Perusahaan Pertahanan Inggris Akan PHK 1.000 Pekerja
Senin, 09 Oktober 2017 - 22:06 WIB
Perusahaan Pertahanan Inggris Akan PHK 1.000 Pekerja
A
A
A
LONDON - Perusahaan pertahanan Inggris, BAE Systems mengumumkan akan melakukan pemangkasan atau pemutusan hubungan kerja (PHK) lebih dari 1.000 pekerja pekan ini. Terutama yang memengaruhi pabrik Warton di Lancashire, Inggris Utara, yang merakit jet tempur Eurofighter Typhoon.
Seperti dilansir Reuters, Senin (9/10/2017), BAE Systems yang mempekerjakan sebanyak 34.600 orang di Inggris, telah memperlambat produksi jet tersebut. Sementara menunggu perintah utama yang diharapkan dari Arab Saudi.
Chief Executive BAE System Charles Woodburn yang baru-baru ini mengambil alih jabatan CEO dari Ian King yakin akan proyek pesawat terbang di masa depan, yang merupakan proyek gabungan antara BAE, Airbus asal Perancis dan Finmeccanica dari Italia.
Pesawat jet tempur Typhoon telah menerima banyak pesanan tahun ini dari pada saingan Rafale yang dibangun oleh Dassault Aviation Prancis, meskipun Qatar setuju untuk membeli 24 Typhoon pada September.
BAE mengatakan pada Agustus bahwa ada perintah baru yang tidak mungkin memengaruhi tingkat pengiriman produksi secara positif paling sedikit selama 24 bulan, dan produksi akan terus dikaji ulang.
"Kami jelas harus meninjau permintaan produksi (Typhoon) kami dengan sangat hati-hati," kata Woodburn pada saat itu.
Sky News mengatakan bahwa BAE juga akan memangkas tenaga kerjanya di lokasi lain, dengan jumlah total lebih dari 1.000. "BAE Systems terus meninjau operasinya untuk memastikan kinerjanya seefektif dan seefisien mungkin, memberikan komitmen kepada pelanggan lama dan memastikan bahwa kami ditempatkan dengan sebaik-baiknya untuk mengamankan bisnis masa depan," kata perusahaan tersebut kepada Sky News.
"Jika ada perubahan yang diajukan, kami berkomitmen untuk berkomunikasi dengan karyawan dan perwakilan mereka terlebih dahulu," imbuhnya.
Seperti dilansir Reuters, Senin (9/10/2017), BAE Systems yang mempekerjakan sebanyak 34.600 orang di Inggris, telah memperlambat produksi jet tersebut. Sementara menunggu perintah utama yang diharapkan dari Arab Saudi.
Chief Executive BAE System Charles Woodburn yang baru-baru ini mengambil alih jabatan CEO dari Ian King yakin akan proyek pesawat terbang di masa depan, yang merupakan proyek gabungan antara BAE, Airbus asal Perancis dan Finmeccanica dari Italia.
Pesawat jet tempur Typhoon telah menerima banyak pesanan tahun ini dari pada saingan Rafale yang dibangun oleh Dassault Aviation Prancis, meskipun Qatar setuju untuk membeli 24 Typhoon pada September.
BAE mengatakan pada Agustus bahwa ada perintah baru yang tidak mungkin memengaruhi tingkat pengiriman produksi secara positif paling sedikit selama 24 bulan, dan produksi akan terus dikaji ulang.
"Kami jelas harus meninjau permintaan produksi (Typhoon) kami dengan sangat hati-hati," kata Woodburn pada saat itu.
Sky News mengatakan bahwa BAE juga akan memangkas tenaga kerjanya di lokasi lain, dengan jumlah total lebih dari 1.000. "BAE Systems terus meninjau operasinya untuk memastikan kinerjanya seefektif dan seefisien mungkin, memberikan komitmen kepada pelanggan lama dan memastikan bahwa kami ditempatkan dengan sebaik-baiknya untuk mengamankan bisnis masa depan," kata perusahaan tersebut kepada Sky News.
"Jika ada perubahan yang diajukan, kami berkomitmen untuk berkomunikasi dengan karyawan dan perwakilan mereka terlebih dahulu," imbuhnya.
(izz)
Lihat Juga :