Rupiah Sore Ini Mendatar Saat Dolar Australia Ambruk

Rabu, 26 April 2017 - 17:16 WIB
Rupiah Sore Ini Mendatar...
Rupiah Sore Ini Mendatar Saat Dolar Australia Ambruk
A A A
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan hari ini ditutup mendatar meski pada pembukaan tadi pagi sempat menguat hingga sesi siang. Kondisi stabilnya rupiah ini terjadi saat dolar Australia dan Selandia Baru merosot terhadap USD.

Data Bloomberg menunjukkan rupiah tercatat mendatar dari posisi kemarin di level Rp13.284/USD. Hingga perdagangan sore, rupiah bergerak pada kisaran level Rp13.273-Rp13.306/USD.

Data SINDOnews bersumber dari Limas juga menunjukkan rupiah di perdagangan sore ini berada pada level Rp13.295/USD. Posisi ini stabil dari posisi kemarin.

Sementara, rupiah menurut Yahoo Finance pada hari ini ditutup di level Rp13.296/USD atau melemah dibandingkan dari posisi penutupan kemarin Rp13.271/USD. Rupiah sendiri bergerak dengan kisaran Rp13.260-Rp13.304/USD.

Data dari kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI, rupiah tertahan pada level Rp13.278/USD. Posisi ini menanjak dari posisi sebelumnya yang berada di level Rp13.296/USD.

Seperti dilansir Reuters, Rabu (26/4/2017), dolar Australia dan Selandia Baru merosot pada perdagangan hari ini, memimpin pergerakan di antara mata uang utama yang berkembang setelah data inflasi Australia menunjukkan ekonomi mengalami tekanan dari pertumbuhan biasa-biasa saja di China.

Euro terhadap USD mundur dari level tertingginya dalam 5,5 bulan karena dorongan dari hasil putaran pertama pemilihan presiden Prancis Minggu kemarin. Pedagang mengatakan dolar Aussie, Selandia Baru dan Kanada merasa baik dengan prospek pertumbuhan global, masih mengalami penurunan stabil di sejumlah pasar komoditas utama sejak Februari.

Sementara pasar saham global telah bangkit ke posisi tertinggi sejak pemungutan suara di Prancis, meningkatnya selera untuk risiko pasar mata uang tampaknya sebagian besar terbatas di Eropa, didorong oleh ekspektasi perubahan arah kebijakan Bank Sentral Eropa dalam beberapa bulan mendatang.

Inflasi Australia naik menjadi 2,1% yang pada awalnya mendorong dolar menguat, namun indikator inflasi inti yang mendasarinya kurang cerah, menyeret mata uang ke bawah.

Aussie turun 0,6% terhadap USD ke level 0,7491 pada awal perdagangan Eropa, terendah sejak 12 April. Mata uang Selandia Baru terhadap USD turun 0,7% ke level 0,6898. Sementara USD terhadap yen masih menguat sebesar 0,3% ke level 111,38, menarik lebih jauh dari level terendahnya dalam lima bulan di posisi 108,13.
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Rupiah Ditutup Melemah...
Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.409 per Dolar AS
Rupiah Terlemah Sepanjang...
Rupiah Terlemah Sepanjang Sejarah
Rupiah Ditutup Melemah...
Rupiah Ditutup Melemah ke Level Rp15.526
Wacana Lama Hidup Lagi,...
Wacana Lama Hidup Lagi, Ini Dua Sisi Pentingnya Redenominasi Rupiah
Bikin Gaduh Karena Keliru...
Bikin Gaduh Karena Keliru Tampilkan Kurs Rupiah, Pengamat: Google Harus Tanggung Jawab!
Google Keliru Tampilkan...
Google Keliru Tampilkan Kurs Rupiah, Pengamat: Timbulkan Kegaduhan!
Berita Terkini
Sensus Ekonomi 2026...
Sensus Ekonomi 2026 Resmi Dimulai Besok 15 Juni 2026, Usaha Nasional Didata Tanpa Terkecuali
6 jam yang lalu
Prabowo Perintahkan...
Prabowo Perintahkan Rosan Jelaskan Kondisi Investasi RI di Istana Merdeka Besok
7 jam yang lalu
Mengapa Harga Pertamax...
Mengapa Harga Pertamax Naik? Kemkomdigi: Karena Indonesia Tak Hidup Sendirian
8 jam yang lalu
Siap-siap! Harga Rumah...
Siap-siap! Harga Rumah Subsidi Bakal Naik, Ini Penyebabnya
10 jam yang lalu
Dorong Penguatan Pendidikan...
Dorong Penguatan Pendidikan Vokasi Ganda, Endress+Hauser Gelar Education Forum 2026
11 jam yang lalu
IHSG Besok Berpeluang...
IHSG Besok Berpeluang Lanjut Reli ke Level 6.100, Intip Faktor Pendongkraknya
11 jam yang lalu
Infografis
6 Jenderal Bintang 4...
6 Jenderal Bintang 4 AS Ini Pernah Peringatkan Trump soal Risiko Perang Melawan Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved