Laju Rupiah Diramal Sulit Menuju ke Zona Hijau
Jum'at, 07 Juli 2017 - 09:08 WIB
Laju Rupiah Diramal Sulit Menuju ke Zona Hijau
A
A
A
JAKARTA - Laju rupiah kembali dalam pelemahannya seiring masih minimnya sentimen positif hingga perdagangan akhir pekan hari ini. Pergerakannya yang gagal bertahan menuju area resisten membuatnya kembali melemah.
"Cermati dan waspadai berbagai sentimen yang dapat membuka peluang pelemahan kembali dari rupiah," ujar Analis Senior Binaartha Sekuritas Reza Priyambada di Jakarta, Jumat (7/7/2017).
Diperkirakan Reza, rupiah akan bergerak dengan kisaran di level support Rp13.425/USD dan resisten Rp13.380/USD. Sementara, laju rupiah kemarin terlihat masih dalam tren pelemahannya, meski nilai USD kembali melemah.
Pelaku pasar melihat adanya ekspektasi melemah pada data ketenagakerjaan AS yang nantinya dapat berimbas pada penilaian The Fed untuk menentukan kenaikan suku bunga selanjutnya. Hal ini diyakini akan berimbas kepada pergerakan mata uang Negeri Paman Sam terhadap beberapa mata uang utama lainnya.
"Selain itu, adanya penyusunan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) dimana target defisit sebesar 2,92% dan adanya kenaikan pembiayaan utang sebesar Rp461,3 triliun belum cukup kuat mengangkat laju rupiah," pungkasnya.
"Cermati dan waspadai berbagai sentimen yang dapat membuka peluang pelemahan kembali dari rupiah," ujar Analis Senior Binaartha Sekuritas Reza Priyambada di Jakarta, Jumat (7/7/2017).
Diperkirakan Reza, rupiah akan bergerak dengan kisaran di level support Rp13.425/USD dan resisten Rp13.380/USD. Sementara, laju rupiah kemarin terlihat masih dalam tren pelemahannya, meski nilai USD kembali melemah.
Pelaku pasar melihat adanya ekspektasi melemah pada data ketenagakerjaan AS yang nantinya dapat berimbas pada penilaian The Fed untuk menentukan kenaikan suku bunga selanjutnya. Hal ini diyakini akan berimbas kepada pergerakan mata uang Negeri Paman Sam terhadap beberapa mata uang utama lainnya.
"Selain itu, adanya penyusunan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) dimana target defisit sebesar 2,92% dan adanya kenaikan pembiayaan utang sebesar Rp461,3 triliun belum cukup kuat mengangkat laju rupiah," pungkasnya.
(akr)