Masyarakat Dinilai Masih Menolak Pembangkit Nuklir
Minggu, 29 Oktober 2017 - 23:28 WIB
Masyarakat Dinilai Masih Menolak Pembangkit Nuklir
A
A
A
JAKARTA - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) periode 2000-2009 Purnomo Yusgiantoro menyatakan, masyarakat hingga saat ini masih menolak pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).
Hal itu diungkapkannya setelah mengidentifikasi berbagai elemen dalam energi fosil, non-fosil, energi baru dan terbarukan (EBT) dengan menggunakan analisa SWOT (strength, weakness, opportunities and threat).
Menurutnya, dengan memahami elemen kekuatan, kelemahan peluang dan ancaman khususnya di sektor EBT sangat bermanfaat untuk merumuskan strategi kebijakan energi di Indonesia. Pihaknya mengatakan, saat ini perlu ditekankan bahwa masyarakat tidak bisa menerima adanya pembangunan PLTN.
"Berdasarkan Peraturan Pemerintah No 79/2014 tentang kebijakan energi nasional, PLTN merupakan alternatif terakhir sumber energi sehingga pemerintah dan DPR perlu meninjau kembali pembangunan PLTN dan mengedepankan pemanfaatan energi terbarukan lainnya," katanya di Jakarta, Minggu (29/10/2017).
Dia menuturkan, PLTN harus diperhatikan keamanannya. Pasalnya, yang terjadi saat ini isu penting dan harus diperhatikan yaitu menyangkut keamanan. "Orang bilang, aku mau nuklir, tapi aku tidak mau nuklir di bangun di pekarangan rumahku. That's always like that," imbuh dia.
Purnomo menceritakan mengenai pengalaman Mantan Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM Evita Legowo yang mengalami penolakan dari warga saat sedang melakukan sosialisasi PLTN di Gunung Muria. "Bapak, saya hampir dibunuh di Gunung Muria karena melakukan sosialisasi pembangunan pembangkit listrik di Gunung Muria," kisahnya sambil menirukan Evita bercerita kala itu.
Menurutnya, hal tersebut menunjukkan besarnya penolakan masyarakat terhadap PLTN. Atas dasar itu, dia menyarankan, pengembangan energi terbarukan lain misalnya matahari dapat dimanfaatkan ketimbang mengembangkan nuklir.
"Hidup di negara beriklim tropis dengan energi matahari yang cukup berlimpah dapat dimanfaatkan untuk pengembangan energi terbarukan, begitu juga dengan mengedepankan energi dari tenaga angin serta energi biodiesel," terang dia.
Hal itu diungkapkannya setelah mengidentifikasi berbagai elemen dalam energi fosil, non-fosil, energi baru dan terbarukan (EBT) dengan menggunakan analisa SWOT (strength, weakness, opportunities and threat).
Menurutnya, dengan memahami elemen kekuatan, kelemahan peluang dan ancaman khususnya di sektor EBT sangat bermanfaat untuk merumuskan strategi kebijakan energi di Indonesia. Pihaknya mengatakan, saat ini perlu ditekankan bahwa masyarakat tidak bisa menerima adanya pembangunan PLTN.
"Berdasarkan Peraturan Pemerintah No 79/2014 tentang kebijakan energi nasional, PLTN merupakan alternatif terakhir sumber energi sehingga pemerintah dan DPR perlu meninjau kembali pembangunan PLTN dan mengedepankan pemanfaatan energi terbarukan lainnya," katanya di Jakarta, Minggu (29/10/2017).
Dia menuturkan, PLTN harus diperhatikan keamanannya. Pasalnya, yang terjadi saat ini isu penting dan harus diperhatikan yaitu menyangkut keamanan. "Orang bilang, aku mau nuklir, tapi aku tidak mau nuklir di bangun di pekarangan rumahku. That's always like that," imbuh dia.
Purnomo menceritakan mengenai pengalaman Mantan Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM Evita Legowo yang mengalami penolakan dari warga saat sedang melakukan sosialisasi PLTN di Gunung Muria. "Bapak, saya hampir dibunuh di Gunung Muria karena melakukan sosialisasi pembangunan pembangkit listrik di Gunung Muria," kisahnya sambil menirukan Evita bercerita kala itu.
Menurutnya, hal tersebut menunjukkan besarnya penolakan masyarakat terhadap PLTN. Atas dasar itu, dia menyarankan, pengembangan energi terbarukan lain misalnya matahari dapat dimanfaatkan ketimbang mengembangkan nuklir.
"Hidup di negara beriklim tropis dengan energi matahari yang cukup berlimpah dapat dimanfaatkan untuk pengembangan energi terbarukan, begitu juga dengan mengedepankan energi dari tenaga angin serta energi biodiesel," terang dia.
(izz)
Lihat Juga :