Negara Miskin Dapat Tingkatkan Pendapatan Lewat Migrasi

Senin, 09 Oktober 2017 - 12:26 WIB
Negara Miskin Dapat...
Negara Miskin Dapat Tingkatkan Pendapatan Lewat Migrasi
A A A
JAKARTA - Bank Dunia menyatakan, dimanapun para pekerja ingin bermigrasi di kawasan ASEAN, mereka menghadapi biaya mobilitas beberapa kali lipat dari upah rata-rata tahunan. Perbaikan dalam proses migrasi dapat meringankan biaya ini bagi calon migran, dan membantu negara-negara tersebut untuk lebih baik dalam menanggapi kebutuhan pasar tenaga kerja.

(Baca: Migrasi di ASEAN Meroket, Terbanyak Menuju Tiga Negara Ini )

Ekonom Bank Dunia untuk Social Protection and Jobs Global Practice Mauro Testaverde mengatakan, mobilitas tenaga kerja bisa memberi dampak signifikan bagi prospek ekonomi kawasan. Karena, migrasi dapat memberi kesempatan kepada individu dari negara-negara berpenghasilan rendah untuk meningkatkan pendapatan mereka.

Dia memperkirakan pengurangan hambatan mobilitas akan meningkatkan kesejahteraan pekerja sebesar 14% jika hanya mengikutsertakan pekerja berketerampilan tinggi, dan 29% jika mencakup semua pekerja.

"Berbagai kebijakan lain yang bisa diterapkan untuk meningkatkan mobilitas pekerja. Diperlukan lebih banyak pengawasan terhadap agen perekrutan di kawasan ini," ujarnya di Jakarta, Senin (9/10/2017).

(Baca: Migrasi Bikin Uang Puluhan Miliar Dolar Bertebaran di ASEAN )

Menurutnya, sistem pendukung yang sangat maju di Filipina bisa dijadikan contoh bagi negara lain. Indonesia dapat meningkatkan koordinasi antar instansi terkait dan merampingkan prosedur.

Sementara, Vietnam dapat menarik keuntungan dari adanya strategi migrasi nasional untuk memandu reformasi. Penyederhanaan proses formal dapat mengurangi biaya migrasi keluar, terutama di negara-negara dengan penghasilan lebih rendah seperti Kamboja, Laos, dan Myanmar.

"Negara penerima juga dapat membuat langkah-langkah untuk memaksimalkan manfaat dari mobilitas tenaga kerja," kata Mauro.

Adapun Malaysia dapat menyesuaikan kebijakan migrasi dengan kebutuhan ekonomi negara
tersebut, termasuk merevisi sistem retribusi juga dengan memperkuat koordinasi dengan negaranegara pengirim. Lalu, Thailand dapat mengubah status migran yang tidak memiliki dokumen menjadi resmi dan menurunkan biaya terkait prosedur masuk.

"Sementara bagi Singapura yang telah mengembangkan sistem migrasi sangat maju dan telah berfungsi dengan baik, kesejahteraan pekerja migran tetap harus diperhatikan," pungkasnya.
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Bank Dunia Sebut Harga...
Bank Dunia Sebut Harga Beras di Indonesia Paling Mahal di ASEAN
ASEAN Digital Master...
ASEAN Digital Master Plan 2025 Butuh Integrasi Investasi Digital
Bank Dunia: 172 Juta...
Bank Dunia: 172 Juta Rakyat Indonesia Hidup Susah, Kemiskinan Tertinggi Kedua di ASEAN
Dilirik Para Pemimpin...
Dilirik Para Pemimpin Dunia, Pengaruh Geopolitik ASEAN Makin Perkasa
Terungkap! 70% Warga...
Terungkap! 70% Warga ASEAN Tidak Punya Rekening Bank
3 Penyebab Harga Beras...
3 Penyebab Harga Beras Indonesia Termahal di ASEAN, tapi Penghasilan Petani Paling Kecil
Berita Terkini
Lompatan Besar Transportasi...
Lompatan Besar Transportasi Publik Jakarta: Terbaik Kedua di ASEAN, Posisi ke-27 Dunia
1 jam yang lalu
IHSG Sepekan Ambruk...
IHSG Sepekan Ambruk 8,69%, Market Cap Menyusut Jadi Rp9.807 Triliun
2 jam yang lalu
Masyarakat Diminta Tak...
Masyarakat Diminta Tak Panik Respons Kondisi Ekonomi RI, Ekonom: Jaga Optimisme Berdasar Data
12 jam yang lalu
Program CIMB Niaga Sustainability...
Program CIMB Niaga Sustainability Journalism Fellowship Memilih 20 Jurnalis
12 jam yang lalu
Purbaya Belum Percaya...
Purbaya Belum Percaya Daya Beli Mulai Lesu di Warteg: Nanti Saya Cek Lagi
13 jam yang lalu
LPPOM Dorong Konsep...
LPPOM Dorong Konsep Green Halal untuk Perkuat Industri Berkelanjutan
13 jam yang lalu
Infografis
Tanpa Italia, Ini Daftar...
Tanpa Italia, Ini Daftar Lengkap 48 Negara Kontestan Piala Dunia 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved