Gelombang E-Commerce Menggerus Pusat Perbelanjaan Konvensional

Selasa, 19 September 2017 - 15:55 WIB
Gelombang E-Commerce...
Gelombang E-Commerce Menggerus Pusat Perbelanjaan Konvensional
A A A
JAKARTA - Besarnya gelombang e-commerce diyakini makin menggerus kehadiran pusat perbelanjaan konvensional, ketika kebiasaan belanja masyarakat mulai bergeser ke online. Kejatuhan department store mulai terlihat, sebelumnya PT Matahari Department Store Tbk yang merupakan pelopor ritel fesyen modern di Tanah Air terpaksa menutup dua gerainya di Jakarta, yakni di Pasaraya Blok M dan Pasaraya Manggarai.

Fenomena kebangkrutan pusat perbelanjaan ini, diyakini merupakan imbas dari kehadiran pelaku e-Commerce yang terus meningkat dan muncul dari beragam latar belakang baik dari dalam dan luar negeri, bahkan dengan sokongan dana yang tak sedikit pula. Data iPrice yang merupakan situs aggregator online shoping memperlihatkan beberapa pemain besar seperti Lazada dan Tokopedia terlibat persaingan sengit.

Sementara Bukalapak, Shoope, Olx dan Mataharimall tidak ketinggalan juga ikut menjaga persaingan tetap ramai. Data statista.com menunjukkan perputaran uang di industri e-Commerce tercatat selalu meningkat dari tahun ke tahun. Potensi bisnis melalui transaksi elektronik (e-commerce) hingga 2020 diperkirakan masih cukup besar, berkisar USD4 triliun atau sekitar Rp50.000 triliun.

Dari data tersebut, terlihat bahwa makin banyak orang yang berbelanja secara online daripada offline. Uang yang dibelanjakan dalam toko online juga semakin banyak setiap tahunnya. Seakan membenarkan, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengesahkan Peraturan Presiden (Perpres) tentang Peta Jalan Sistem Perdagangan Nasional Berbasis Elektronik (SPNBE) atau Roadmap e-Commerce.

Ini membuktikan pemerintah membuka kesempatan seluas luasnya kepada pelaku bisnis eCommerce untuk mencapai ekonomi digital dengan valuasi bisnis mencapai USD130 miliar pada 2020 mendatang. Marketing online dropsheep and inventory system (odins) Dwi Dannugroho lewat keterangan resminya di Jakarta, mengatakan kondisi ini menjadi peluang untuk para pelaku usaha e-Commerce agar turut ambil bagian dalam bisnis online shooping mulai saat ini.

"Bahkan masyarakat awam sekalipun bisa mulai menekuni bisnis e-Commerce dengan mudah. Dalam bisnis dropship pelaku bisnis tidak perlu bersusah payah untuk melakukan stock produk barang dan tidak perlu menambah kost mengurus pengiriman," ucap Dwi Dannugroho.

Lebih lanjut Ia menerangkan dengan sistem tersebut, Anda tinggal menjual produk saja. Bisnis dropship ini menurutnya menjadi pilihan para pebisnis yang baru menggeluti dunia bisnis online. Keuntungan bisnis dropship selain tidak ribet dengan stok dan pengiriman adalah bisa dilakukan dengan modal yang minim serta mempunyai risikonya kecil.

Ditambahkan lagi waktu menjalankan bisnis dropship bisa fleksibel. "Bisa menjalankan bisnis online dropship darimana pun, asal ada jaringan internet dan alat komunikasi untuk mengecek orderan dari customer. Punya database customer (baik untuk jangka panjang dan repeat order)," sambungnya.

Sedangkan Developer odins.xyz Dody Rahman menyebutkan, kebutuhan pelaku bisnis online dropship yakni mencari suplyer dengan jumlah barang yang banyak, layanan pengiriman cepat serta identitas usaha. Selain mencari nilai barang yang murah, terang dia pelaku juga akan menseleksi suplyer dengan angka pembatalan yang kecil.

"Dalam kriteria itu pelaku online dropship mengaku kesulitan dengan proses seleksi yang panjang dan lama. Melalui software odins.xyz, kami mengembangkan enggine system (scriber) yang mampu mencari dan menseleksi suplyer secara otomatis," papar Dody.

Software Odins.xyz sendiri juga dilengkapi dengan sistem unggah otomatis dengan nilai harga jual ulang barang sesuai keinginan keuntungan yang akan di dapat. Dody menyebut masih banyak keuntungan yang didapat pelaku bisnis online dropship dari penggunaan software odins.xyz.

Hendy Suprapto misalnya, pemilik tokoonline ayobelanjabaju.com ini mengaku awalnya hanya memajang produknya di salah satu situs jualbeli. Dengan pendapatan yang cenderung stagnan. Dirinya tertarik bergabung menggunakan odins.xyz 4 bulan lalu setelah mengetahui melalui software online dropship itu dirinya bisa menjual barang bukan dari produknya. Alias produk barang milik suplyer lain, tanpa harus membeli dan menyimpannya. Dari situlah bisnis toko onlinenya berkembang dan mampu merambah ke jenis produk lain.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Ramaikan Pasar e-commerce,...
Ramaikan Pasar e-commerce, Market America Worldwide | SHOP.COM Resmi Masuk Indonesia
Waspada, Social Commerce...
Waspada, Social Commerce Bakal Digerus AI Commerce
Ipsos 2025 Membedah:...
Ipsos 2025 Membedah: Bagaimana UMKM dan Brand Lokal Berjuang di Arena E-Commerce?
ABC Berdayakan Para...
ABC Berdayakan Para Ibu Melalui Social Commerce
Ganjar Pranowo Komentari...
Ganjar Pranowo Komentari Social Commerce TikTok Shop, Apa Bedanya dengan Ecommerce?
Terkuak, Ini E-Commerce...
Terkuak, Ini E-Commerce No.1 Pilihan Penjual dan Pembeli
Berita Terkini
MDLA Luncurkan Armada...
MDLA Luncurkan Armada Mobil Listrik, Dorong Transformasi Distribusi Rendah Emisi
1 jam yang lalu
Tren Mobilitas Ramah...
Tren Mobilitas Ramah Lingkungan Meningkat, Pembiayaan Kendaraan Listrik MUF Melesat
7 jam yang lalu
Rupiah Amburadul Rp18...
Rupiah Amburadul Rp18 Ribu, Produk Rumah Tangga Unilever Bakal Naik Harga di Kuartal II 2026
7 jam yang lalu
Rupiah Terkapar, Dampaknya...
Rupiah Terkapar, Dampaknya Mulai Terasa ke Sektor Industri Nasional
8 jam yang lalu
PLN EPI, PLN Puslitbang...
PLN EPI, PLN Puslitbang dan ITERA Kolaborasi Kembangkan Tanaman Energi
9 jam yang lalu
Pelindo Sinergi Lokaseva...
Pelindo Sinergi Lokaseva Catat Kinerja Operasional Positif di Awal 2026
9 jam yang lalu
Infografis
5 Pabrik Bakal Ditutup,...
5 Pabrik Bakal Ditutup, Gelombang PHK Ancam Karyawan Kimia Farma
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved