Euro Loyo, Rupiah Hari Ini Dibuka Makin Ambles
Rabu, 18 Oktober 2017 - 10:13 WIB
Euro Loyo, Rupiah Hari Ini Dibuka Makin Ambles
A
A
A
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada pembukaan pagi ini terlihat memburuk alias melemah dari penutupan kemarin. Kondisi rupiah tersebut di tengah melemahnya euro terhadap USD.
Posisi rupiah berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI, pagi ini dibuka pada level Rp13.514/USD atau melemah dibanding perdagangan kemarin di level Rp13.490/USD.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah sesi pagi dibuka pada level Rp13.506/USD atau stabil dari posisi kemarin yang berada di level Rp13.507/USD dan pada pukul 10.10 WIB bergerak melemah ke level Rp13.509/USD dengan kisaran level Rp13.503-Rp13.516/USD.
Menurut data SINDOnews bersumber dari Limas, rupiah dibuka di level Rp13.507/USD atau melemah tipis dibanding penutupan kemarin yang berada di level Rp13.505/USD.
Data Yahoo Finance menunjukkan rupiah pada sesi pembukaan perdagangan hari ini dibuka di level Rp13.503/USD atau menguat tipis dari posisi penutupan kemarin yang berada di level Rp13.505/USD. Namun pada pukul 10.10 WIB bergerak ke level Rp13.506/USD dengan kisaran level Rp13.501-Rp13.515/USD.
Seperti dilansir Reuters, USD bertahan di atas beberapa mata uang utama lainnya karena investor mempertimbangkan kemungkinan bahwa Presiden AS Donald Trump akan memilih kepala Federal Reserve yang lebih hawkish daripada saat ini yang masih dipimpin Janet Yellen.
Indeks USD berada di level 93.475, memperpanjang rebound dari level terendah 2,5 pekan di posisi 92.749. Ini naik setinggi 93.729 pada hari Selasa.
Dengan Federal Reserve diharapkan menaikkan suku bunga untuk ketiga kalinya tahun ini pada Desember, pasar sekarang mencari siapa yang akan memimpin Federal Reserve setelah masa jabatan Yellen berakhir pada Februari mendatang.
Trump memiliki lima kandidat untuk dipilih dari kursi Federal Reserve berikutnya dan kemungkinan akan mengumumkan pilihannya sebelum pergi ke Asia pada awal November, seorang sumber yang mengetahui situasi tersebut mengatakan kemarin.
"Siapa yang akan menjadi Gubernur Fed berikutnya adalah fokus pasar yang paling penting saat ini," kata Yukio Ishizuki, ahli strategi senior di Daiwa Securities.
"Tapi siapa pun, Fed akan melanjutkan normalisasi kebijakan dan suku bunga AS akan lebih tinggi di tahun depan," tambahnya.
Dolar mendapat dorongan ekstra pekan ini setelah ekonom Stanford University John Taylor muncul sebagai kandidat utama. Taylor dikenal sebagai pendukung kebijakan moneter berbasis aturan dan sesuai dengan rumusnya, yang dikenal sebagai aturan Taylor, tingkat dana Fed harus jauh lebih tinggi daripada target saat ini sebesar 1,0%-1,25%.
Dengan demikian, investor bertaruh dia bisa menaikkan suku bunga lebih cepat. Seiring dengan menguatnya dolar, euro tergelincir ke level 1,1770 terhadap USD, sedikit berubah pada awal perdagangan Rabu pagi di Asia namun turun 0,5% sejauh ini dalam sepekan.
Namun, USD membuat sedikit kemajuan terhadap yen, karena investor tetap ragu untuk mengambil posisi besar menjelang pemilihan Jepang. Meskipun partai penguasa Perdana Menteri Shinzo Abe diperkirakan akan mempertahankan mayoritas yang solid, kenangan akan gangguan pemilihan baru-baru ini di Inggris dan di tempat lain membuat investor berhati-hati.
Posisi rupiah berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI, pagi ini dibuka pada level Rp13.514/USD atau melemah dibanding perdagangan kemarin di level Rp13.490/USD.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah sesi pagi dibuka pada level Rp13.506/USD atau stabil dari posisi kemarin yang berada di level Rp13.507/USD dan pada pukul 10.10 WIB bergerak melemah ke level Rp13.509/USD dengan kisaran level Rp13.503-Rp13.516/USD.
Menurut data SINDOnews bersumber dari Limas, rupiah dibuka di level Rp13.507/USD atau melemah tipis dibanding penutupan kemarin yang berada di level Rp13.505/USD.
Data Yahoo Finance menunjukkan rupiah pada sesi pembukaan perdagangan hari ini dibuka di level Rp13.503/USD atau menguat tipis dari posisi penutupan kemarin yang berada di level Rp13.505/USD. Namun pada pukul 10.10 WIB bergerak ke level Rp13.506/USD dengan kisaran level Rp13.501-Rp13.515/USD.
Seperti dilansir Reuters, USD bertahan di atas beberapa mata uang utama lainnya karena investor mempertimbangkan kemungkinan bahwa Presiden AS Donald Trump akan memilih kepala Federal Reserve yang lebih hawkish daripada saat ini yang masih dipimpin Janet Yellen.
Indeks USD berada di level 93.475, memperpanjang rebound dari level terendah 2,5 pekan di posisi 92.749. Ini naik setinggi 93.729 pada hari Selasa.
Dengan Federal Reserve diharapkan menaikkan suku bunga untuk ketiga kalinya tahun ini pada Desember, pasar sekarang mencari siapa yang akan memimpin Federal Reserve setelah masa jabatan Yellen berakhir pada Februari mendatang.
Trump memiliki lima kandidat untuk dipilih dari kursi Federal Reserve berikutnya dan kemungkinan akan mengumumkan pilihannya sebelum pergi ke Asia pada awal November, seorang sumber yang mengetahui situasi tersebut mengatakan kemarin.
"Siapa yang akan menjadi Gubernur Fed berikutnya adalah fokus pasar yang paling penting saat ini," kata Yukio Ishizuki, ahli strategi senior di Daiwa Securities.
"Tapi siapa pun, Fed akan melanjutkan normalisasi kebijakan dan suku bunga AS akan lebih tinggi di tahun depan," tambahnya.
Dolar mendapat dorongan ekstra pekan ini setelah ekonom Stanford University John Taylor muncul sebagai kandidat utama. Taylor dikenal sebagai pendukung kebijakan moneter berbasis aturan dan sesuai dengan rumusnya, yang dikenal sebagai aturan Taylor, tingkat dana Fed harus jauh lebih tinggi daripada target saat ini sebesar 1,0%-1,25%.
Dengan demikian, investor bertaruh dia bisa menaikkan suku bunga lebih cepat. Seiring dengan menguatnya dolar, euro tergelincir ke level 1,1770 terhadap USD, sedikit berubah pada awal perdagangan Rabu pagi di Asia namun turun 0,5% sejauh ini dalam sepekan.
Namun, USD membuat sedikit kemajuan terhadap yen, karena investor tetap ragu untuk mengambil posisi besar menjelang pemilihan Jepang. Meskipun partai penguasa Perdana Menteri Shinzo Abe diperkirakan akan mempertahankan mayoritas yang solid, kenangan akan gangguan pemilihan baru-baru ini di Inggris dan di tempat lain membuat investor berhati-hati.
(izz)