kecenderungan penurunan dari Januari ke Februari.
Bahkan dia memperkirakan pada Maret 2017 justru akan terjadi deflasi. BI juga memperkirakan tingkat inflasi pada 2017 akan lebih tinggi dibanding 2016 akibat pengaruh berbagai faktor, termasuk adanya rencana kenaikan tarif listrik.
"Tantangan bagi TPID untuk bekerja lebih baik agar target 4 plus minus 1 bisa tercapai," katanya.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jateng Margo Yuwono mengatakan, pertumbuhan ekonomi provinsi ini mencapai 5,28% lebih rendah dari tahun sebelumnya mencapai 5,4%. Pertumbuhan ekonomi tergolong bagus karena di atas angka nasional 5,02%, bisa disebut performa Jateng masih bagus.
"Belum banyak provinsi mencapai angka ini. Pertumbuhan ekonomi terjadi pada seluruh lapangan usaha seperti pertambangan dan penggalian merupakan lapangan usaha yang mengalami pertumbuhan tertinggi," katanya.
(izz)
Lihat Juga :