Indef Sebut Ketimpangan di Indonesia Terjadi sejak 1999
Kamis, 04 Mei 2017 - 14:01 WIB
Indef Sebut Ketimpangan di Indonesia Terjadi sejak 1999
A
A
A
JAKARTA - Institute for Development of Economics and Finance (Indef) mengungkapkan, ketimpangan di Indonesia sudah terjadi sejak 1999 atau setelah reformasi. Bahkan saat ini, Indonesia menjadi negara yang ketimpangannya termasuk paling tinggi di antara negara-negara Asia Pasifik.
Padahal, dalam beberapa tahun terakhir angka ketimpangan turun bertahap karena adanya penurunan harga komoditas. Sehingga, orang yang tadinya mendapat surplus harga tinggi dari komoditas, melakukan pengereman konsumsinya.
Anggota Peneliti dari Indef Imaduddin Abdullah mengatakan, ada tiga hal yang memengaruhi ketimpangan di Indonesia. "Ketimpangan kita jauh lebih tinggi dari Taiwan dan Jepang tapi lebih baik dari Malaysia dan Vietnam. Faktor yang menyebabkan ketimpangan, pertama, pertumbuhan yang tidak berkualitas. Kedua, adanya ketimpangan akses," kata dia di kantor Indef, Jakarta, Kamis (4/5/2017).
Menurutnya, ketimpangan akses ini meliputi akses pendidikan, kesehatan, air bersih, dan lainnya kebanyakan menyasar kelompok bawah. Sejauh ini, 95% kelompok atas, sudah menikmati akses kesehatan yang layak, beda dengan menengah ke bawah.
"Karena logikanya begini, kalau mereka akses kesehatannya cukup, pasti lebih produktif, kalau pendidikannya bagus, dia akan menciptakan sesuatu yang produktif juga," ujarnya.
Ketiga, ketimpangan aset dalam hal ini berkaitan dengan tanah. Ima menilai, ketimpangan tanah di Indonesia menjadi masalah urgent karena berbeda dengan ketimpangan akses pendidikan dan kesehatan.
"Kita kahwatirkan, dengan ketimpangan itu, dapat terjadi instabilitas politik yang lebih banyak karena disebabkan kesenjangan dan ketimpangan," tutur dia.
Padahal, dalam beberapa tahun terakhir angka ketimpangan turun bertahap karena adanya penurunan harga komoditas. Sehingga, orang yang tadinya mendapat surplus harga tinggi dari komoditas, melakukan pengereman konsumsinya.
Anggota Peneliti dari Indef Imaduddin Abdullah mengatakan, ada tiga hal yang memengaruhi ketimpangan di Indonesia. "Ketimpangan kita jauh lebih tinggi dari Taiwan dan Jepang tapi lebih baik dari Malaysia dan Vietnam. Faktor yang menyebabkan ketimpangan, pertama, pertumbuhan yang tidak berkualitas. Kedua, adanya ketimpangan akses," kata dia di kantor Indef, Jakarta, Kamis (4/5/2017).
Menurutnya, ketimpangan akses ini meliputi akses pendidikan, kesehatan, air bersih, dan lainnya kebanyakan menyasar kelompok bawah. Sejauh ini, 95% kelompok atas, sudah menikmati akses kesehatan yang layak, beda dengan menengah ke bawah.
"Karena logikanya begini, kalau mereka akses kesehatannya cukup, pasti lebih produktif, kalau pendidikannya bagus, dia akan menciptakan sesuatu yang produktif juga," ujarnya.
Ketiga, ketimpangan aset dalam hal ini berkaitan dengan tanah. Ima menilai, ketimpangan tanah di Indonesia menjadi masalah urgent karena berbeda dengan ketimpangan akses pendidikan dan kesehatan.
"Kita kahwatirkan, dengan ketimpangan itu, dapat terjadi instabilitas politik yang lebih banyak karena disebabkan kesenjangan dan ketimpangan," tutur dia.
(izz)
Lihat Juga :