Obligasi Internasional Rupiah Bisa Jadi Sumber Dana Infrastruktur
Sabtu, 11 November 2017 - 09:55 WIB
Obligasi Internasional Rupiah Bisa Jadi Sumber Dana Infrastruktur
A
A
A
MALANG - PT Mandiri Sekuritas berharap penawaran Global IDR Bonds atau obligasi internasional dengan mata uang rupiah mampu meningkatkan partisipasi investor global dalam mendukung pembangunan nasional.
Selain itu, juga diharapkan dapat memberikan akses serta diversifikasi sumber pendanaan berbasis rupiah bagi perusahaan-perusahaan di Indonesia yang bergerak di berbagai sektor, khususnya sektor infrastruktur.
Direktur Utama Mandiri Sekuritas Silvano Rumantir mengatakan, bagi investor, instrumen ini memberikan diversifikasi portofolio yang berkualitas. Menurutnya, perusahaan terus memperluas akses hingga ke pasar global dengan mendirikan anak perusahaan Mandiri Securities Pte Ltd di Singapura.
"Mandiri Sekuritas juga bermitra dengan Jefferies, investment bank yang berbasis di Amerika Serikat, dalam mendistribusikan laporan riset kepada basis klien global. Perusahaan juga menyediakan layanan perantara perdagangan efek kepada klien-klien Jefferies," ujarnya di Malang, Sabtu (11/11/2017).
Dia menuturkan, Mandiri Sekuritas berkomitmen menghadirkan layanan investment banking dan brokerage terlengkap dengan akses hingga ke pasar global.
"Sejumlah inovasi pendanaan yang kami hadirkan merupakan kontribusi nyata dalam mendukung program pemerintah, khususnya dalam memberikan solusi pendanaan terbaik melalui alternatif pembiayaan dengan tujuan untuk meningkatkan daya saing nasional," jelas Silvano.
Sebagai bagian dari institusi finansial terbesar dan terlengkap di Indonesia, Mandiri Sekuritas menjadi investment bank terbesar dengan menyelesaikan total 37 mandat sebagai penjamin emisi saham dan obligasi dengan porsi penjaminan sebesar Rp17,7 triliun hingga kuartal III/2017.
Perusahaan juga menjadi broker lokal teraktif di pasar modal dengan membukukan nilai transaksi total sebesar Rp109 triliun hingga kuartal III/2017.
Seperti diketahui, pemerintah membutuhkan dana untuk investasi di sektor infrastruktur sekitar Rp5.500 triliun untuk lima tahun ke depan atau Rp1.100 triliun per tahun. Dari kebutuhan dana per tahun tersebut, Rp900 triliun dapat dibiayai oleh pembiayaan konvensional yaitu menggunakan APBN dan perbankan.
Terdapat potensi sebesar Rp200 triliun per tahun kebutuhan investasi untuk infrastruktur yang dapat dibiayai dari non APBN dan non perbankan, yaitu melalui pasar modal baik dalam negeri maupun offshore funding.
Selain itu, juga diharapkan dapat memberikan akses serta diversifikasi sumber pendanaan berbasis rupiah bagi perusahaan-perusahaan di Indonesia yang bergerak di berbagai sektor, khususnya sektor infrastruktur.
Direktur Utama Mandiri Sekuritas Silvano Rumantir mengatakan, bagi investor, instrumen ini memberikan diversifikasi portofolio yang berkualitas. Menurutnya, perusahaan terus memperluas akses hingga ke pasar global dengan mendirikan anak perusahaan Mandiri Securities Pte Ltd di Singapura.
"Mandiri Sekuritas juga bermitra dengan Jefferies, investment bank yang berbasis di Amerika Serikat, dalam mendistribusikan laporan riset kepada basis klien global. Perusahaan juga menyediakan layanan perantara perdagangan efek kepada klien-klien Jefferies," ujarnya di Malang, Sabtu (11/11/2017).
Dia menuturkan, Mandiri Sekuritas berkomitmen menghadirkan layanan investment banking dan brokerage terlengkap dengan akses hingga ke pasar global.
"Sejumlah inovasi pendanaan yang kami hadirkan merupakan kontribusi nyata dalam mendukung program pemerintah, khususnya dalam memberikan solusi pendanaan terbaik melalui alternatif pembiayaan dengan tujuan untuk meningkatkan daya saing nasional," jelas Silvano.
Sebagai bagian dari institusi finansial terbesar dan terlengkap di Indonesia, Mandiri Sekuritas menjadi investment bank terbesar dengan menyelesaikan total 37 mandat sebagai penjamin emisi saham dan obligasi dengan porsi penjaminan sebesar Rp17,7 triliun hingga kuartal III/2017.
Perusahaan juga menjadi broker lokal teraktif di pasar modal dengan membukukan nilai transaksi total sebesar Rp109 triliun hingga kuartal III/2017.
Seperti diketahui, pemerintah membutuhkan dana untuk investasi di sektor infrastruktur sekitar Rp5.500 triliun untuk lima tahun ke depan atau Rp1.100 triliun per tahun. Dari kebutuhan dana per tahun tersebut, Rp900 triliun dapat dibiayai oleh pembiayaan konvensional yaitu menggunakan APBN dan perbankan.
Terdapat potensi sebesar Rp200 triliun per tahun kebutuhan investasi untuk infrastruktur yang dapat dibiayai dari non APBN dan non perbankan, yaitu melalui pasar modal baik dalam negeri maupun offshore funding.
(akr)
Lihat Juga :