Permintaan USD Makin Tinggi, Laju Rupiah Belum Akan Membaik
Jum'at, 23 Februari 2018 - 09:24 WIB
Permintaan USD Makin Tinggi, Laju Rupiah Belum Akan Membaik
A
A
A
JAKARTA - Pergerakan rupiah kali ini diperkirakan berada jauh di bawah target support Rp13.625/USD yang mengindikasikan masih besarnya tekanan jual terhadap rupiah. Hal tersebut disebabkan masih tingginya permintaan akan dolar Amerika Serikat (USD).
Analis Senior Binaartha Sekuritas Reza Priyambada memperkirakan, dengan masih adanya sentimen terapresiasinya USD membuat laju rupiah masih berpotensi melanjutkan pelemahannya. "Rupiah diestimasikan akan bergerak dengan kisaran di level support Rp13720/USD dan resisten Rp13670/USD," terangnya di Jakarta, Jumat (23/2/2018).
Sementara, laju rupiah kemarin belum mampu menunjukan perbaikan dimana cenderung kembali mengalami pelemahan. Masih adanya sentimen dari risalah The Fed yang menunjukan adanya keyakinan The Fed terhadap potensi kenaikan pertumbuhan ekonomi AS yang juga berimbas pada kenaikan inflasi.
Pada akhirnya, ini berimbas juga pada potensi kenaikan tingkat suku bunga Fed membuat permintaan akan USD meningkat dan pada akhirnya membuat rupiah cenderung melemah. "Sementara itu, masih minimnya sentimen moneter dari dalam negeri membuat rupiah kehilangan kesempatan untuk berbalik naik," pungkasnya.
Analis Senior Binaartha Sekuritas Reza Priyambada memperkirakan, dengan masih adanya sentimen terapresiasinya USD membuat laju rupiah masih berpotensi melanjutkan pelemahannya. "Rupiah diestimasikan akan bergerak dengan kisaran di level support Rp13720/USD dan resisten Rp13670/USD," terangnya di Jakarta, Jumat (23/2/2018).
Sementara, laju rupiah kemarin belum mampu menunjukan perbaikan dimana cenderung kembali mengalami pelemahan. Masih adanya sentimen dari risalah The Fed yang menunjukan adanya keyakinan The Fed terhadap potensi kenaikan pertumbuhan ekonomi AS yang juga berimbas pada kenaikan inflasi.
Pada akhirnya, ini berimbas juga pada potensi kenaikan tingkat suku bunga Fed membuat permintaan akan USD meningkat dan pada akhirnya membuat rupiah cenderung melemah. "Sementara itu, masih minimnya sentimen moneter dari dalam negeri membuat rupiah kehilangan kesempatan untuk berbalik naik," pungkasnya.
(akr)