KTT ASEAN-India Jadi Peluang Genjot Kerja Sama Perdagangan

Senin, 29 Januari 2018 - 20:04 WIB
KTT ASEAN-India Jadi...
KTT ASEAN-India Jadi Peluang Genjot Kerja Sama Perdagangan
A A A
JAKARTA - Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN-India (ASEAN-India Commemorative Summit) menjadi peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan kerja sama perdagangan dan ekonomi kawasan.

Hal ini ditegaskan Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita dalam keterangam tertulisnya, Senin (29/1/2018). Mendag yang mendampingi Presiden Joko Widodo dalam KTT yang berlangsung di New Delhi, India itu menyampaikan, bahwa Presiden meyakini hubungan ASEAN-India dapat menjadi pusat pertumbuhan ekonomi untuk kawasan Samudera Hindia.

Dasarnya adalah potensi yang dimiliki ASEAN dan India, salah satunya jumlah penduduk yang mencapai hampir 2 miliar jiwa.

"Pertumbuhan ekonomi India sebesar 7% pada tahun 2017 dan populasi penduduk India yang besar merupakan
pasar potensial bagi produk Indonesia," ujar Mendag.

Dalam pertemuan tersebut, jelas Mendag, dibahas berbagai isu kemitraan ASEAN-India, seperti kerja sama di bidang politik, keamanan, perdagangan, investasi, pariwisata, sosial budaya, maritim, dan isu regional maupun internasional lainnya.

Di sela-sela KTT ASEAN-India, lanjut Mendag, presiden juga melakukan pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri India Narendra Modi. "Dalam pertemuan tersebut, Presiden menekankan pentingnya upaya untuk meningkatkan kerja sama ekonomi, khususnya perdagangan bilateral antara Indonesia dan India melalui pengurangan hambatan tarif," tuturnya.

Menurut Mendag, Presiden memiliki perhatian khusus atas peningkatan tarif bea masuk untuk produk minyak nabati yang berdampak terhadap terhambatnya ekspor minyak kelapa sawit Indonesia ke India.

"Indonesia meminta pemerintah India mempertimbangkan kebijakan peningkatan tarif bea masuk untuk produk minyak nabati. Ini mengingat Indonesia memberikan suplai yang cukup besar kebutuhan minyak nabati di India," kata Mendag.

Mendag juga menyampaikan bahwa presiden menyerukan perlunya upaya intensif untuk menyelesaikan perundingan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) yang akan mewakili hampir setengah populasi dunia; 31,6% dari PDB global; dan 28,5% perdagangan dunia.

RCEP diyakini dapat menjadi salah satu jalan keluar atas maraknya praktik proteksionisme perdagangan di dunia. Hal ini, sekaligus untuk memberikan pesan kuat bahwa integrasi ekonomi dapat menguntungkan semua pihak. "Ini yang sedang kita perjuangkan," tandasnya.
(fjo)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
21 Perjanjian Dagang...
21 Perjanjian Dagang Baru Dijajaki, Benua Afrika Salah Satu Targetnya
Sertifikasi Bikin Seret...
Sertifikasi Bikin Seret Ekspor, Kemendag Lakukan Lobi-lobi
Indonesia dan Filipina...
Indonesia dan Filipina Perkuat Kerja Sama Perdagangan Digital
11 Perjanjian Dagang...
11 Perjanjian Dagang On Going, 4 di Antaranya Target Rampung 2021
Kemendag dan KBRI Canberra...
Kemendag dan KBRI Canberra Dorong Kerja Sama Perdagangan Bilateral
Sempat Tertunda 4 Tahun,...
Sempat Tertunda 4 Tahun, RI Mendorong Perundingan IT-CEPA Dilanjutkan
Berita Terkini
Soal Pindar, KPPU Didorong...
Soal Pindar, KPPU Didorong Utamakan Tindakan Pencegahan
11 menit yang lalu
Kepala BGN Baru Sebut...
Kepala BGN Baru Sebut MBG Tender Politik Prabowo: Tak Bisa Dibubarkan
27 menit yang lalu
Potensi Tokenisasi Aset...
Potensi Tokenisasi Aset Capai USD2 Triliun di 2030, Keamanan Investor Jadi Kunci
56 menit yang lalu
Airlangga Sangkal PFII...
Airlangga Sangkal PFII Jadi Surga Pencucian Uang: Bukan untuk Dana-dana Gelap
1 jam yang lalu
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga Bangun Budaya Sadar Bencana di Lingkungan Sekolah
1 jam yang lalu
Danantara Buka Pendaftaran...
Danantara Buka Pendaftaran Lenders Panel untuk Pembiayaan PSEL
2 jam yang lalu
Infografis
Ternyata Selain ITB,...
Ternyata Selain ITB, FKG Unpad Juga Kerja Sama dengan Pinjol
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved