Ekonom Perkirakan Inflasi Akhir Tahun Tetap Rendah
Selasa, 21 November 2017 - 16:12 WIB
Ekonom Perkirakan Inflasi Akhir Tahun Tetap Rendah
A
A
A
JAKARTA - Inflasi pada akhir 2017 diperkirakan lebih rendah dari proyeksi sebelumnya seiring harga pangan yang terjaga rendah, dengan pengecualian harga beras yang meningkat di atas historis sejak September. Inflasi berpotensi lebih rendah lagi mengingat ekspektasi masih rendahnya inflasi inti.
"Namun, terdapat risiko ke atas dari kenaikan batas bawah tarif angkutan udara," kata Ekonom Bank Permata Josua Pardede saat dihubungi Selasa, Jakarta, Selasa (21/11/2017).
Secara keseluruhan, lanjut dia, inflasi diperkirakan berkisar 3,0%-3,5% pada akhir tahun ini. Inflasi yang rendah semestinya dapat meningkatkan daya beli masyarakat.
Namun demikian, daya beli terutama masyarakat berpendapatan menengah ke bawah juga turut dipengaruhi pertumbuhan pendapatan riil yang relatif masih flat atau cenderung menurun.
Salah satu indikasinya yakni upah riil buruh bangunan masih kontraksi terkait dengan semakin rendahnya serapan tenaga kerja di sektor konstruksi karena peningkatan otomisasi di sektor tersebut.
Selain itu, masih lemahnya pendapatan masyarakat bawah juga bersumber dari pertumbuhan remitansi TKI yang negatif. "Menurunnya jumlah pengiriman TKI dipengaruhi siklus komoditas dan kebijakan moratorium," ujar Josua.
Sebab itu, stimulus fiskal seperti padat karya cash serta bantuan sosial lainnya yang akan digulirkan tahun depan diharapkan dapat meningkatkan daya beli masyarakat khususnya masyarakat menengah ke bawah.
Sementara, peningkatan konsumsi masyarakat menengah ke atas diharapkan meningkat seiring perbaikan intermediasi perbankan. Hal tersebut juga sejalan dengan berlanjutnya dampak penurunan suku bunga acuan dan pelonggaran kebijakan makroprudensial serta kemajuan konsolidasi perbankan dan korporasi.
"Namun, terdapat risiko ke atas dari kenaikan batas bawah tarif angkutan udara," kata Ekonom Bank Permata Josua Pardede saat dihubungi Selasa, Jakarta, Selasa (21/11/2017).
Secara keseluruhan, lanjut dia, inflasi diperkirakan berkisar 3,0%-3,5% pada akhir tahun ini. Inflasi yang rendah semestinya dapat meningkatkan daya beli masyarakat.
Namun demikian, daya beli terutama masyarakat berpendapatan menengah ke bawah juga turut dipengaruhi pertumbuhan pendapatan riil yang relatif masih flat atau cenderung menurun.
Salah satu indikasinya yakni upah riil buruh bangunan masih kontraksi terkait dengan semakin rendahnya serapan tenaga kerja di sektor konstruksi karena peningkatan otomisasi di sektor tersebut.
Selain itu, masih lemahnya pendapatan masyarakat bawah juga bersumber dari pertumbuhan remitansi TKI yang negatif. "Menurunnya jumlah pengiriman TKI dipengaruhi siklus komoditas dan kebijakan moratorium," ujar Josua.
Sebab itu, stimulus fiskal seperti padat karya cash serta bantuan sosial lainnya yang akan digulirkan tahun depan diharapkan dapat meningkatkan daya beli masyarakat khususnya masyarakat menengah ke bawah.
Sementara, peningkatan konsumsi masyarakat menengah ke atas diharapkan meningkat seiring perbaikan intermediasi perbankan. Hal tersebut juga sejalan dengan berlanjutnya dampak penurunan suku bunga acuan dan pelonggaran kebijakan makroprudensial serta kemajuan konsolidasi perbankan dan korporasi.
(izz)
Lihat Juga :