Selisih Harga Terlalu Jauh, Hambat Masyarakat Beralih ke Pertalite
Senin, 22 Mei 2017 - 19:15 WIB
Selisih Harga Terlalu Jauh, Hambat Masyarakat Beralih ke Pertalite
A
A
A
JAKARTA - PT Pertamina (Persero) mengemukakan saat ini terjadi staganansi peralihan (migrasi) konsumen premium ke pertalite. Kondisi tersebut terjadi lantaran selisih harga antara premium dan pertalite cukup jauh, sehingga masyarakat enggan beralih ke pertalite.
Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina, Muchammad Iskandar mengungkapkan, pada tahun lalu proses migrasi konsumen premium ke pertalite cukup cepat. Meskipun saat ini masih ada yang bermigrasi ke pertalite, namun pertumbuhannya tidak secepat tahun lalu.
"Ya terutama gap harga (antara premium dan pertalite). Tapi bukan stagnan tidak ada sama sekali tumbuhnya, tapi kita tumbuhnya pelan-pelan. Tumbuhnya enggak seperti tahun lalu yg loncat," ujarnya di Kantor Pusat Pertamina, Jakarta, Senin (22/5/2017).
Saat ini, harga premium sekitar Rp6.450 per liter sedangkan pertalite sekitar RP7.400 per liter. Artinya, ada selisih harga sekitar Rp950 per liter. Menurutnya, jika selisih harga mendekati Rp1.000 per liter maka yang terjadi justru konsumen pertamax beralih ke pertalite.
"Rp 1.000 iya. Itu sudah survey itu. Tetapi kan larinya itu Pertamax-nya banyak turun ke Pertalite," imbuh dia.
Kendati demikian, Iskandar masih meyakini hingga akhir tahun masih akan ada peralihan konsumen premium ke pertalite, khususnya di luar Jawa. Sebab saat ini perseroan tengah menggenjot pembangunan infrastruktur di SPBU agar bisa menjual pertalite.
"Masih sih, kami optimis akan migrasi, terutama di luar Jawa krn masalah infrastruktur kan. Banyak terminal kita yg belum siap utk Pertalite. Ini yang kita pacu. Kan kemarin kan Jawa, Sumatra, sudah. Misalnya Kalimantan ada beberapa lokasi yang belum tersedia Pertalite. Ini kita siapin. Daerah Sulawesi, Papua, Maluku, kita siapin untuk terminal," harap Iskandar.
Dia berharap, tahun ini perbandingan konsumsi antara pertalite dan premium sekitar 62,5%:37,5%. "Premium-nya yang 37,5%. Persentasenya itu. Sekarang kan sudah kelihatan, Premium sama Pertalite kan sudah hampir 50:50. Tapi di Jawa (Premium) sudah di bawah 40%, khusus Jawa. Tapi banyak yang di luar Jawa belum, jadi di jumlah dapat hitungannya segitu," tandasnya.
Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina, Muchammad Iskandar mengungkapkan, pada tahun lalu proses migrasi konsumen premium ke pertalite cukup cepat. Meskipun saat ini masih ada yang bermigrasi ke pertalite, namun pertumbuhannya tidak secepat tahun lalu.
"Ya terutama gap harga (antara premium dan pertalite). Tapi bukan stagnan tidak ada sama sekali tumbuhnya, tapi kita tumbuhnya pelan-pelan. Tumbuhnya enggak seperti tahun lalu yg loncat," ujarnya di Kantor Pusat Pertamina, Jakarta, Senin (22/5/2017).
Saat ini, harga premium sekitar Rp6.450 per liter sedangkan pertalite sekitar RP7.400 per liter. Artinya, ada selisih harga sekitar Rp950 per liter. Menurutnya, jika selisih harga mendekati Rp1.000 per liter maka yang terjadi justru konsumen pertamax beralih ke pertalite.
"Rp 1.000 iya. Itu sudah survey itu. Tetapi kan larinya itu Pertamax-nya banyak turun ke Pertalite," imbuh dia.
Kendati demikian, Iskandar masih meyakini hingga akhir tahun masih akan ada peralihan konsumen premium ke pertalite, khususnya di luar Jawa. Sebab saat ini perseroan tengah menggenjot pembangunan infrastruktur di SPBU agar bisa menjual pertalite.
"Masih sih, kami optimis akan migrasi, terutama di luar Jawa krn masalah infrastruktur kan. Banyak terminal kita yg belum siap utk Pertalite. Ini yang kita pacu. Kan kemarin kan Jawa, Sumatra, sudah. Misalnya Kalimantan ada beberapa lokasi yang belum tersedia Pertalite. Ini kita siapin. Daerah Sulawesi, Papua, Maluku, kita siapin untuk terminal," harap Iskandar.
Dia berharap, tahun ini perbandingan konsumsi antara pertalite dan premium sekitar 62,5%:37,5%. "Premium-nya yang 37,5%. Persentasenya itu. Sekarang kan sudah kelihatan, Premium sama Pertalite kan sudah hampir 50:50. Tapi di Jawa (Premium) sudah di bawah 40%, khusus Jawa. Tapi banyak yang di luar Jawa belum, jadi di jumlah dapat hitungannya segitu," tandasnya.
(dmd)
Lihat Juga :