BAE Systems, Penjaga Keamanan dan Penunjang Ekonomi

Jum'at, 02 Maret 2018 - 15:31 WIB
BAE Systems, Penjaga...
BAE Systems, Penjaga Keamanan dan Penunjang Ekonomi
A A A
BAE Systems plc bukan sekadar perusahaan multinasional yang bergerak dalam bidang pertahanan, keamanan, dan kedirgantaraan. Perseroan yang bermarkas di London itu juga berperan penting dalam menunjang ekonomi Inggris. BAE Systems menyediakan 130.400 pekerjaan berketerampilan tinggi.

BAE Systems merupakan perusahaan pertahanan, keamanan, dan kedirgantaraan terbesar di Inggris dan terbesar ketiga di dunia jika dilihat dari pendapatannya. Operasi terbesar mereka ada di Inggris dan Amerika Serikat (AS). Anak perusahaan BAE Systems bahkan menjadi pemasok keenam terbesar Kementerian Pertahanan AS. Pasar utama lainnya meliputi Australia, India, dan Arab Saudi yang terhitung sekitar 20% dari total penjualan BAE Systems.

BAE Systems terbentuk pada 30 November 1999 melalui merger dua perusahaan, yaitu Marconi Elec tronic Systems (elektronik) dan British Aerospace (amunisi, kapal, dan pesawat), senilai 7,7 miliar poundsterling. "Kami merupakan perusahaan yang mengirimkan produk manufaktur dan teknik tercanggih dan terbesar di dunia, serta menjaga keamanan negara, rakyat, dan infrastruktur," ujar Chairman BAE Systems Roger Carr, di situs baesystems.com. "Dampak positifnya dapat di rasakan ke seluruh kawasan," tambahnya.

Bersama 8.900 perusahaan yang menjadi rantai pasokan BAE Systems di Inggris, aktivitas BAE Systems memberikan kontribusi signifikan terhadap ekonomi nasional dan regional, sektor teknologi, dan kapabilitas sumber daya manusia (SDM). BAE Systems menciptakan pekerjaan dengan skill sangat tinggi dan inovatif. BAE Systems juga menanamkan modal dalam berbagai riset dan pembangunan, serta menyumbangkan pendapatan pajak negara.

Berdasarkan hasil penelitian Oxford Economics, operasi BAE Systems memberikan kontribusi senilai 11,1 miliar poundsterling terhadap produk domestik bruto (PDB) Inggris pada 2016 atau 0,6% dari total PDB. Selain itu, selama setahun sebelumnya, BAE Systems mengekspor barang dan jasa senilai 4,7 miliar poundsterling, setara dengan hampir 1% dari total ekspor Inggris. Hal ini sejalan dengan visi pemerintah Inggris yang ingin menaikkan pertumbuhan ekspor.

BAE Systems juga menyediakan hampir 130.400 pekerjaan full-time. Investasi BAE Systems dalam aspek pelatihan, skill, teknologi baru, dan etika bekerja juga memainkan peranan vital. "Kami juga bangga pegawai kami hampir 80% lebih produktif dibandingkan angka rata-rata nasional pada 2016. Namun, kami tidak berhenti melakukan peningkatan dan efisiensi di seluruh area operasi," kata Carr.

Sebagai perusahaan merger, BAE Systems secara otomatis sukses memproduksi sebagian besar manufaktur kapal perang, elektronik pertahanan, dan pesawat Inggris yang sangat terkenal di dunia. Perusahaan pendahulunya merupakan pengembang Comet, Harrier, radar Blue Vixen di Sea Harrier FA2s, dan radar CAPTOR Eurofighter.

British Aerospace merupakan manufaktur pesawat sipil dan militer. Perusahaan tersebut didirikan sebagai konsolidasi masif antarperusahaan pesawat Inggris pasca-Perang Dunia II. British Aerospace merupakan hasil merger British Aircraft Corporation, Hawker Siddeley Group, dan Scottish Aviation pada 29 April 1977.

