Jangan Buru-Buru, Holding BUMN Tambang Perlu Dikaji Ulang

Selasa, 21 November 2017 - 14:40 WIB
Jangan Buru-Buru, Holding...
Jangan Buru-Buru, Holding BUMN Tambang Perlu Dikaji Ulang
A A A
JAKARTA - Pro-kontra rencana pembentukan induk usaha (holding) badan usaha milik negara (BUMN) di sektor pertambangan terus bergulir. Jelang Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Luar Biasa yang sedianya bakal menghapus status perseroan di PT Aneka Tambang (Persero) Tbk, PT Timah (Persero) Tbk, dan PT Bukit Asam (Persero) Tbk pekan depan, sejumlah pihak angkat bicara terkait mekanisme pembentukan holding BUMN pertambangan.

Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik Universitas Gadjah Mada A Tony Prasetiantono berpandangan, rencana pembentukan holding pertambangan dinilai tidak akan efektif jika ditujukan dalam rangka meningkatkan efisiensi sekaligus kinerja BUMN di sektor pertambangan. Sebab, kata Tony, rencana pembentukan holding BUMN pertambangan malah akan memunculkan masalah baru, khususnya di sisi manajemen.

"Sebetulnya untuk meningkatkan efisiensi manajemen BUMN tambang itu lebih tepat dimerger, bukan holding. Ini karena holding (sebetulnya) hanya transisi," tutur Tony di Jakarta, Senin (20/11/2017).

Meski begitu, kata Tony, di dalam pelaksanaan merger dibutuhkan situasi yang kondusif untuk menunjang keberhasilan dari tujuan yang dicapai. Oleh karenanya, dia pun meminta pemerintah, dalam hal ini Kementerian BUMN, untuk mengkaji ulang terkait implementasi holding BUMN pertambangan.

"Dengan merger, maka jumlah direksi dan komisaris serta karyawan bisa dikurangi. Cuma kalau merger, pasti ada gejolak karena akan ada pengurangan direksi dan karyawan. Cuma merger itu butuh situasi yang kondusif dan saya lihat waktunya kurang tepat saat ini," imbuhnya.

Tony menjelaskan, desakan untuk mengkaji ulang rencana pembentukan holding BUMN pertambangan didasarkan karena terdapat ketidakefektifan dari implementasi holding sebelumnya di sektor perkebunan dan semen. Hal ini diketahui dari tidak tercapainya tujuan utama pembentukan holding di sektor semen dan perkebunan.

"Coba lihat, holding semen juga enggak efektif karena mereka masih bawa entitas masing-masing dan membawa budaya organisasi masing-masing. Jadi, holding itu sekarang hanya forum rapat," pungkas Tony.
(amm)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Komitmen Mitigasi Perubahan...
Komitmen Mitigasi Perubahan Iklim, 3 Anggota MIND ID Raih Proper Emas 2021
Sumbang Negara Rp1,63...
Sumbang Negara Rp1,63 T, Pengamat: Antam Seperti Tak Terpengaruh Covid-19
Tetap Solid di Enam...
Tetap Solid di Enam Bulan Pertama 2022, Intip Kinerja Antam
Zero Fatality di 2022...
Zero Fatality di 2022 Jadi Bukti Antam Menerapkan Tata Kelola yang Baik
Berantas Buta Matematika,...
Berantas Buta Matematika, PTBA Alokasikan Rp1 Miliar Latih Ratusan Guru
Berusia 56 Tahun, Antam...
Berusia 56 Tahun, Antam Masuk Jajaran BUMN dengan Laba Terbesar
Berita Terkini
Dasco Panggil Menkeu...
Dasco Panggil Menkeu dan Gubernur BI: Evaluasi Perkembangan Ekonomi
19 menit yang lalu
Lompatan Besar Transportasi...
Lompatan Besar Transportasi Publik Jakarta: Terbaik Kedua di ASEAN, Posisi ke-27 Dunia
3 jam yang lalu
IHSG Sepekan Ambruk...
IHSG Sepekan Ambruk 8,69%, Market Cap Menyusut Jadi Rp9.807 Triliun
3 jam yang lalu
Masyarakat Diminta Tak...
Masyarakat Diminta Tak Panik Respons Kondisi Ekonomi RI, Ekonom: Jaga Optimisme Berdasar Data
13 jam yang lalu
Program CIMB Niaga Sustainability...
Program CIMB Niaga Sustainability Journalism Fellowship Memilih 20 Jurnalis
14 jam yang lalu
Purbaya Belum Percaya...
Purbaya Belum Percaya Daya Beli Mulai Lesu di Warteg: Nanti Saya Cek Lagi
14 jam yang lalu
Infografis
Perlu Diwaspadai, Ini...
Perlu Diwaspadai, Ini 15 Tanda Tubuh Kelebihan Kafein
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved