Tumbuhkan Industri, Kemenperin Minta BI Turunkan Suku Bunga

Minggu, 07 Mei 2017 - 13:55 WIB
Tumbuhkan Industri,...
Tumbuhkan Industri, Kemenperin Minta BI Turunkan Suku Bunga
A A A
JAKARTA - Staf Khusus Menteri Perindustrian, Benny Soetrisno mengemukakan, pertumbuhan industri nasional akan lebih tinggi apabila tingkat suku bunga diturunkan signifikan oleh Bank Indonesia (BI). Sebab itu, dia berharap bank sentral dapat segera menurunkan tingkat suku bunga acuannya.

Menurut Benny, kebijakan suku bunga BI bisa menghambat pertumbuhan industri dan iklim investasi. “Dengan adanya deflasi, seharusnya BI menurunkan tingkat suku bunga,” ujarnya, dalam keterangan tertulis di Jakarta, Minggu (7/5/2017).

Dengan tingkat suku bunga rendah, sambung dia, kalangan industri akan mendapatkan pinjaman yang lebih murah sehingga mampu meningkatkan daya saing di tingkat internasional.

“Tingkat suku bunga di Tiongkok dan Singapura sangat rendah sekitar 4-5%. Bahkan, di beberapa negara lain malah lebih rendah lagi mencapai 3%," ungkapnya.

Anggota Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) ini menyatakan, penentuan suku bunga perbankan di Indonesia lebih tergantung kepada BI dan bank-bank pemerintah. "Sementara keinginan dunia usaha selama ini kurang diperhatikan," akunya.

Hal senada disampaikan Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi S Lukman yang menyatakan bahwa suku bunga kredit bank yang terlalu besar sangat memberatkan bagi industri terutama skala menengah ke bawah. Apalagi, industri kecil dan menengah (IKM) merupakan sektor mayoritas dari populasi industri di Indonesia.

Adhi berharap, ke depannya, perbankan Indonesia semakin efisien dalam mengelola biaya operasional. "Artinya, pelaku industri meminta suku bunga kredit bisa turun dan jaraknya dengan suku bunga deposito tidak terlalu panjang," tutur dia.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi B Sukamdani mengatakan, apabila suku bunga perbankan belum turun secara signifikan akan membuat pelaku usaha untuk menahan ekspansi. Pasalnya, mereka mempertimbangkan kemampuan daya beli pasar yang masih rendah. “Yang penting adalah mendorong peningkatan pasar atau konsumsi rumah tangga di berbagai sektor,” tandasnya.
(dmd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Menperin Turun Langsung...
Menperin Turun Langsung Pantau Penerapan Protokol Kesehatan di Pabrik Makanan Ini
Inovatif dalam Teknologi,...
Inovatif dalam Teknologi, 11 Perusahaan Raih Penghargaan Rintek
Gelar Inovasi Produk...
Gelar Inovasi Produk dan Kompetisi Barista: Kemenperin Perkenalkan Susu Kacang Mede Lokal Pertama di Indonesia
Kemenperin Buka 971...
Kemenperin Buka 971 Formasi CPNS, Dari Tenaga Teknis hingga Kesehatan
Harga Gas Diusulkan...
Harga Gas Diusulkan Naik di Atas USD6 per MMBTU
KPK Bekali Pemahaman...
KPK Bekali Pemahaman Antikorupsi Pejabat Tinggi Kementerian Perindustrian
Berita Terkini
APKB Dorong Penyempurnaan...
APKB Dorong Penyempurnaan Regulasi Kawasan Berikat: Menjaga Daya Saing Industri dan Investasi
15 menit yang lalu
PLN EPI Tuntaskan Hot...
PLN EPI Tuntaskan Hot Tap WNTS-Pemping, Gas Natuna Siap Mengalir ke Dalam Negeri
30 menit yang lalu
Harga Batu Bara buat...
Harga Batu Bara buat PLN Bakal Naik, Begini Penjelasan Bahlil
1 jam yang lalu
Bekasi Fajar Cetak Laba...
Bekasi Fajar Cetak Laba Rp30 Miliar, Targetkan Penjualan Lahan Rp600 Miliar
1 jam yang lalu
Pertamina Masuk Fortune...
Pertamina Masuk Fortune Southeast Asia 500, Cermin Kekuatan Ekonomi Nasional di Mata Dunia
1 jam yang lalu
Bahlil Mengakui Pembangkit...
Bahlil Mengakui Pembangkit PLN Kekurangan Suplai Batu Bara Medium
1 jam yang lalu
Infografis
Senjata Makan Tuan,...
Senjata Makan Tuan, Tarif Trump Ancam Industri Senjata AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved