Minim Sentimen Positif, Pelemahan Rupiah Diprediksi Berlanjut
Rabu, 10 Januari 2018 - 09:09 WIB
Minim Sentimen Positif, Pelemahan Rupiah Diprediksi Berlanjut
A
A
A
JAKARTA - Pergerakan rupiah diperkirakan masih ada kecenderungan melanjutkan pelemahannya sejak perdagangan kemarin. Hal ini lantaran seiring berkurangnya volume beli dan mulai minimnya sentimen positif yang dapat mempertahankan laju rupiah di zona hijau.
"Meski diharapkan kembali menguat, namun waspadai masih adanya peluang pelemahan," ujar Analis Senior Binaartha Sekuritas Reza Priyambada kepada SINDOnews di Jakarta, Rabu (10/1/2018).
Diperkirakan Reza, rupiah akan bergerak dengan kisaran di level support Rp13.441/USD dan resisten Rp13.395/USD. Lebih lanjut, dia menjelaskan, seiring masih menguatnya laju USD, pergerakan rupiah kembali mengalami pelemahan. Pergerakan rupiah di bawah tingkat support Rp13.433/USD.
Sementara itu, meski masih terdapat sentimen dari adanya rilis kenaikan cadangan devisa Indonesia sebesar USD130,2 miliar dari sebelumnya USD126 miliar belum cukup mampu mengangkat rupiah ke zona hijau.
"Pelaku pasar memanfaatkan penguatan USD untuk meningkatkan permintaan pada mata uang ini. Tidak hanya itu, mulai membaiknya data-data ekonomi Zona Eropa juga turut meningkatkan permintaan akan EUR," pungkasnya.
"Meski diharapkan kembali menguat, namun waspadai masih adanya peluang pelemahan," ujar Analis Senior Binaartha Sekuritas Reza Priyambada kepada SINDOnews di Jakarta, Rabu (10/1/2018).
Diperkirakan Reza, rupiah akan bergerak dengan kisaran di level support Rp13.441/USD dan resisten Rp13.395/USD. Lebih lanjut, dia menjelaskan, seiring masih menguatnya laju USD, pergerakan rupiah kembali mengalami pelemahan. Pergerakan rupiah di bawah tingkat support Rp13.433/USD.
Sementara itu, meski masih terdapat sentimen dari adanya rilis kenaikan cadangan devisa Indonesia sebesar USD130,2 miliar dari sebelumnya USD126 miliar belum cukup mampu mengangkat rupiah ke zona hijau.
"Pelaku pasar memanfaatkan penguatan USD untuk meningkatkan permintaan pada mata uang ini. Tidak hanya itu, mulai membaiknya data-data ekonomi Zona Eropa juga turut meningkatkan permintaan akan EUR," pungkasnya.
(akr)