Marconi Electronic Systems merupakan anak perusahaan General Electric Company yang bergerak dalam bidang pembuatan kapal dan sistem integrasi militer. Perusahaan itu sudah berdiri sejak 1897. Karya fenomenal General Electric Company meliputi teknologi canggih selama Perang Dunia II dan I, terutama sistem radar. Memasuki abad milenium, BAE Systems memfokuskan dan mengintegrasikan diri terhadap kemajuan militer, baik darat, laut, maupun udara.

BAE Systems menyatakan 2001 merupakan tahun penting bagi Eropa. Mereka juga berambisi melakukan ekspansi di AS, pasar penjualannya dua kali lipat dari negara-negara di Eropa Barat. Pada 2008, 95% dari total produk penjualan BAE Systems berkaitan dengan militer.

Mereka menjadi pembuat pesawat utama di Inggris, juga dunia. Pesawat tempur Typhoon dan bomber Tornado menjadi produk paling laris di RAF. Perusahaan itu juga merupakan mitra utama dalam program pesawat F-35 Lightning II. Pesawat jet canggih Hawk telah diekspor secara luas. Pada Juli 2006, pemerintah Inggris bahkan mengungkapkan HERTI, kendaraan udara tanpa awak yang dapat melakukan navigasi secara otomatis. BAE Systems juga memproduksi M2/M3 Bradley, AGS, M113, M109 Paladin, M777 Howitzer, Challenger II, dan sebagainya.

Seperti dilansir Reuters, BAE Systems menyatakan pendapatan mereka tahun ini kemungkinan flat mengingat produksi Typhoon dikurangi. BAE Systems akan fokus pada pembuatan kapal selam nuklir dan F-35. Sebelumnya, berdasarkan data dan pendapat para ahli, pendapatan BAE Systems diramalkan naik sekitar 2%.

Sandy Morris dari Jefferies mengatakan bahwa BAE Systems kemungkinan sedang melakukan pendekatan baru di bawah CEO Charles Woodburn. "BAE Systems cenderung melakukan kesalahan di sisi optimisme. Mungkin manajemen yang baru kurang tertarik," katanya. Pandangan serupa juga diungkapkan pakar Agency Partners.
(amm)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Diplomat Success Challenge...
Diplomat Success Challenge Siap Digelar, Total Hibah Modal Usaha Capai Rp2 Miliar
Diplomat Success Challenge...
Diplomat Success Challenge Dorong Bisnis Berkelanjutan
Diplomat Success Challenge...
Diplomat Success Challenge Gandeng Generasi Muda Kreatif
Nanang Pribadi, Mantan...
Nanang Pribadi, Mantan Sopir yang Sukses Jadi Pengusaha Sangkar Burung Bisa Gaji Karyawan Rp75 Juta per Minggu
Mantan Dubes Indonesia...
Mantan Dubes Indonesia Ungkap Pengalamannya Jadi Diplomat 'Kesasar'
Sukses Berbisnis Coffee...
Sukses Berbisnis Coffee Shop, Kang Sendi Ingin Dorong Potensi Lokal
Berita Terkini
IMF, Bank Dunia, dan...
IMF, Bank Dunia, dan IEA Ketar-ketir Kelangkaan BBM di Depan Mata
7 jam yang lalu
Lewat LinkUMKM BRI,...
Lewat LinkUMKM BRI, Zdrink Kembangkan Minuman Cokelat Instan Berbahan Kakao Khas Lampung
8 jam yang lalu
Mengulik Strategi Indonesia...
Mengulik Strategi Indonesia dalam Mengejar PLTS 100 GW, Apa yang Dibutuhkan?
9 jam yang lalu
Kisah BRILink Agen John,...
Kisah BRILink Agen John, Dorong Perekonomian Masyarakat Perbatasan RI-Papua Nugini
9 jam yang lalu
Bisnis F&B Tumbuh Pesat,...
Bisnis F&B Tumbuh Pesat, Bali Jadi Hotspot Baru Ekspansi Franchise di Indonesia
10 jam yang lalu
Petani Sawit Apresiasi...
Petani Sawit Apresiasi PKS Taat HPP di Tengah Anjloknya Harga TBS
11 jam yang lalu
Infografis
Piala Dunia 2026: Panggung...
Piala Dunia 2026: Panggung Terakhir Messi-Ronaldo dan Lahirnya Era Baru
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved