Darmin: Ketimpangan Indonesia Memburuk sejak Krisis 1998

Kamis, 27 April 2017 - 12:56 WIB
Darmin: Ketimpangan...
Darmin: Ketimpangan Indonesia Memburuk sejak Krisis 1998
A A A
JAKARTA - Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution menuturkan, ekonomi Indonesia sejak krisis 1998-1999 secara perlahan mengalami perubahan. Pada saat perbaikan tersebut, industri perlahan berubah dari industri pengolahan menjadi pengolahan sumber daya alam.

Namun, transformasi tersebut agak aneh, karena sektor pertanian tidak terserap ke industri manufaktur meski termasuk negara agraris.

"Maka, tidak mengherankan kalau hingga sekarang pertumbuhan ekonomi kita diiringi dengan gini ratio yang memburuk. Karena yang dikelola tambang mahal. Memang ada perkebunan, tapi tetap tak sebanyak sektor industri," katanya Gedung BPS, Jakarta, Kamis (27/4/2017).

Menurutnya, gini ratio sebenarnya sudah memburuk sejak krisis tersebut. Hal ini dikarenakan sumber daya manusia (SDM) yang tidak mencukupi mengelola sumber daya yang ada. Sehingga saat ini sedang dilakukan usaha untuk memperbaiki keadaan.

Salah satunya dengan melakukan pembangunan selama dua tahun terakhir dimulai dari daerah. "Kami selain meneruskan pola pembangunan yang dijalankan dua tahun, belakangan mulai dari pembangunan infrastruktur, deregulasi, debirokratisasi, mendorong perkembangan industri, mendorong perkembangan pariwisata, mendorong perkembangan beberapa sektor lain, ini sebetulnya tinggal transformasi," tutur Darmin.

Dia mengatakan, pembangunan saja tidak cukup untuk memperbaiki gini ratio, maka pemerintah juga mendesain kebijakan yang disebut pemerataan kebijakan ekonomi yang didalamnya terdapat tiga pilar.

"Pertama, kebijakan pemerataan lahan. Ini area yang tak pernah bisa kita selesaikan, tak bisa kita hanya ngomong saja. Kita kasih kesempatan yang sama bagi semua. Kedua, pelatihan dan pendidikan vokasi untuk apasitas manusia. Ketiga, kesempatan yang diberikan," terngnya.
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Membaca Ketahanan Ekonomi...
Membaca Ketahanan Ekonomi RI dalam Dinamika Global Kuartal III 2025
Indonesia Butuh Rp47.587,3...
Indonesia Butuh Rp47.587,3 Triliun untuk Pertumbuhan Ekonomi 8%
Bahaya! Deflasi Hantam...
Bahaya! Deflasi Hantam Ekonomi RI 5 Bulan Beruntun
Prabowo Sering Diejek...
Prabowo Sering Diejek karena Targetkan Pertumbuhan Ekonomi 8%
Pertumbuhan Ekonomi...
Pertumbuhan Ekonomi Sulawesi Selatan Kuartal I Tahun 2024
Dorong Industri Event...
Dorong Industri Event untuk Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Berita Terkini
Perbandingan Harga BBM...
Perbandingan Harga BBM Pertamina, Shell, Vivo dan BP di Awal Juni 2026
15 menit yang lalu
Libur Sekolah 2026,...
Libur Sekolah 2026, Tarif Angkutan Penyeberangan Diskon Sekitar 21,9%
47 menit yang lalu
Hindari Selat Hormuz!...
Hindari Selat Hormuz! India Diam-Diam Gandeng Rusia Buka Jalur Es Ekstrem
1 jam yang lalu
Energi Menjadi Medan...
Energi Menjadi Medan Perang AS-China di Abad Ini
11 jam yang lalu
PLN EPI Targetkan Pengembangan...
PLN EPI Targetkan Pengembangan Bio-CNG Berbasis Limbah Sawit Dukung Transisi Energi
12 jam yang lalu
IHSG dan Rupiah Tertekan,...
IHSG dan Rupiah Tertekan, Pasar Uji Kredibilitas Sistem Keuangan Indonesia
12 jam yang lalu
Infografis
Ranking FIFA Terbaru:...
Ranking FIFA Terbaru: Argentina Gusur Spanyol di Puncak, Indonesia Meroket 4 Tingkat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved