Kriteria Tanah Menganggur yang Dikenai Pajak Dipertajam

Kamis, 06 April 2017 - 19:25 WIB
Kriteria Tanah Menganggur...
Kriteria Tanah Menganggur yang Dikenai Pajak Dipertajam
A A A
JAKARTA - Pemerintah terus mengkaji penerapan pajak bagi tanah menganggur sebagai bagian dari paket kebijakan ekonomi berkeadilan sesuai amanat Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk memeratakan pembangunan ekonomi.

Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Mardiasmo mengatakan, pemerintah akan berhati-hati menetapkan kriteria tanah menganggur yang akan dipajaki. Pajak progresif ditujukan seoptimal mungkin kepada para spekulan tanah.

"Kita nanti ada threshold (batas) tanah seperti apa yang tidak dikenai pajak. Misalnya, mereka-mereka yang punya tanah hanya untuk rumah pribadi berapa meter tidak dikenakan pajak. Tapi yang ratusan hektare dikasih pajak," kata dia di Jakarta, Kamis (6/4/2017).

Menurutnya, ada tiga opsi yang bisa digunakan sebagai skema pajak tanah. Pertama, pajak progresif atas kepemilikan akibat penguasaan lahan yang timpang karena dikuasai sekelompok orang atau korporasi.

Kedua, pajak tanah menganggur atau unitilized asset tax (UAT) akibat banyak pengembang dan spekulan yang menjadikan tanah sebagai landbanking dan mencari keuntungan atas selisih harga jual dan harga beli. "Terakhir, capital gain tax," ucapnya.

Selain UAT, skema pajak tersebut bisa dipertajam atas pajak tanah yang ada sebelumnya seperti Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) atas kepemilikan lahan dan pajak penghasilan (PPh) Final atas Pengalihan Aset dan Bangunan sebesar 2,5%, serta Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB).

Namun, hingga kini pemerintah belum menentukan skema pajak mana saja yang akan diambil. "Kita lihat dulu skemanya. Seberapa mewah tanahnya apakah tanah itu di kawasan pertanian atau industri," tambah Mardiasmo.

Pihaknya memahami bahwa Presiden ingin agar kebijakan ini bisa sesegera mungkin dikeluarkan. Meski begitu, dia menilai perlu kajian mendalam sehingga kebijakan ini bisa tepat sasaran.

"Kita harus buat hitungan yang baik sehingga pajak ini nantinya bisa membatasi gerak para spekulan tanah," imbuh dia.
(dmd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Aksi Menuntut Reformasi...
Aksi Menuntut Reformasi Pegawai Pajak
Diskon Pajak Mobil Baru...
Diskon Pajak Mobil Baru Berlaku Mulai 1 Maret 2021
Negara yang Kaya Tanpa...
Negara yang Kaya Tanpa Memungut Pajak dari Rakyatnya
Indonesia Demam Pajak,...
Indonesia Demam Pajak, 5 Negara Ini Bebas Pajak
Kapolri: Polri akan...
Kapolri: Polri akan Kawal Kepatuhan Wajib Pajak untuk Bayar Pajak
Adaro Raih Penghargaan...
Adaro Raih Penghargaan Wajib Pajak
Berita Terkini
Nasib IHSG Siang Ini,...
Nasib IHSG Siang Ini, Babak Belur Tergelincir 2,42% ke 5.679
16 menit yang lalu
AKPY, BPDP dan Ditjenbun...
AKPY, BPDP dan Ditjenbun Sinergi Gelar Pelatihan Teknis 90 Pekebun Sawit
38 menit yang lalu
Kemnaker: Korban PHK...
Kemnaker: Korban PHK Tembus 43.000 Orang, Sektor Manufaktur Terbanyak
1 jam yang lalu
KTM Growth Forum 2026,...
KTM Growth Forum 2026, Bahas Kesiapan Talenta dan Suksesi Kepemimpinan
2 jam yang lalu
Kabar Buruk, Perusahaan...
Kabar Buruk, Perusahaan Rokok Raksasa Ini Bakal PHK 9.000 Karyawan
2 jam yang lalu
Harga Emas Antam Turun...
Harga Emas Antam Turun Rp15.000 Jadi Rp2,63 Juta per Gram Hari Ini
3 jam yang lalu
Infografis
Bagher Ghalibaf, Negosiator...
Bagher Ghalibaf, Negosiator Iran dan Tangan Kanan Mojtaba yang Mampu Tundukkan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved