Resolusi Sawit Uni Eropa Jadi Beban Ekspor CPO RI
Senin, 17 April 2017 - 19:54 WIB
Resolusi Sawit Uni Eropa Jadi Beban Ekspor CPO RI
A
A
A
JAKARTA - Resolusi sawit parlemen Uni Eropa (UE) menurut Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Sasmito Hadi Wibowo bakal menjadi beban ekspor Indonesia terutama crude palm oil (CPO) menuju benua biru. Seperti diketahui melalui resolusi, Parlemen Eropa menyerukan pelarangan impor minyak sawit tak ramah lingkungan dan dilarang digunakan dalam biofuel.
(Baca Juga: Menko Darmin Berharap Resolusi Sawit Parlemen Eropa Tak Ganggu Ekspor )
Parlemen Eropa juga mendesak UE harus memperkenalkan skema sertifikasi tunggal untuk kelapa sawit yang masuk ke pasar Uni Eropa, demi menanggulangi dampak dari produksi minyak sawit tak berkelanjutan alias tak ramah lingkungan, seperti deforestasi dan degradasi habitat, terutama di Asia Tenggara.
Jika ini terjadi, kata Sasmito, otomatis ekspor nonmigas Indonesia ke Eropa akan turun dalam waktu yang singkat. Menurutnya ini menjadi sebuah tantangan yang harus segera dipikirkan oleh pemerintah Indonesia. "CPO kan lumayan berat untuk saat ini. Kita dapat tantangan dari kedelai dan bunga matahari dari berbagai negara. Sehingga CPO akan sulit bersaing," kata dia di Jakarta, Senin (17/4/2017).
Dia berharap meskipun agak sulit, namun ekspornya minimal akan stagnan dan tidak turun untuk bulan-bulan berikutnya. Karena CPO cukup berperan penting untuk angka ekspor Indonesia. "Kalau harganya stagnan, tidak turun saja itu sudah bagus sekali," imbuhnya.
Sehingga nampaknya dari sisi ekspor asal itu bisa bertahan, angka ekspor tidak akan goyang. Selanjutnya juga untuk Lebaran, harga minyak goreng nampaknya juga akan stagnan. "Ini karena CPO kita harganya juga tidak naik signifikan. Bayangan saya begitu," pungkasnya.
(Baca Juga: Menko Darmin Berharap Resolusi Sawit Parlemen Eropa Tak Ganggu Ekspor )
Parlemen Eropa juga mendesak UE harus memperkenalkan skema sertifikasi tunggal untuk kelapa sawit yang masuk ke pasar Uni Eropa, demi menanggulangi dampak dari produksi minyak sawit tak berkelanjutan alias tak ramah lingkungan, seperti deforestasi dan degradasi habitat, terutama di Asia Tenggara.
Jika ini terjadi, kata Sasmito, otomatis ekspor nonmigas Indonesia ke Eropa akan turun dalam waktu yang singkat. Menurutnya ini menjadi sebuah tantangan yang harus segera dipikirkan oleh pemerintah Indonesia. "CPO kan lumayan berat untuk saat ini. Kita dapat tantangan dari kedelai dan bunga matahari dari berbagai negara. Sehingga CPO akan sulit bersaing," kata dia di Jakarta, Senin (17/4/2017).
Dia berharap meskipun agak sulit, namun ekspornya minimal akan stagnan dan tidak turun untuk bulan-bulan berikutnya. Karena CPO cukup berperan penting untuk angka ekspor Indonesia. "Kalau harganya stagnan, tidak turun saja itu sudah bagus sekali," imbuhnya.
Sehingga nampaknya dari sisi ekspor asal itu bisa bertahan, angka ekspor tidak akan goyang. Selanjutnya juga untuk Lebaran, harga minyak goreng nampaknya juga akan stagnan. "Ini karena CPO kita harganya juga tidak naik signifikan. Bayangan saya begitu," pungkasnya.
(akr)
Lihat Juga :